Its My Life

Manusia, Penciptaan, dan Keegoisan

oleh DerielHD

14 May 2018

Tidak terasa, tiga jam sudah saya habiskan di kedai kopi mewah ini. Bukannya mau mempromosikan, akan tetapi –Starbucks- yang merupakan salah satu kedai kopi mewah, memang seringkali menjadi tempat bersantai ketika suasana kantor yang mulai terasa membosankan. Dari sinilah terkadang ide-ide segar untuk menulis muncul, yah mesti saya akui, saya hanyalah manusia biasa, walaupun bukan tulisan super indah seperti karya penulis-penulis ternama internasyenel, namun saya cukup puas dengan beberapa hasil karya tulis saya. Selain karena keluar dari buah pemikiran sendiri, namun memang (sepertinya) tidak ada orang lain lagi yang menyukai tulisan-tulisan saya.

Duduk sambil menikmati segelas Americano disudut ruangan kedai kopi ini membuat saya bisa dengan mudah mlihat dan mengamati perilaku setiap pengunjung yang datang. Ada-ada saja. Mulai dari kelas mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir bersama dosen pembimbing, tante-tante sosialita, pengusaha-pengusaha muda, keluarga yang anti sosial (karena mereka sibuk dengan gadget masing-masing), hingga kumpulan cewek-cewek alay yang hobinya ber-selfie atau ber-swafoto ria.

baca juga : Senyuman Napiter, Derita Iptu sulastri

Berbagai macam ekspresi sudah dikeluarkan, mulai dari mulut manyun, hingga lidah menjulur bagaikan ular yang sedang mencari mangsa. Mulai dari pembicaraan santai, hingga komentar bernada iri hati karena melihat tetangga yang punya perhiasan atau harta benda lain yang baru. Unik memang, dan suasana seperti ini bisa setiap saat kita temukan di kedai kopi mewah ini.

Tetapi sobat, kita tinggalkan sejenak mereka dengan aktifitas mereka masing-masing. Yang menjadi pemandangan yang paling menarik adalah sebuah keluarga yang datang dan duduk di sudut yang berlawanan dengan tempat dimana saya duduk. Menarik karena dengan mudah saya bisa melihat setiap gerak-gerik mereka yang mana mereka sama sekali tidak bergerak.

Masing-masing sibuk dengan dunia mereka sendiri. Sang ayah yang sibuk mengutak atik laptopnya dengan headphone yang terpasang ditelinga, sang ibu yang senyum-senyum sendiri sambil mata dan jari-jemarinya terfoksu pada telepon pintar yang digenggamnya, dan anak-anak yang sibuk bermain dengan hape masing-masing. Sepintas muncul pertanyaan dalam pikiran saya, keluarga macam apa itu? apa yang mereka pikirkan? Jika toh semua sibuk dengan dunianya sendiri, mengaa tidak dirumah saja? Apakah mereka juga sedang mencari suasana baru untuk menjadi manusia egois? Salah tempat rasanya jika mereka menganggap kedai kopi ini adalah lokasi strategis untuk ‘rekreasi’ bersama keluarga.

Ayah macam apa yang mengajak istri dan anak-anaknya ke kedai kopi untuk bersantai? Kan masih ada tempat lain yang lebih menarik yang bisa dikunjungi. Misalnya, kebun binatang, arena bermain keluarga, nonton bioskop, dan lain-lain yang tidak perlu saya jelaskan satu persatu. Aneh memang. Tetapi, hehe itu bukan urusan saya. Kalau mereka hobinya seperti itu ya biarkan saja, mungkin hanya dengan cara itu mereka bisa mendapatkan ketenangan.

Jika ditanya, makhluk ciptaan Tuhan mana yang paling egois, maka jawabannya adalah manusia. Dengan tujuan untuk menjaga, merawat, dan memelihara ciptaan Tuhan yang lainnya, manusia kemudian diciptakan serua dan segambar dengan Tuhan. Tujuan yang sangat mulia. Hingga tiba saat dimana manusia kemudian melenceng dari tujuannya dan jatuh ke dalam dosa. Dosa karena keraguan akan perintah Tuhan, dan dosa karena keinginan untuk mengetahui segalanya. Hingga akhirnya dari dosa itu lahirlah sifat egois tiada tara, merasa paling benar, sombong, dan arogan. Tujuan untuk menjaga dan memelihara berubah menjadi perasaan hendak menguasai seluruh isi alam semesta.

baca juga : Mengapa orang jahat dibiarkan hidup lebih lama?

Sedih memang, akan tetapi itulah kenyataannya. Pemandangan yang saya saksikan di kedai kopi ini hanyalah sebagian kecil dari apa yang sedang terjadi di seluruh bagian bumi ini. Apa ayng bisa kita lakukan untuk menghindarinya? Masih adakah? Hanya diri kita masing-masinglah yang bisa menjawabnya.

Semoga saja kita semua masih memiliki sedikit rasa peduli dan kepekaan terhadap keadaan disekitar kita karena jika tidak, kita tidak jauh bedanya dengan mayat hidup yang berjalan dan beraktifitas namun tidak memiliki jiwa karena sudah terlalu melenceng dari tujuan mulia penciptaan.

Ah, lebih baik saya melanjutkan mencari ide segar untuk tulisan saya selanjutnya. Kebetulan kopi yang tiga jam lalu saya pesan masih ada. Walaupun sudah terasa dingin, namun tidak sedingin hidup yang dijalani dengan keegoisan.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis