Its My Life

Membentengi Indonesia dengan Generasi Muda

oleh Ali Romdhoni

2 June 2017

iT’s me – Saya mengetahui betapa luas wilayah Indonesia setelah bertemu dengan anak-anak dari berbagai pulau di negeri ini. Saya mengenal keragaman di negeri ini setelah berjumpa dengan aneka budaya-masyarakat di Indonesia. Pengetahuan bahwa “aku adalah anak Indonesia” saya dapatkan ketika kuliah di perguruan tinggi. Bangku perkuliahan telah memungkinkan saya berdialog dengan sesama anak bangsa.

Sebelum kuliah saya memang sudah mendengar kata ‘Indonesia’. Saya juga sudah mengetahui bendera merah putih, lagu kebangsaan dan nama-nama pulau mulai dari Sabang hingga Merauke. Tetapi saya belum merasa sebagai anak Indonesia. Saat itu saya hanya berfikir sebagai anak desa, atau paling jauh merasa sebagai anak daerah (kabupaten).

Kondisi itu berbeda ketika saya mulai mendapat pendidikan di perguruan tinggi. Saat itu saya mulai mendengar tentang kekayaan yang dimiliki negara Indonesia, dan bagaimana cara merawatnya. Sebagai mahasiswa baru, setiap hari kami di-gembleng agar kelak menjadi manusia yang peduli terhadap kondisi yang terjadi di masyarakat.

Para senior di kampus juga mengajari kami, mahasiswa baru, cara berdemonstrasi. Cara menyampaikan kritik terhadap para elit di pemerintahan. Ketika itulah, pelan-pelan saya mulai merasa menjadi anak Indonesia.

Sebagai anak muda yang merasa ikut memiliki negeri ini, saat itu saya bersemangat ikut andil dalam menghadirkan tatanan yang lebih baik. Semangat itu, biasanya, kami ekspresikan dengan menyampaikan ide hingga yang ‘aneh-aneh’ dan mengkritik setiap kebijakan yang menurut kami kurang tepat. Iya, dalam pengalaman saya, mahasiswa memikirkan hal-hal yang dia sendiri belum pernah mengalaminya.

Maka, ketika saya menonton video di media sosial tentang mahasiswa yang berkumpul kemudian bersumpah setia bukan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, misalnya, saya tidak begitu kaget. Itulah dunia mahasiswa. Sekelompok anak muda yang memiliki semangat, pengetahuan dan kegelisahan terhadap realitas sosial.

Saya menandai, arah berfikir mahasiswa di Indonesia akan mengikuti figur yang mereka kagumi. Mereka adalah yang bisa menjaga intensitas komunikasi dengan mahasiswa. Mereka ini tidak otomatis para dosen, tetapi bisa kaum akademis di luar kampus seperti wartawan, aktivis sosial hingga ‘makelar’.

Tetapi, buru-buru saya ingatkan, jangan sepelekan kegelisahan aktivis mahasiswa. Sebagaimana kita ketahui, hampir setiap suksesi kepemimpinan nasional dan peristiwa penting di Indonesia selalu melibatkan mahasiswa. Mulai dari mundurnya Presiden Sukarno, mundurnya Presiden Suharto, hingga lengsernya Gus Dur semuanya melibatkan gerakan mahasiswa. Atau dengan kata lain, mahasiswa sering digerakkan untuk menggelindingkan roda peristiwa besar.

Saya pernah mendengar penuturan pakar filsafat Jawa, almarhum Professor Damardjati Supadjar tentang analogi peran penting mahasiswa. Geger suksesi kepemimpinan di Kadipaten Tumapel (Kediri) hingga berdirinya Kerajaan Singasari tidak bisa dipisahkan dari pengaruh pusaka legendaris, Keris Empu Gandring. Keris sakti pesanan Ken Arok yang kelak digunakan untuk menghabisi Adipati Tunggul Ametung.

Dengan keris yang sama pula, Ken Arok dan beberapa raja penerusnya kelak akan tewas dan terpaksa mengakhiri kekuasaannya sebagai raja. Hari ini, menurut Damardjati Supadjar, mahasiswa ibarat keris sakti ciptaan Empu Gandring itu. Bila tidak dirawat dengan baik, kekuatan mahasiswa bisa digunakan oleh orang-orang tertentu untuk mencapai kekuasaan.

Mengapa bisa demikian, karena mahasiswa adalah kumpulan anak muda yang memiliki semangat, idealisme dan pengetahuan moderen. Mereka masih minim pengalaman, relatif tidak punya kepentingan jangka panjang, dan karena itu mereka rawan ditunggangi pihak tertentu. Maka dari itu, jangan remehkan kegelisahan kaum aktivis mahasiswa.

Mengenai hal ini, yang paling penting jangan sampai jantung pertahanan generasi muda kita dikuasai para musuh NKRI. Kepada mahasiswa, saya selalu menyampaikan pesan moral, tentang kesiapan untuk melanjutkan kepemimpinan nasional di segala level. Karena menurut hemat saya, kaum intelektual adalah yang paling beralasan untuk menjadi generasi terbaik bangsa ini, yang kelak akan meneruskan roda kepemimpinan nasional.

Maka, mosi tidak percaya terhadap dasar negara Indonesia yang keluar dari kaum terdidik di lembaga pendidikan nasional, ini seakan menegaskan bahwa tidak ada hakim garis dalam kancah pertarungan gagasan di Indonesia. Lalu siapa yang paling bertanggung-jawab terhadap hal ini. Menurut saya adalah pemerintah, melalui pimpinan di lembaga pendidikan terkait.

Pemerintah bersama dengan seluruh elemen bangsa Indonesia harus bersama-sama membersihkan setiap tindakan yang mengancam keutuhan bangsa, dengan niat yang bersih. Di sini, kuncinya adalah ketulusan niat untuk menyelamatkan negara, bukan politisasi apa lagi pencitraan.

Adakah pihak lain di luar pemerintah yang bisa menumpas para perusuh keharmonisan negara. Jawabannya, tentu ada, yaitu segenap masyarakat Indonesia. Saya juga melihat semangat menggelora dari ormas seperti Barisan Anshor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser), yang sejak awal menyatakan diri siap berada di barisan depan dalam menjaga NKRI. Sikap seperti ini perlu mendapat apresiasi.

Tetapi, kalau elemen masyarakat yang turun langsung untuk memangkas benalu yang menjalar di tubuh negara, maka kondisi akan berbeda. Kita akan menyaksikan benturan dua kelompok masyarakat. Bila ini terjadi, pemerintah telah merelakan ada dua kelompok bangsanya yang bertarung.

Mari kita melihat dan belajar dengan masa lalu. Catatan sejarah menginformasikan, Banser (1960-an) juga sudah pernah membendung gerakan partai yang berusaha menumbangkan NKRI. Saat itu, Banser adalah kumpulan pemuda Nahdliyyin yang memiliki idealisme dan wawasan nasionalisme.

Mereka bersatu kemudian terpanggil untuk menyelamatkan Negara yang terancam. Keputusan Banser ini jelas tindakan mulia. Namun, karena peristiwa ini, Banser harus menanggung beban sejarah. Pada masa-masa setelahnya, generasi dari kedua pihak mewarisi cerita dari para pendahulunya yang tidak harmonis. Kondisi yang demikian tentu perlu diantisipasi untuk tidak terulang kembali.

Saya mengajak kepada para pendidik untuk lebih jeli mengamati anak didiknya. Jangan membiarkan mereka menyeberang, bergabung dengan para perusuh ketenangan bangsa Indonesia. Bukan pendidik, kalau tidak prihatin dengan kondisi ini.

Kepada kaum muda dan teman-teman mahasiswa, hendaklah mawas diri dengan setiap wacana baru. Langkah paling dekat adalah mendiskusikan kegelisahan kita dengan dosen atau orang-orang terdekat kita. Biasanya, wacana eksklusif mengarahkan anak-anak muda untuk menutup diri dari publik. Mereka melakukan kaderisasi secara tertutup.

Mari mempertahankan Indonesia!

 

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni