iT’s me – Sabtu, pukul 12.30. Terik matahari mengiringi langkahku menuju  mall depan tempatku bekerja, untuk membeli makan siang istriku. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, satu paket Yakiniku tiba. Aku kembali mengantar makanan tersebut, saat dipenyebrangan mataku tertuju kepada seorang ayah dan anak sedang makan berdua secara bergantian di pinggiran trotoar, dengan lahapnya seperti mereka tidak lagi memperdulikan pejalan kaki yang lalu-lalang. Saya terus memandangi mereka, semakin dekat mata memandang satu mangkuk soto kuning tanpa nasi menjadi makan siang mereka.

Kaki Ayah dari anak laki laki itu pincang sehingga ia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Awalnya aku berpikir hanya rekayasa, setelah  mendekat ke arah mereka akhirnya aku dapat melihat dengan jelas bahwa kaki ayah dari anak itu benar benar cacat. Mereka  bukan pengemis yang memiliki setumpuk duit  seperti yang kita lihat di televisi, mereka benar benar pengemis. Untuk yang kesekian kalinya aku merenung, bagaimana rasanya makan siang dipinggiran trotoar dengan semangkuk soto kuning, dibawah sengat terik matahari yang di bumbui pekatnya asap angkutan kota?

Dalam kehidupanku banyak hal yang aku kuatirkan, aku kuatir dengan setiap nominal yang berkurang dari ATM ku, aku kuatir jika keuanganku tidak cukup untuk sebulan. Bagaimana aku harus memenuhi kebetuhan istriku, dan bayi yang ada dalam kandunganya? Aku juga kuatir jika keuangan tidak cukup lagi untuk bayar tagihan wajib perbulanya. Seperti, kontrakan, listrik, air, BPJS dan kredit kredit lainnya. Banyak hal yang buat hari hariku seperti dikejar kejar penagih hutang, tapi apakah itu merubah keadaan? Ternyata tidak! Karena mereka yang belum beruntung masih bisa makan dan masih bisa menikmati satu mangkuk soto dengan begitu lahap.

Sebanyak pasir dilautan kegelisahan dan kekuatiran  yang kukeluhkan, dengan sadar aku masih bisa makan paket Yakiniku di tempat nyaman, masih bisa bersantai di tempat eksklusif dan menikmati yang mungkin tidak bisa di rasakan Ayah dan anak tadi. Alhasil aku hanya bisa kuatir dan berkeluh kesah, aku pun sadar kalau itu semua hanya keadaan yang aku lebih lebihkan dan berakhir pada kemunafikan. Sok susah, padahal setiap hari aku berpapasan dengan banyak orang yang tidak mampu merasakan seperti apa yang aku nikmati. Hmmmmm! Hati baru merasa tenang saat aku berikan sedikit isi dalam dompetku. Maaf  Tuhan, selama ini aku hanya lebay dengan derita hidupku.

Meski dalam derma harta berkurang, seratus hidup datang ke hati sebagai imbalan. Menebarkan benih suci di bumi-Nya dan tiada ganjaran? Mustahil! -Rumi-