iT’s me – Saya punya seorang teman sesama mahasiswa dari Republik Kenya. Suatu hari, seluruh peserta di kelas kami diminta untuk memperkenalkan diri, lengkap dengan kewarga-negaraan dan juga tradisi-budaya di negaranya masing-masing. Kami menikmati setiap uraian (presentasi) yang didukung dengan gambar, grafik dan sesekali diselingi musik khas suatu negara.

Satu persatu, kami menggunakan waktu yang disediakan.

Di antara slide-slide yang pertontonkan oleh teman sekelas, saya tertarik pada salah satu gambar yang digunakan oleh teman dari Kenya untuk mendemonstrasikan diri dan negaranya. Ketika menceritakan hari jadi atau tanggal kemerdekaan Kenya (12 Desember 1963), dia menampilkan seorang bocah bermata tajam menatap ke depan, dengan tangan menengadah berlumur darah.

Bagi saya, gambar itu menarik.

Di depan teman-temannya yang berasal dari belasan negara yang berbeda, mahasiswa Kenya ini berbagi kisah pedih yang pernah dialami saudara-saudaranya sebangsa dan setanah-air, hidup di bawah tekanan penjajah. Dia membawa lembaran kisah itu dalam memori pribadinya, bahkan ketika dia sedang berada jauh dari tanah kelahirannya untuk studi di luar negeri.

Hal yang demikian bisa terjadi karena dua kemungkinan. Pertama, karena kecerdasan dan kepekaan perasaan yang dia miliki. Kemungkinan kedua, proses pendidikan, baik di dalam keluarga atau di sekolahnya telah berhasil mendidik kaum muda untuk meresapi perjalanan sejarah, kegigihan para pendiri negara, termasuk proses penjajahan yang menyengsarakan rakyat.

Saya melihat, mahasiswa dari Kenya ini berhasil melihat penjajahan sebagai tindakan yang bertentangan dengan kodrat kemanusiaan, sangat merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara, biadab, dan karena itu tidak boleh dibiarkan terjadi lagi di dunia.  Dia menjadikan memori pedih itu untuk memompa semangat dalam hidupnya, salah satunya dengan belajar tekun, agar tidak lagi terperangkap untuk kedua kalinya dalam ketidak-berdayaan.

Saya termenung sejenak.

Menyimak dan meresapi presentasi mahasiswa Kenya tadi, saya seakan melihat diri sendiri. Bukankah saya juga menemukan sejarah bangsa Indonesia, sebagai masyarakat yang tadinya dijajah bangsa lain, bahkan dalam durasi yang sangat lama. Maka, dalam hal ini kami memiliki nasib yang sama.

Kalaupun ada yang berbeda itu terdapat pada pemaknaan kami atas masa lalu di Negara masing-masing. Hal ini bisa dikarenakan factor informasi mengenai sejarah yang kami terima, pendidikan yang kami dapatkan di sekolah, atau memang ada kondisi lain yang sama sekali berbeda.

Dari sepenggal kejadian ini, saya kemudian tertarik untuk berbagai makna sejarah kemerdekaan kepada kaum muda di Indonesia.

Waktu tidak bisa bisa diputar kembali ke belakang. Fakta sejarah tidak bisa dihapus. Kenyataannya, sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa kita dijajah oleh bangsa lain. Selama rentang waktu kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun, ada banyak peristiwa yang dialami bangsa kita. Kerugian yang kita tanggung tidak terkira jumlahnya.

Harga diri sebagai bangsa ditenggelamkan ke dalam kobangan lumpur kehinaan. Rasa kemanusiaan kita ganti dengan status budak, bahkan binatang. Keleluasaan bertindak bangsa kita dilumpuhkan. Kedaulatan berfikir kita dipenggal.

Kita menjadi bangsa yang papah, bodoh, dan tidak percaya diri. Kita bertengkar dengan saudara sendiri, seperti anak-anak yang ditelantarkan oleh Sang Biung dan Rama. Teman kita curigai, musuh kita sahabati. Penolong kita tolak, sementara penjahat kita beri kunci pintu gudang penyimpanan makanan. Kita menjadi bangsa yang bercerai-berai dalam waktu yang cukup lama.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)