Its NOT Me

Media Sosial dan Generasi Lebay

oleh DerielHD

18 October 2018

Makin hari, makin ‘menghibur’ aja status-status dank omen di media sosial. Terkadang kalo pikiran saya sedang mumet, saya menyempatkan diri untuk sekedar mengecek fesbuk dan media sosial lainnya, sekedar ingin melihat status dan komen lucu tersebut.

Seperti biasa, hari ini kota tempat saya tinggal terjadi pemadaman bergilir lagi. Mati lampu, kalo kata orang disini. Padahal bukan hanya lampu aja yang mati, ada kulkas, televisi, dan macam-macam peralatan elektronik lain. Kemudian seseorang bertanya disebuah group medsos yang diikutinya, “ada yang tahu mengapa mati lampu lagi? Ada kebakaran lagi ya?” bagi saya, orang ini hanya sekedar bertanya saja, siapa tahu dari pertanyaannya tersebut dia akan mendapatkan jawaban mengapa listrik padam sejak pagi hari.

Namun respon yang didapat sangat beragam, ada yang merespon dengan positif, ada juga yang merespon dengan negatif. Ada bapak-bapak yang marah dan menyuruh untuk tidak sembarangan memposting karena perkataan adalah doa, ada juga yagng mengiyakan perkataan bapak tersebut.

baca juga : Ketika aksi heroik dibalas dengan nyinyir!

Yah saya juga sih gak setuju kalo ada yang mendoakan sesuatu yang tidak baik bagi orang lain atau bagi sesuatu hal. Namun, apa generasi saat ini sudah sedemikian bapernya ya hingga pertanyaan yang seharusnya mendapatkan jawaban sederhana harus diperpanjang hingga baper tujuh turunan?

Mungkin ya, mengapa hal itu terjadi dan sudah menjadi masalah yang cukup serius dikalangan masyarakat pengguna medsos, karena setiap hari mereka tidak mendapatkan sesuatu hal yang baik dari medsos tersebut. Yang ada hanya hal negatif, misalnya bagaimana para politikus saling mencela, menyindir dan berusaha untuk saling menjatuhkan. Melihat status alay dari user medsos yang lain yang suka pamer kemewahan, kemesraan, dan aib rumah tangga. Hingga akhirnya virus alay mulai menyebar dan dianggap sebagai sebuah ‘keindahan’.

Jika terus dibiarkan seperti ini, masyarakat kita akan mulai tersinggung karena hal sepele dan mulai saling bunuh hanya karena seseorang buang angin sembarangan. Kita sedang membangun generasi cemen dan alay yang selalu baper dan tersinggung dengan permasalahan sepele. Kita akan menjadi generasi sumbu pendek yang langsung meledak hanya karena seseorang mengeluarkan ‘api’ kecil dari mulutnya. Sadar atau tidak, semua itu membahayakan bagi diri kita sendiri.

baca juga : Tata cara berpendapat di Media Sosial

Dengan mudahnya kita akan dipermainkan dan diadu domba karena kebencian yang muncul sebagai efek samping ke-alay-an kita di medsos. Harga cabe naik dikit, baper; harga telur naik dikit, baper; harga bbm non subsidi naik, baper (padahal dirinya belum tentu make bbm non subsidi; harga dollar melunjak tinggi, baper, padahal dirinya sendiri belum pernah megang uang dollar.. mau jadi apa negara kita? Apa yang mau kita ajarkan kepada generasi penerus kita?

Be wise lah! Jangan jadi generasi alay. Jadilah generasi bijak dan sabar dalam segala sesuatu. Kebijaksanaan bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang bisa membangun masa depan perdamaian dunia untuk kehidupan yang lebih baik.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis