Its NOT Me

Kota Cengkeh Kota Mati?

oleh arpan

11 June 2019

Toli Toli merupakan salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah, ibu kota kabupaten terletak di Kota Toil-Toli. Wikipedia menjelaskan Nama Toli-toli berasal dari kata Totolu yang berarti Tiga. Maksudnya suku bangsa .Toli-toli berasal dari tiga manusia kahyangan yang menjelma ke bumi masing-masing melalui Olisan Bulan (Bumbu Emas), Bumbung Lanjat (Puncak Pohon Langsat), dan Ue Saka (Sejenis Rotan). Jelmaan Olisan Bulan dikenal sebagai Tau Dei Baolan atau Tamadika Baolan yang menjelma melalui Ue Saka dikenal sebagai Tau Dei Galang atau Tamadika Dei Galang sedangkan seorang putri yang menjelma sebagai Bumbung Lanjat dikenal sebagai Tau Dei Bumbung Lanjat atau Boki Bulan. Kemudian Totolu berubah menjadi Tontoli sebagaimana tertulis dalam Langge-Contract Tahun 1858 yang di tandatangani pihak Belanda antara Dirk Francois dan Raja Bantilan Safiuddin. Tahun 1918 berubah menjadi Toli-toli seperti dalam penulisan Korte Verklaring yang ditandatangani Raja Mohammad Ali dengan pemerintah Belanda yang berpusat di Nalu.

Kabupaten Toli-toli sendiri memilki sumber daya alam terbilang melimpah, kelapa, coklat, sawah, tambak , hasil laut dan cengkeh. Jika Gorontalo di kenal dengan kota jangung, maka toli toli lebih di kenal dengan kota cengkeh . Saking melimpahnya cengkeh di daerah tersebut. Jika dibandingkan dengan Palu dan Gorontalo, gaung kota toli-toli masih kurang nyaring.  Orang lebih familiar dengan Gorontalo dan palu dibanding toli -toli. Bahkan sampai hari ini  Bapak nomor satu di negara ini  belum meniginjakkan kakinya kota tersebut, berharap dijabatan lima tahun kedepan Peresiden mulai melirik daerah yang dengan julukan kota cengkeh. Toli-toli memiliki banyak objek wisata yang menarik, seperti pulau salondo yang terletak di Desa Kapas, Kecaatan Dakopamean, ada juga Pantai Lalos, terletak di kecamatan Galang. Namun PEMDA toli-toli masih perlu kerja keras utuk menaikkan pamor kota ini.

Dari berbagai kelebihan dan kekurangannya, terdapat satu pemandangan yang sangat tidak layak dipertontonkan ke public di taman kota dan  sekitar monument kota toli-toli. Sangat di sayangkan, pemandangan  berupa sampah dan lumut “menghiasi” taman kota dan kolam sekitar momument. Seolah memberikan kesan kota ini tidak diperhatikan, bagaikan kota mati, tanpa penghuni, tanpa petugas kebersihan. Poto dari akun Iman Ku Ku  di upload pada tanggal 10 juni 2019, kemudian mendapat respon kurang lebih dari 150 pengguna media sosial. Sekilas terlihat begitu indah, tetapi saat focus ke bawah monumen dan sekitar taman kota, terlihat sampah-sampah berserakan dan mengapung. Pertanyaannya, kenapa taman dan monument yang menjadi perhatian banyak orang justru kotor? Apakah masyarakat atau pengunjung kurang kesadaran akan pentingnya lingkungan yang bersih? Ataukah Di kota ini tidak memliki petugas kebersihan? Lalu apa fungsi Badan Lingkungan Hidup ? Apa saja yang mereka kerjakan, sehingga icon dari kota tersebut bisa begitu kotor.

Dalam islam begitu jelas istilah “Annazhafatu mina lima, kebersihan sebagian dari iman”. Tetapi, kebanyakan kita sudah tahu namun pura pura tidak tahu, kita juga jelas jelas bisa melihat, tetapi pura-pura tidak melihat dan bisa mendegar, tetapi pura-pura tidak mendengar. Kita berharap instansi terkait, pengunjung serta masyarakat kota ini tidak buta tuli dan bisu dalam memperhatikan kebersihan. Dan yang paling penting, jangan tunggu viral baru akan bertindak!

arpan