Its NOT Me

Manusia tanpa hati

oleh DerielHD

3 October 2018

Ingin rasanya saya kembali menulis sebuah artikel dengan judul “Jeritan Pilu Sulawesi Tengah”.. akan tetapi ternyata ada hal lain yang lebih urgent untuk dibahas. Untuk saat ini, biarkan rekan-rekan penulis saya yang menulis mengenai hal itu. Saya ingin fokus menulis dan membahas mengenai ribuan manusia tanpa hati yang mengambil kesempatan dalam kesempitan dann dalam kepedihan masyarakat Palu, Donggala, dan kota sekitarnya yang terkena damak gempa dan tsunami.

Sedih rasanya ketika melihat kota Palu dan sekitarnya hancur lebur, luluh lantah, oleh gempa bumi berkekuatan 7.7 SR, dan diikuti dengan gelombang tsunami yang menerjang dan menghancurkan seisi kota dan menenggelamkan beberapa desa dengan longsoran lumpur. Kiranya semua korban diberi tempat terbaik di sisiNya, dan semoga semua keluarga korban selalu diberi kekuatan dan penghiburan dari Tuhan yang Maha Pengasih.

baca juga : Kebutuhan menipis, “Kami Kelaparan”

Kurang ajar! Hanya dua kata itulah yang terlintas dalam pikiran saya ketika melihat video mengenai penjarahan rumah dan took-toko yang terbuka karena gempa. Mulai dari ban mobil dan sepeda motor, velg, onderdil mobil, oli, material bangunan, dan peralatan rumah tangga lainnya. Kemudian dengan bangganya mereka berkata bahwa itu semua dilakukan karena terpaksa karena kebutuhan hidup. Hah!? Yang bener aja! Mereka mau makan ban mobil? Minum oli? Minum solar dan bensin? Karena kalian kelaparan sehingga menjarah barang yang bukan makanan?

Coy! Kalo mau mengambil kesempatan dalam kesempitan ya ngomong aja.. saya masih “terpesona” ketika membaca sebuah artikel mengenai peralatan pelampung untuk deteksi tsunami yang terombang-ambing kosong tanpa baterai di tengah lautan, sehingga mustahil bagi peralatan canggih itu untuk mengirimkan signal ke petugas pengawas akan datangnya tsunami.

Menjrah

Jangankan peralatan pendeteksi tsunami, coba aja kita perhatikan fasilitas lampu penerangan di jalan raya yang menggunakan baterai dari tenaga surya. Kebanyakan sudah rusak karena ulah usil orang yang katanya terpaksa melakukan hal semacam itu. Jahat! Hanya orang yang berhati jahat yang sanggup melakukan hal segila itu. Jika berkaca dari gempa dan tsunami jepang kemaren, tidak ada tuh yang sampai menjarah rumah atau toko tetangganya. Tidak dengan sengaja atau juga tidak dengan perasaan terpaksa. Nah, kalo sudah begini, siapa yang mau bertanggung jawab? Jangan menyalahkan alam atau juga menyalahkan pemerintah. Yang salah adalah manusianya sendiri. Tuhan sudah membantu dengan menyediakan orang-orang pintar untuk setidaknya bisa sedikit mengurangi korban jiwa atau juga dampak dari bencana alam, akan tetapi jika semua peralatan pendukungnya dirusak hanya karena kepentingan perut sendiri?

Bukan hanya menambah luka bagi para korban dan keluarganya, kalo kata saya sih para maling ini ikut mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa dalam setiap bencana.

Sobat, jangan ditiru! Jangan juga memberikan contoh yang jelek seperti ini kepada generasi penerus kita. Jika bukan kita yang memberikan teladan yang baik, siapa lagi? Untuk sesaat, cobalah untuk membuka sedikit pikiranmu dan sedikit berandai-andai mengenai masa depan, dalam setiap tingkah lakumu saat ini. Jika tidak, kita ini hanya akan menjadi sekumpulan manusia tanpa hati yang melakukan segala sesuatu dengan kehendaknya sendiri, tanpa sedikitpun melihat kebutuhan orang lain. Lakukanlah yang baik, maka hal yang baik juga akan disediakan Tuhan dalam hidupmu.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis