iT’s Me- Namaku Baco, laki-laki bugis yang sementara berjuang mengumpulkan uang lamaran untuk wanita yang aku cintai, tentu akan aku halalkan. Aku dan dia berkenalan sejak Sekolah Menengah Pertama, sekarang usiaku 21 tahun dan usianya 20 tahun. Memang kami masih tergolong muda tetapi aku sudah merencanakan semua, apalagi kuliahku akan segera selesai. Mungkin selesai kuliah aku masih akan terus berjuang mengumpulkan duit lamaran yang begitu besarnya alias uang panai.

Uang panai inilah yang kadang buat kepalaku pusing tujuh putaran dan bukan aku saja yang merasakan ini, semua laki-laki keturunan suku bugis pasti merasakan hal yang sama, kalau yang kaya mungkin tidak masalah. Uang panai adalah belanja pengantin wanita yang di berikan oleh aku dan para lelaki di luar sana jika ingin menghalalkan pujaan hatinya. Besarnya uang panai bahkan kebangetan jumlahnya terkadang membuat pendirianku goyah walaupun sebenarnya salah satu tujuan mahalnya uang panai adalah menguji kesungguhan lelaki dalam menghidupi dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya setelah menikah.

Melihat keadaan sekarang dimana tradisi perkawinan semakin modern justru menjadikan uang panai bukan sekedar mahar saja , lebih menjurus ke gengsi-gengsian. Ini jadinya jika uang panai di jadikan ajang gengsi, masing-masing pihak akan menaikkan uang panai anak perempuanya karena tidak ingin kalah dengan tetangga atau saudara lainnya, matilah aku kalau sudah begitu. Untuk sekarang aku masih optimis, aku akan terus berjuang sampai aku benar-benar sudah tidak mampu lagi. Ini bukan soal mahalnya kebangetan, ini soal mental dan perjuangan para lelaki bugis. Meskipun begitu, turun banyak lebih bagus.

Jangan kaget jika mendengar kakek 60 tahun menikahi ABG 17 -20 tahun, salah satu factor adalah meraka lebih banyak duit daripada aku walaupun tidak semua. Aku berharap tradisi uang panai bisa di longgarkan sedikit, di sesuaikanlah dengan kemampuan kami para lelaki yang kurang beruntung ini. Menurutku harus ada orang yang menjelaskan bahwa uang panai harus lebih di longgorkan, untuk apa gensi-gengsian kalau anakmu atau menantumu ini menderita akhirnya, harus bayar utang sana-sini, jual sana-sini. Jangan sampai tanggungjwab hilang karena uang panai yang dijadikan ajang gensi.

Aku tahu ini berat, sampai sekarang tidak henti-henti aku memikirkan hal ini. Entah berapa gelas kopi pait yang aku habis hanya untuk memikirkan uang panai, membayangkannya saja aku ngeri. Terlepas dari semua cerita horror ini, aku akan tetap optimis bahwa keluarga dan calon mertuaku pasti bisa mengerti keadaanku, aku yakin mereka baik seperti baiknya wanita yang akan aku halalkan, Amin. Untuk kalian yang membaca artikel ini, doakan aku ya! (Carlo)



arpan
arpan

Latest posts by arpan (see all)