Its My Family

Melawan Ketakutan Dari Kematian Yang mengerikan

oleh arpan

1 March 2018

iT’s Me- Ketakutan ini bermula saat aku dalam penerbangan dari penang Malaysia kembali ke Jakarta. Kebanyakan orang lebih memilih mengunakan transportasi udara alias pesawat jika ingin berpergian keluar kota atau keluar negri. Karena dengan pesawat kita bisa sampai dengan cepat di banding transportasi lainnya. Berpergian menggunakan pesawat sudah menjadi sesuatu hal yang keren meskipun kelasnya ekonomi. Saat cuaca baik maka kita dapat benar-benar menikmati penerbangan tersebut. Seperti kata pramugari sesaat sebelum pesawat lepas landas “Selamat menikmati penerbangan ini, bersama itsme air”. Banyak hal yang bisa terjadi di pesawat, seperti keributan penumpang yang baru pertama sekali naik pesawat, penumpang yang jail dan susah di atur. Kejadian lainnya adalah masalah teknis pesawat tersebut, seperti oprasional bahkan sampai kerusakan mesin. Tetapi ada satu hal yang kadang membuat banyak orang trauma naik pesawat, dan aku adalah salah satunya.

Saat masih bujangan, aku sangat menikmati penerbangan menggunakan pesawat, dari pertama kali naik pesawat, kemudian ketagihan hingga aku benar-benar bosan dalam pesawat. Selama aku berpergian dengan pesawat, tidak hanya sekali aku mengalami peristiwa menegangkan, mengkhawatirkan bahkan mengerikan, tetapi berkali-kali. Jika di hitung selama hampir puluhan kali aku berpergian dengan transportasi udara mungkin hanya tiga kali aku benar-benar dapat menikmati penerbangan tersebut, tenang tanpa guncangan. Selebihnya cukup menegangkan walaupun masih diambang kewajaran. Selain masalah teknis, bagi banyak orang cuaca adalah penyebab terjadi ketakutan saat di dalam pesawat. Karena cuaca bisa berubah dengan seketika, meskipun pihak pernerbangan telah memprediksikan bahwa cuaca selama pernebangan cerah tetapi hal tersebut tidak  menjamin seratus persen bahwa penerbangan akan baik-baik saja.

Kebanyakan kecelakaan pesawat terjadi karena cuaca yang sangat buruk, meskipun dalam beberapa kasus tidak sampai menelan korban, namun ada juga yang benar-benar hilang dan hancur di telan bumi. Pengalaman terburuk menggunakan transportasi udara adalah saat pesawat yang aku tumpangi mendarat di bandara soekarno hatta, dari penang Malaysia. Waktu itu pesawat benar-benar terguncang, pikiranku rumit tidak karuan. Setelah kejadian itu aku mulai trauma terbang menggunakan pesawat, sampai aku menikah trauma itu belum hilang. Bahkan trauma semakain menjadi-jadi saat aku sudah memiliki anak. Hal-hal mengerikan selalu meuncul dalam pikiran, beberapa kali aku terpaksa membatalkan kesempatan keluar daerah karena ketakutan masih membelenggu pikiranku. Aku selalu berpikir bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, sedangkan aku memiliki anak dan istri. Dan aku tidak bisa membayangkan kalau pesawatnya jatuh, aku tidak bisa lagi melihat anak dan istriku. Lalu bagaimana dengan istriku, bagaimana dengan anakku yang masih kecil. Hal-hal seperti inilah yang selalu membuatku tidak mampu melawan ketakutan dari kematian yang mengerikan.

Setelah hampir dua tahun lamanya ketakutan dengan alasan anak istri seperti mengubur kakiku untuk  tidak berpergian dan tidak bisa merasakan keindahan daerah lain di belahan bumi ini. Akhirnya, setelah sekian lama, tuntutan pekerjaan membuatku kembali memberanikan diri berpergian menggunakan pesawat. Pertama kali selama kurang lebih dua tahun tidak meninggalkan kota tempatku merantau, aku pergi dengan pesawat terbang bersama istri dan anakku. Penerbangan kedua kalinya saat perusahaan tempatku kerja menyelenggarakan  kegiatan di semarang. Meski ketakutan masih sangat menganggu pikiranku, tetapi aku berusaha melawannya. Banyak hal yang aku lakukan untuk menghilangkan rasa trauma dalam diriku, cara ini mungkin bermanfaat buat kamu yang merasakan ketakutan yang sama denganku.

Saat berpergian bersama teman, aku mensugesti pikiranku bahwa aku tidak sendiri, aku memilki teman yang akan menolongku saat terjadi sesuatu, terdengar konyol tetapi sedikit berhasil. Kemudian aku berusaha berkomunikasi dengan orang yang duduk sejajar denganku, selain temanku. Seperti penerbangan dari Makassar  menuju Jakarta, aku berkenalan dengan seorang penumpang yang hampir tiap minggu berpergian menggunakan pesawat. Beliau sangat santai dan tenang, padahal waktu itu pesawat lumayan goyang. Karena penasaran aku mulai bertanya tentang bagaimana cara bisa begitu sangat tenang dan santai. Akhirnya dia mulai bercerita bahwa pernah satu waktu pesawat yang dia tumpangi kritis, semua penumpang teriak. Alat bantu pernapasan keluar dengan tiba-tiba, sangat menakutkan, tetapi Alhamdulillah tidak sampai jatuh. Bahkan dia pernah dua puluh jam dalam pesawat menuju Moscow. Saat itu pikiranku kembali terbuka bahwa pesawat tidak mudah jatuh, dan kalau pun jatuh mungkin sudah ketentuan Yang Maha Kuasa. Cara berikutnya adalah jangan keseringan melihat keluar jendela, apalagi cuaca kurang baik, fokuskan pikiran dan pandangan tetap dalam pesawat. Kemudian cara terakhir yang aku lakukan adalah, sebelum berangkat buka google lalu mencari tips-tips yang berhubungan melawan rasa takut di dalam pesawat. Dari beberapa cara tersebut, setidaknya menolongku meredam rasa takut selama dalam pernerbangan. Semoga suatu saat nanti aku kembali terbiasa, rasa takut dan traumaku benar-benar hilang dan aku kembali berani seperti saat aku masih belum menikah dan memiliki anak. Karena mungkin saja asbab kematianku bukan di pesawat, bisa sesuatu yang lain. Banyak hal yang membuatku takut, tetapi hal yang paling aku takuti adalah saat aku tidak bia lagi bertemu anak istriku dan kucing kesayangan mereka!

arpan