Its My Faith

Mawas Diri

oleh Ali Romdoni

6 October 2018

Para leluhur bangsa Indonesia telah mewariskan keteladanan sikap, bahwa dalam menjalani kehidupan di bumi kita harus bisa berdampingan dan mau berbagi dengan yang lain. Bukan hanya kepada sesama manusia, namun juga kepada binatang, tetumbuhan, laut, gunung, sungai, batu, termasuk makhluk yang tidak terlihat oleh mata kita. Mereka semua disadari (dihargai) keberadaannya, kemudian diperlakukan dengan baik. Tentu dengan cara-cara dan dalam dimensi yang khas.

Lihatlah, misalnya, orang-orang kuno terlebih dulu akan ‘berdialog’ dengan sebatang pohon, sebelum menebangnya. Ada juga sekelompok orang yang merawat tuk atau mata air dengan tekun dan hati-hati. Kita juga mendengar cerita para penjaga gunung dan sungai.

Perilaku yang seperti itu merupakan ekspresi kesungguhan dalam memelihara alam. Mereka menghormati sesama makhluk, memperlakukan benda-benda yang ada dan tumbuh di tempat terdekat dengan baik.

Menghormati lingkungan berarti tidak akan sewenang-wenang mengeksploitasi alam. Di sana ada pemilahan wilayah, mana dan kapan sumber daya alama bisa digunakan oleh manusia dengan takaran tertentu, dan mana yang tidak boleh diganggu.

Dalam analisis saya, cara-cara nenek moyang kita dalam memperlakukan alam raya di sekitarnya tidak sedangkal yang dituduhkan oleh sebagian antropolog, yang mengidentifikasi bangsa kita di masa lampau sebagai penyembah gunung, laut, pohon, batu dan benda-benda lainnya. Bukan itu.

Label yang disematkan para sarjana barat kepada bangsa-bangsa di Nusantara sebagai penganut animisme dan dinamisme—sebelum akhirnya mereka mengenal budaya beragama (bertuhan)—merupakan simplifikasi dalam kerja-kerja pengamatan antropologis, namun di sisi lain mengabaikan adanya pengetahuan khas yang telah dimiliki oleh masyarakat kita.

Saya justru melihat, jauh sebelum wilayah Nusantara kedatangan kaum kolonial (termasuk para ahli etnografinya), orang-orang di dalamnya telah memiliki kehalusan budi dan kelembutan perasaan sehingga bisa ‘melihat’ setiap yang ada di sekitarnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus dihargai. Bermula dari cara pandang yang demikian, mereka memperlakukan alam di sekitarnya selayaknya mereka ingin diperlakukan.

Lihat kembali kearifan local (local wisdom) yang tersimpan di tengah masyarakat kita. Terkait dengan kelestarian alam dan bencana yang sewaktu-waktu datang, misalnya, nenek moyang kita telah mewariskan semacam pengetahuan untuk mendeteksi hal itu.

Antara lain, masyarakat di Kepulauan Mentawai, Sumatera Utara, memiliki teteu (berarti gempa bumi) yang berupa syair tentang penanda ombak tinggi yang bakal datang serta langkah-langkah pengamanan yang harus dilakukan. Bila datang ombak besar, orang-orang diperintahkan untuk naik ke dataran yang tinggi. Masyarakat kuno di Mentawai telah memiliki seperangkat pengetahuan khas ini, dan diceritakan (diajarkan) secara turun-temurun dalam keluarga.

Sampai di sini saja, kita bisa melihat bahwa nenek moyang kita telah memahami dengan baik lingkungan mereka, dan bagaimana harus memperlakukannya. Mereka mampu menangkap gejala yang dimunculkan alam di sekitarnya. Di luar itu, mereka juga disiplin untuk menghindari tingkah-polah yang bisa memantik kerusakan alam.

Apakah juga demikian dengan kehidupan kita sekarang ini?

Agaknya kondisi hari ini terlalu bising, sehingga kita gagal membedakan mana gejala alam, dan mana kerusakan akibat tangan kita yang usil. Dengan dalih melipat-gandakan produksi kita menempuh segala jalan, meskipun bisa menimbulkan kerusakan yang besar. Hutan, sungai, gunung, laut, semuanya kita anggap barang mati dan karena itu bisa semaunya dieksploitasi.

Bukankah agama kita juga mengingatkan, bahwa “Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah, menyatakan kebesaran Allah” (Qs. Al-Hadid/57: 1).

Bisa menjadi renungan kita, bahwa setiap makhluk yang diciptakan oleh Tuhan di muka bumi ini memiliki arti dan fungsi masing-masing. Keberadaan mereka menjadi penyeimbang bagi yang lainnya. Mereka semua sejatinya meneguhkan keberadaan Dzat Sang Penciptanya.

Karena itu, pendidikan untuk menghargai dan merawat lingkungan di sekitar kita secara luas perlu digalakkan kembali. Menghargai lingkungan adalah fondasi dari sikap menghargai hal lain yang lebih nyata, seperti hukum formal dan konvensi sosial. Meskipun benda di sekitar kita tidak bergerak, tetapi bila kita sanggup memperlakukan mereka dengan baik, hal ini menjadi modal untuk bergaul dengan orang-orang di sekitar kita dengan lebih adil. Sebaliknya, mengabaikan lingkungan bisa menjadi awal bagi pengabaian terhadap tatanan sosial.

Maka, mudah kita memahami perilaku nenek moyang kita. Bila untuk menebang sebatang pohon saja mereka berhati-hati, tentu akan berfikir berkali-kali untuk membabat hutan.

Tetapi memang tidak mudah menjalankan ajaran bijak di tengah gelombang alam fikir masyarakat kita yang berlomba dalam penjarahan dan pengayaan diri. Bisa-bisa kita sendirian dan tertinggal. Iya, “Jamane wis jaman edan, sing ora edan ora keduman”. (Artinya, zaman sudah berubah jadi gila tanpa hukum, dan bila tidak mengikuti arus kita tidak mendapatkan bagian).

Tetapi jangan senang dulu. Mendapatkan bagian dari satu penjarahan massal ternyata bukan berarti tanpa pengadilan. Bila prestasi didapatkan dengan cara yang curang akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena, “…Sak beja-bejane wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo”. (Artinya, keberuntungan sejati hanya dimiliki orang yang senantiasa mawas diri di tengah gejolak zaman yang sakit).

Mari menjadi pribadi yang mawas diri, tidak menceburkan diri dalam sistem sosial yang sakit, sembari terus belajar merasakan bisikan alam di sekitar kita. Dengan begitu, semoga kita bisa lebih dekat dengan kebaikan dan keberuntungan. Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdoni

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.