iT’s me – Seorang bapak satu anak enggan mudik dari kota perantauan. Baju baru yang ingin dihadiahkan buat anak semata-wayang ketika lebaran belum juga dia dapatkan. Proyek yang dia kerjakan bangkrut. Sementara pihak kontraktor mencari aman, telah lebih dulu menghilang.

Laki-laki berumur tiga puluh empat tahun ini bingung harus bagaimana. Padahal seminggu lagi tiba hari lebaran. Untuk pulang kampung, dia merasa tidak mempunyai alasan. Jangankan membawa uang belanja keluarga menjelang lebaran, sekedar buah tangan untuk isteri dan puteri satu-satunya saja tidak ada.

Maka, kabar menjelang datangnya hari lebaran dia rasakan sebagai himpitan beban hidup. Dia merasa upaya yang sudah dia lakukan selama hampir delapan tahun sejak berkeluarga sia-sia, gara-gara lebaran tahun ini gagal membahagiankan keluarga kecilnya.

Iya, begitulah arti hari lebaran bagi sebagian besar masyarakat kita. Hari-hari lebaran itu begitu penting, mengalahkan hari-hari sebelumnya dan juga bulan-bulan sesudahnya. Tidak peduli nanti, yang penting di hari (lebaran) ini semuanya harus kelihatan bisa seperti ‘yang lain’.

Apakah Anda juga pernah menghadapi kondisi yang serupa dengan gambaran di atas. Saya sendiri tidak ingat persis, tetapi rasanya pernah. Meskipun, akhirnya saya bisa melewati tantangan menghadapi hiruk-pikuk menjelang lebaran.

Saya juga pernah mencoba menggunakan akal sehat saya, untuk sekedar mengontrol diri dan orang-orang terdekat supaya tidak terlalu larut dengan pola pikir yang hidup di tengah masyarakat. Saya, misalnya, pernah berusaha mengajak bicara isteri dari hati ke hati.

Saya menjelaskan bahwa kita memiliki pergaulan yang cukup luas. Dalam setahun, tidak satu atau dua kali memiliki acara dan menghadiri acara. Selama itu, kita juga mempersiapkan dengan baik kostum yang akan kita kenakan.

Artinya, kalau hanya masalah untuk membeli baju yang pantas dipakai, bagi kebanyakan orang sekarang ini, mereka tidak menunggu hari lebaran. Tetapi memang tidak mudah menawarkan cara berfikir yang seperti ini.

Kita dan keluarga hidup di tengah-tengah masyarakat, dengan segala tradisi dan nilai yang hidup di dalamnya. Kita bisa saja menggenggam erat kesadaran cara berfikir orang-orang yang kita kasihi. Tetapi, pada setiap saat selalu ada celah keinginan untuk mengikuti arus orang banyak.

Akhirnya kita pun menyerah. Bagaimanapun, hari lebaran akan mengundang datangnya kebutuhan yang nilainya lebih besar dibandingkan dengan hari-hari lain. Saya kemudian teringat dengan satu nasehat dari ajaran agama (Islam) yang bijak, terkait dengan kesiapan menghadapi lebaran:

Laisal ‘Id, liman labisal jadid. Wa lakinal ‘Id, liman tha’atuhu taziz. Artinya, hari lebaran (Idul Fitri) itu bukan milik orang-orang yang mempunyai baju baru dan berbagai materi lainya. Tetapi, sesungguhnya lebaran itu hanya dimiliki oleh para hamba yang senantiasa membangun kedekatan dengan Tuhannya.

Melihat nasehat di atas, agaknya sudah sejak lama masyarakat muslim merayakan lebaran dengan dibarengi naiknya daftar belanja. Kalau tidak, maka tidak aka nada pesan dan nasehat di atas, bukan.

Bila demikian, memang sudah menjadi naluri orang banyak bahwa berlebaran berarti berbusana baru dengan segala pernak-pernik yang mengiringi. Ini ada baiknya, karena itu tidak perlu kita tolak seluruhnya. Hanya saja, jangan sampai keinginan untuk merayakan lebaran membuat diri kita kalap.

Bukankah masih ada hari esok yang panjang dan membutuhkan bekal besar. Toh, kemarin-kemarin kita juga sudah pernah menikmati pencapaian dalam perjalanan karir kita.

Maka, pesan bagi yang saat ini belum memiliki bekal melimpah dalam menghadapi lebaran, tetaplah bersyukur. Hal ini tidak berarti kegagalan. Sementara bagi yang saat ini memiliki karunia berlebih, maka tetaplah bijaksana dalam menjalani hari-hari menjelang hingga pasca lebaran nanti.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia
Mahasiswa S3 Heilongjiang University, China
Penulis buku antara lain: 9 Sumber Kecerdasan dan Kebijaksanaan (Jakarta: Penerbit Baca, 2016); Al-Qur’an dan Literasi: Sejarah Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman (Jakarta: Linus, 2012).
Ali Romdhoni