iT’s Me- Agama Ibrahim yang terdiri dari yahudi, kristen, dan islam secara garis besar menetapkan doktrin satu kemanusiaan sebagai landasan pertama dari segala pandangan dunianya. Oleh karena itu, bagi agama Ibrahim, nyawa manusia ialah sakral. Bahkan, sebenarnya nyawa hewan juga, sehingga ketika manusia boleh makan hewan, ada aturan yang ketat mengenai ini terutama dalam larangan memakan darahnya. Agama Ibrahim saya sebut sudah lama ada bersama agama adat lain karena menyadari evolusi manusia dari pemakan buah/kacang kepada pemakan sayuran kepada juga pemakan hewan. Namun, ia melakukan diferensiasi dalam tahapan manusia juga mulai makan hewan.

Dalam agama pagan, manusia ialah hamba-hamba bagi dewa dan dewi, dimana banyak mitos mengenai dewa atau dewi yang malas atau lelah mengurus dunia, dan menciptakan manusia untuk mengurusnya.

Agama Ibrahim meletakkan manusia sejak semula ialah sakral dengan ‘notion’: ia diciptakan menurut gambar rupa Allah. Sebagai konsekuensi dari semua ini, maka kita akan mengerti mengapa manusia menjadi khalifah di muka bumi, mengapa ia memiliki kehendak bebas, dan mengapa ia harus bertanggungjawab dalam segala hak serta priveledge-nya sebagai manusia, yang dengan kata lain manusia memiliki kewajiban moral oleh karena dirinya sesungguhnya ialah ?allah? kecil.

[Saya pikir inilah sebabnya konon wahyu pertama kepada Muhammad ialah iqra, daraskanlah tentang penciptaan manusia dari segumpal darah]

Dengan meyakini bahwa tauhid atau unitarian ialah doktrin mengenai satu kemanusiaan ? sebab semua manusia seluruhnya berasal dari Tuhan YME dan merupakan khalifah-Nya di muka bumi ? maka sebagai konsekuensinya:

1.Semua pembunuhan dipandang sebagai kejahatan luar biasa yang hukumnya pun harus sangat luar biasa . Dalam Kejadian, misalnya untuk menjelaskan ini, setelah membunuh Abel, Kabil atau Kain ditanyai Allah mana saudaramu Abel, dia menjawab tak tahu, ?emangnya gue pengasuhnya?. Cerita ini ialah simbolisasi, bahwa manusia memang ialah pelindung dan pengasuh sesama manusia lain, sebagai saudaranya sendiri.

2.Kesetaraan manusia melampaui jenis kelamin, warna kulit, agama, bahasa, bangsa, dan bahkan orientasi seksual.

Adalah keliru menganggap bahwa agama Ibrahim sebagai agama adat memberi porsi keistimewaan kepada bani israil, lelaki dan orientasi heteroksual meskipun akan mengesankan demikian dalam Alkitab. Ini adalah perkembangan berikutnya.

Namun, pengkajian yang hati-hati akan membawa kita menemukan bahwa mereka berupaya di tengah masyarakat dimana mereka hidup untuk mensakralkan manusia secara egaliter dan setara. Penentangan mereka terhadap agama lain, bangsa lain, orientasi seksual tertentu, dan gender tertentu bukanlah karena agama, bangsa, orientasi seks atau gender yang berbeda melainkan karena moralitas mereka yang biadab dan merusak dunia sehingga menimbulkan banyak bencana.

Upaya-upaya agama adat Ibrahim saya pikir juga ialah upaya untuk menjawab berbagai persoalan dalam masyarakat-masyarakat adat patriarkat yang mereka alami. Dan, sebagai bangsa nomadik, yang secara konstan suka merantau, mereka terdidik untuk selalu menerapkan prinisip Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, namun tetap dengan integritas mengutamakan moralitas atau akhlak, dan mensakralkan (jiwa) manusia.

3.Bagi agama Ibrahim, suatu kebiadaban seorang manusia dapat berefek samping kepada seluruh kemanusiaan ? dan alam sekitarnya. Karena itu, secara kolektif manusia harus mengakhiri kezaliman itu, atau secara kolektif mereka akan terimbas pula efeknya.

Dapat dikatakan, agama Ibrahim meyakini ?Butterfly effect?, dimana karena seorang manusia menebang sebuah pohon, dapat menyebabkan rentetan akibat di belahan dunia lainnya.



Latest posts by arpan (see all)