Its NOT Me

Maaf Pak Wowo, Hidup Kami Pas-pasan

oleh DerielHD

29 November 2018

Ceritanya, Pak Wowo mau nyalon jadi Kepala Desa. Lawan Pak Wowo, Si Joko, yang merupakan petahana, memiliki segudang prestasi dan hasil kerja yang nyata dan bisa langsung dinikmati oleh masyarakat desa. Sebagian besar warga desa yang puas dengan kinerja dari Pak Joko, mereka sangat bergembira dan dengan senang hati ingin Pak Joko kembali memimpin di periode berikutnya. Maka jadilah, Pak Joko mencalonkan diri kembali untuk supaya bisa melanjutkan kepemimpinannya di periode selanjutnya.

Sebenarnya, ‘pertempuran’ antara Pak Joko dan Pak Wowo dalam memperebutkan bukan hanya kali ini saja. Periode kemarin, Pak Joko berhasil memenangkan pertarungan itu, dan pertarungan kali ini pun pasti (menurut pendukung Pak Joko), kembali akan dimenangkan oleh petahana.

Pak Wowo yang merupakan calon kades abadi, meskipun sudah tiga kali gagal, tapi masih dengan penuh semangat dalam berjuang untuk memperebutkan kursi panas kepala desa. Menurut pendapat Pak wowo, desa itu tidak akan pernah maju selama pemimpinnya masih Pak Joko. Banyak tenaga kerja asing yang bekerja di desa itu sehingga penduduk asli desa kekurangan lapangan pekerjaan; kekerasan dan tindakan kriminal di desa semakin menjadi-jadi karena kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia; kekayaan alam desa bocor ke tangan pihak asing; dan desa itu terancam bubar dalam waktu yang tidak lama lagi.

baca juga : Ada apa dengan tampang kami?

Pak Wowo memang memiliki tingkat kepedulian terhadap desa yang sungguh jauh diatas rata-rata. Sebenarnya banyak warga yang bangga terhadap beliau, namun juga sedih disaat yang bersamaan melihat beliau seolah sedang dijebak oleh pengikut setianya. Bagaimana tidak, timses Pak Wowo suka melakukan konfrensi pers sendiri, buat janji politik sendiri, dan Pak Wowo yang selalu pusing untuk klarifikasi. Hingga Pak Wowo selalu pidato sambil menghina dan meremehkan warganya sendiri, apa mungkin tidak ada timses yang memberikan masukan dan menegur beliau ya? Jadi timsesnya kerja apa?

Hingga suatu hari, Pak Wowo udah mulai kehabisan duit buat kampanye dan minjem ke koperasi desa, namun apa daya, semuanya itu diluar kendali dan kemampuan koperasi desa. Pihak Kopdes tidak bisa memberikan pinjaman yang diperuntukkan buat kampanye Pak Wowo menjadi Kades. Dan hal itupun menjadi masalah. Akhirnya penggalangan dana menjadi jalan terakhirnya. Pak Wowo meminta dukungan dari semua warga untuk ikut menyumbang supaya beliau bisa menjadi kades dan mensejahterakan warga.

baca juga : Politisasi Logika di Media sosial

Eh Pak, bukannya Bapak bilang kalau saat ini warga sedang hidup pas-pasan ya? Wakil bapak, yang baru lulus dari perguruan bangau kembang kempit, bilang kalo saat ini uang 100.000 tidak cukup buat belanja karena hanya bisa buat beli bawang dan tomat aja, kemudian tempe didesa sudah setipis atm, terus ada lagi yang bilang kalo uang 50.000 gak cukup buat belanja, macem-macem lah pak. Nah dengan kondisi warga yang menurut bapak sedang sulit, mengapa bapak minta sumbangan lagi? Bukannya bapak yang harus menyumbang untuk kesejahteraan warga. Coba bapak jual semua keledai-keledai bapak, siapa tahu itu cukup buat dana kampanye. Atau wakil bapak kan tajir tuh pak, siapa tahu aja masih ada segentong duit tersisa di rumahnya.

Ya gitu deh pak, sebagai warga, kami mohon maaf kalo tidak bisa mendukung bapak lewat dana. Hidup kami sedang pas-pasan pak, buat beli kebutuhan pokok aja sulit, belum lagi keluarga yang sedang banyak maunya, gimana kami bisa mendukung bapak? Mungkin sedikit masukan dari kami, mending bapak tagih aja tuh duit dari pengikut setia bapak, atau ya berhenti mencalonkan diri sekalian, mumpung belum terperosok makin dalam loh pak.. Salam!

*Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis