Its My Life

Menggelorakan Nasionalisme dengan Sejarah Kemerdekaan

oleh Ali Romdhoni

11 August 2017

iT’s me – Saya punya seorang teman sesama mahasiswa dari Republik Kenya. Suatu hari, seluruh peserta di kelas kami diminta untuk memperkenalkan diri, lengkap dengan kewarga-negaraan dan juga tradisi-budaya di negaranya masing-masing. Kami menikmati setiap uraian (presentasi) yang didukung dengan gambar, grafik dan sesekali diselingi musik khas suatu negara.

Satu persatu, kami menggunakan waktu yang disediakan.

Di antara slide-slide yang pertontonkan oleh teman sekelas, saya tertarik pada salah satu gambar yang digunakan oleh teman dari Kenya untuk mendemonstrasikan diri dan negaranya. Ketika menceritakan hari jadi atau tanggal kemerdekaan Kenya (12 Desember 1963), dia menampilkan seorang bocah bermata tajam menatap ke depan, dengan tangan menengadah berlumur darah.

Bagi saya, gambar itu menarik.

Di depan teman-temannya yang berasal dari belasan negara yang berbeda, mahasiswa Kenya ini berbagi kisah pedih yang pernah dialami saudara-saudaranya sebangsa dan setanah-air, hidup di bawah tekanan penjajah. Dia membawa lembaran kisah itu dalam memori pribadinya, bahkan ketika dia sedang berada jauh dari tanah kelahirannya untuk studi di luar negeri.

Hal yang demikian bisa terjadi karena dua kemungkinan. Pertama, karena kecerdasan dan kepekaan perasaan yang dia miliki. Kemungkinan kedua, proses pendidikan, baik di dalam keluarga atau di sekolahnya telah berhasil mendidik kaum muda untuk meresapi perjalanan sejarah, kegigihan para pendiri negara, termasuk proses penjajahan yang menyengsarakan rakyat.

Saya melihat, mahasiswa dari Kenya ini berhasil melihat penjajahan sebagai tindakan yang bertentangan dengan kodrat kemanusiaan, sangat merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara, biadab, dan karena itu tidak boleh dibiarkan terjadi lagi di dunia.  Dia menjadikan memori pedih itu untuk memompa semangat dalam hidupnya, salah satunya dengan belajar tekun, agar tidak lagi terperangkap untuk kedua kalinya dalam ketidak-berdayaan.

Saya termenung sejenak.

Menyimak dan meresapi presentasi mahasiswa Kenya tadi, saya seakan melihat diri sendiri. Bukankah saya juga menemukan sejarah bangsa Indonesia, sebagai masyarakat yang tadinya dijajah bangsa lain, bahkan dalam durasi yang sangat lama. Maka, dalam hal ini kami memiliki nasib yang sama.

Kalaupun ada yang berbeda itu terdapat pada pemaknaan kami atas masa lalu di Negara masing-masing. Hal ini bisa dikarenakan factor informasi mengenai sejarah yang kami terima, pendidikan yang kami dapatkan di sekolah, atau memang ada kondisi lain yang sama sekali berbeda.

Dari sepenggal kejadian ini, saya kemudian tertarik untuk berbagai makna sejarah kemerdekaan kepada kaum muda di Indonesia.

Waktu tidak bisa bisa diputar kembali ke belakang. Fakta sejarah tidak bisa dihapus. Kenyataannya, sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa kita dijajah oleh bangsa lain. Selama rentang waktu kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun, ada banyak peristiwa yang dialami bangsa kita. Kerugian yang kita tanggung tidak terkira jumlahnya.

Harga diri sebagai bangsa ditenggelamkan ke dalam kobangan lumpur kehinaan. Rasa kemanusiaan kita ganti dengan status budak, bahkan binatang. Keleluasaan bertindak bangsa kita dilumpuhkan. Kedaulatan berfikir kita dipenggal.

Kita menjadi bangsa yang papah, bodoh, dan tidak percaya diri. Kita bertengkar dengan saudara sendiri, seperti anak-anak yang ditelantarkan oleh Sang Biung dan Rama. Teman kita curigai, musuh kita sahabati. Penolong kita tolak, sementara penjahat kita beri kunci pintu gudang penyimpanan makanan. Kita menjadi bangsa yang bercerai-berai dalam waktu yang cukup lama.

Lalu bagaimana kita mengambil sikap dengan semua itu.

Apakah kita akan mengutuk peristiwa dan para pelaku kebiadabannya, ah…, tidak menyelesaikan masalah.

Bila melupakannya, akan semakin jelas keliru.

Kita tidak usah terlalu lama mengutuk peristiwa penjajahan. Hal yang lebih penting adalah melihat tragedi itu dengan rasional dan perasaan lapang dada.

Peristiwa kelam di masa lalu, bila kita menyikapinya dengan cerdas dan arif akan bisa menjadi anugerah yang besar manfaatnya. Maka, biarkanlah peristiwa pedih itu meninggalkan bekas luka pada hati dan fikiran segenap bangsa Indonesia. Tetapi, kita jangan berhenti hanya sampai di sini.

Kita harus bisa mengolahnya menjadi sumber energi untuk memompa semangat kita. Biarkan perisitwa sejarah bangsa Indonesia dan upaya para pejuang untuk merebut kemerdekaan terus hidup dalam hati dan fikiran kita. Tetapi, pastikan bahwa ke depan kita tidak akan kembali terperangkap dalam kobangan masalah yang sama, untuk kedua kalinya.

Kemelaratan nenek-moyang bangsa Indonesia yang berjuang dengan keringat, darah dan air mata untuk kemuliaan anak cucu di masa yang akan datang akan menjadi energi abadi. Bila generasi muda saat ini bisa menyerap penderitaan orang-orang terdahulu, maka mereka akan memiliki ketangguhan mental dalam belajar, bekerja dan selanjutnya mengabdi untuk negerinya.

Bila hal ini bisa dilakukan, ke depan akan tumbuh generasi yang menghargai jerih payah orang lain, bermental mandiri dan tidak mudah mengorbankan saudaranya demi untuk meraih ambisi pribadinya. Di sini dibutuhkan bimbingan dan strategi dari para bijak-bestari agar anak-anak muda bisa menyerap energi sejarah kemerdekaan.

Selanjutnya, menumbuhkan kemandirian mental generasi muda juga menjadi kebutuhan mendesak. Lahirnya mental-mental penyembah penjajah ketimbang mendukung perjuangan bangsa sendiri merupakan penyakit paling berbahaya akibat penjajahan.

Sayangnya, di tengah masyarakat kita, sejarah menjadi  sumber informasi yang kabur. Pemaknaannya pun selalu berubah-rubah. Hal sekaligus akan menjadi tantangan tersendiri bagi kita, kaum muda.

Dirgahayu Republik Indonesia-ku, semoga semakin jaya dan senantiasa mejadi rumah besar bangsaku. Merdeka…!

 

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni