Its My Faith

Memaknai Masjid

oleh Ali Romdhoni

7 May 2017

iT’s me – Masjid telah mempertemukan kami, umat Islam dari berbagai suku, strata-sosial dan negara. Di Harbin, China, hampir bisa dipastikan setiap hari Jumat kami bertemu dengan sesama mahasiswa asing dari berbagai universitas maupun imigran muslim lainnya. Terkadang, meski tanpa lebih dulu memperkenalkan diri, kami segera disambut dengan ucapan salam.

Iya, masjid seakan membukakan identitas kami, meyakinkan kepada audiens bahwa kita adalah pribadi yang merindukan persaudaraan. Di masjid, setiap pribadi adalah orang-orang yang bersaksi atas kekuasaan Tuhan. Di masjid, para jamaah adalah musafir yang berteduh dari ganasnya cuaca alam raya, sembari menyebut Sang Pencipta. Demikianlah makna masjid bagi umat Islam pendatang di negeri seberang, China.

Di Harbin, sampai hari ini saya baru menjumpai dua masjid yang lokasinya cukup dekat dengan area kampus saya, yaitu Masjid Xiangfang dan Masjid Taipingqiao. Untuk sampai di Masjid Xiangfang, dari tempat tinggal saya membutuhkan waktu perjalanan sekitar tiga puluh menit, dengan melewati dua belas pemberhentian (zhan atau halte) bus.

Masjid lain yang juga sering saya gunakan untuk menunaikan jamaah shalat Jumat adalah Taipingqiao. Untuk bisa sampai di masjid ini saya harus menempuh perjalanan sekitar tiga puluh lima menit dengan menggunakan Subway (kereta api di bawah tanah), dengan melewati sebelas stasiun pemberhentian (zhan).

Melalui tulisan ini saya bermaksud mendeskripsikan makna masjid bagi umat Islam di negeri China, khususnya dalam perspektif kelompok minoritas pendatang. Secara spesifik, tulisan ini mengambil latar pengamatan di Masjid Taipingqiao dan Xiangfang. Kedua masjid ini berada di Kota Harbin, di Provinsi Heilongjiang, China. Harbin sendiri merupakan ibu kota Provinsi Heilongjiang.

Dalam pengamatan saya, di Harbin, masjid merupakan satu-satunya tempat yang menjadi pusat kegiatan keislaman. Bila di Indonesia, misalnya, kita bisa melihat ekspresi keberagamaan di perkampungan, di masjid, di sekolah, di pusat belanja, di kantor dan tempat lainnya, maka di Habin hal itu hanya mungkin terjadi di masjid. Jelasnya, hanya di area masjid kita bisa menemukan kegiatan keislaman secara kolektif.

Hal ini terjadi karena Islam di China, khususnya di Kota Harbin merupakan hal yang langka. Umat Islam di China bisa dikatakan sebagai kaum minoritas, bila dilihat dari jumlah total penduduk Negeri Tirai Bambu itu.

Berdasarkan data yang dilansir www.globalreligiousfutures.org, pasca tahun 2010 jumlah umat Islam di China sebanyak 1,8 persen dari total populasi penduduk (1.341.340.000). Dari jumlah di atas, Harbin tidak termasuk dalam kawasan basis pemeluk Islam.

Hingga di sini menjadi jelas, karena umat Islam merupakan kelompok minoritas, ekspresi keislaman masih sangat terbatas dan terjadi hanya di tempat-tempat khusus, seperti masjid. Tetapi, justru karena kondisi yang demikian, umat Islam memiliki perasaan khusus terhadap rumah ibadah itu. Ada semacam kerinduan yang sangat serius terhadap ‘baitullah’ itu. Umat Islam dalam kondisi yang demikian rela menempuh perjalanan hampir satu jam untuk menuju masjid. Luar biasa, bukan?

Berikut ini adalah pengamatan saya terhadap keunikan fungsi masjid di Kota Harbin

Pertama, masjid telah menjadi wadah bagi jalinan silaturahim umat Islam antar suku, bangsa dan negara. Di masjid, dua orang muslim yang semula tidak saling mengenal bisa saja langsung memiliki keakraban yang melebihi akrabnya sepasang kakak dan adiknya, atau dua sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.

Kedua, masjid menjadi pusat bagi pengenalan (dakwah) keislaman. Baru-baru ini, misalnya, di Masjid Xiangfang digelar prosesi akad nikah sekaligus pesta perayaannya. Dua sejoli yang berlainan negara telah mengikat janji untuk bersama-sama dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Dengan disaksikan ratusan pasang mata, mereka membaca syahadat dan saling berjanji setia. Mempelai wanita merupakan mahasiswi berkebangsaan Rusia, yang juga seorang muallaf.

Ketiga, masjid menjadi pusat pendidikan keislaman. Terkait hal ini, saya menemukan tradisi khas di masjid Xiangfang danTaipingqiao menjelang shalat jamaah Jumat. Biasanya, sebelum khutbah disampaikan seorang khatib (pengkhutbah), terlebih dahulu ada ceramah agama. Durasinya sekitar satu hingga dua jam. Setelah itu baru dikumandangkan adzan, dan berlanjut prosesi shalat Jumat.

Dalam pemikiran saya, pemisahan antara ceramah keagamaan dan khutbah Jumat yang dilaksanakan setelahnya adalah langkah bijak. Dua khutbah merupakan syarat syah dan rukun dalam shalat Jumat. Khutbah di sini juga memiliki aturan yang ketat, temasuk terkait materi yang disampaikan.

Di sisi lain, umat Islam di Harbin membutuhkan banyak informasi mengenai ajaran Islam dan wawasan sosio-historis umat Islam di dunia. Supaya tidak terjadi penyampaian materi yang tidak perlu dalam khutbah Jumat, maka ceramah agama Islam diberi space waktu tersendiri, di luar khutbah Jumat.

Pemandangan lain yang juga membuat saya berfikir adalah rasa ikhlas dan percaya diri para pemuka umat Islam di China. Meskipun mayoritas jamaah di dua masjid di atas adalah para mahasiswa dari berbagai negara, termasuk dari kawasan Timur Tengah, tapi mereka teguh menyelenggarakan praktek keagamaan dengan seluruh kemampuan mereka.

Dengan tujuan sebagai pembelajaran, saya perlu menuliskan di sini. Saya mengamati, ketika para imam membacakan Quran makhraj dan seni tilawahnya syarat dengan pronunciation dan langgam khas China. Meskipun begitu, toh, mereka tetap berjalan dan berproses dengan lancar.

Apa arti dari sikap yang demikian, dalam berproses menjadi lebih baik kita harus bertahan sebagai diri sendiri. Bangsa Indonesia perlu melihat kembali sikap teguh dari para pendahulu, yang tidak mudah terpesona dengan barang asing yang datang dari luar.

Maka, maraknya dai-dai baru dengan ceramahnya tiba-tiba pangkling (tidak mengerti; tidak mengenali) terhadap seluruh keluhuran budi dan budaya orang Indonesia perlu menjadi renungan bersama. Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni