iT’s me – Jujur saja, setiap mendengar peristiwa penyerangan rumah ibadah, aparat kepolisian, dan berbagai tindak teror lainnya, saya berharap bahwa nama yang diungkap sebagai pelaku bukanlah seorang yang beragama islam. Namun, lagi-lagi kadang harapan saya musnah karena faktanya memang pelakunya adalah kebanyakan seorang muslim. Tentunya ini bukan berarti menggeneralisasikan bahwa semua pelaku teror adalah sudah pasti seorang islam karena ada juga pelaku teror yang beragama lain.

Tentu masih jelas dalam ingatan kita beberapa peristiwa intoleran yang terjadi dalam beberapa pekan belakangan ini, diantaranya yang masih segar dalam sorotan media saat ini yakni penyerangan Gereja Lidwina di Bedog, Sleman. Sebelumnya, ada juga penganiayaan terhadap Ustaz Prawoto Komando Brigade PP Persis, Penganiayaan yang dialami KH Umar Basri pimpinan Ponpes Al-Hidayah Cicalengka, persekusi biksu di Tangerang, dan bakti sosial yang dibatalkan secara paksa di gereja Yogyakarta.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah mengapa masih saja terjadi peristiwa intoleran seperti itu? Mengapa masih ada saja oknum di pemeluk agama ini yang tega mencedrai agamanya sendiri? Bukankah agama islam itu sendiri adalah agama toleran, agama penuh damai, agama yang rahmatanlilalamin, agama yang membawa rahmat bagi segala alam?

Memang tak bisa disangkal bahwa tindakan keji dan menyimpang seperti itu bukan lahir begitu saja dari niat pelakunya tapi dari pengajaran paham yang keliru oleh golongan tertentu yang memandang agamanya secara fundamental.

Secara umum kita mengenal tiga kenyataan sikap dalam pandangan beragama. Pertama, Pandangan Eksklusif yaitu sebuah pandangan bahwa tidak ada rahmat di luar agama tertentu. Hanya agamanya yang benar dan keselamatan hanya ada dalam agamanya, diluar dari itu tidak ada keselamatan. Kedua, pandangan Inklusif yaitu Sebuah pandangan bahwa rahmat selalu tersedia pada agama tertentu, namun jangkauan rahmatannya meluas sampai pada pemeluk agama lain pada berbagai tingkat yang beragam. Ketiga, Pandangan Pluralisme yaitu sebuah pandangan bahwa semua agama sahih dan benar.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengeksplorasi Pandangan Inklusif, bukan Pluralisme, pandangan inklusif yang dibandingkan dengan pandangan eksklusif. Mari kita telusuri sekilas latar belakang perkembangan pandangan-pandangan tersebut dalam konteks agama-agama samawi.

Pertama: Latar Belakang pandangan Yahudi (Zaman Nabi Isa)
Pandangan Ekslusif: Pada suatu hari, yaitu hari Sabat, Isa dan para pengikut-Nya melewati ladang-ladang gandum. Karena merasa lapar, para pengikut-Nya memetik bulir-bulir gandum serta memakannya. Hal itu terlihat oleh orang-orang dari mazhab Farisi. Lalu kata mereka kepada-Nya, “Lihat, para pengikut-Mu berbuat sesuatu yang haram dilakukan pada hari Sabat.” Mat 12:1-2… “Mengapa para pengikut-Mu melanggar ajaran yang diwariskan para tua-tua terdahulu? Mereka tidak membasuh tangan ketika hendak makan.” Mat 15:1-2
Pandangan Inklusif: Lalu Isa bersabda lagi kepada mereka, “Hari Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.

“Karena dari hati keluar pikiran-pikiran yang jahat: Pembunuhan, percabulan, perzinaan, pencurian, saksi dusta, dan hujahan. Hal-hal itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”

Kedua: Latar Belakang Permulaan Pandangan Umat Kristen: 
Pandangan Ekslusif: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.  (Kitab Al Injil Surah Kisah Para Hawaariyuun 10:28)

Pandangan Inklusif: Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang” (Kitab Al Injil Surah Kisah Para Hawaariyuun 10:34)



Mr Ben

Mr Ben

Pekerja Sosial dan Pegiat Media
Kepala Divisi Media Yayasan Hidayah Bangsa
Direktur Utama Fokus Media Group
(PT Internasional Fokus Media, PT Radio Fokus Media Lombok, PT Radio Fokus Media Gorontalo) Komisaris PT Radio Swara panua
Mr Ben