Its NOT Me

Kontoversi Penutupan Rumah Makan Mengandung Babi

oleh DerielHD

2 August 2019

Sedang viral dan hangat dibicarakan di media sosial mengenai penutupan secara paksa sebuah rumah makan mengandung daging babi di sebuah pusat perbelanjaan di Makassar. Peristiwa ini membuat sebagian orang senang dan bangga karena berhasil mengintimidasi pemilik reso dan menutup tempat usaha ‘haram’ miliknya, namun juga membuat sebagian orang lagi geleng-geleng kepala heran dan tak percaya.

Penutupan paksa tersebut sejatinya bukan karena resto itu tidak bisa membayar uang sewa atau tidak membayar pajak, akan tetapi karena oleh segelintir orang dianggap mengganggu dan mengancam nilai atau akidah umat Islam di Makassar. Peristiwa ini merupakan sebuah tindakan intoleran yang tidak bisa di toleransi oleh aparat penegak hukum dan keadilan. Bukankah resto tersebut sudah mengantongi ijin dari pemerintah dan pihak pusat perbelanjaan untuk supaya bisa berjualan makanan mengandung daging babi di situ?

Sekali lagi, ini merupakan tindakan intoleransi dan tidak menusiawi. Mengapa? Penutupan paksa tersebut sudah mengakibatkan pemilik usaha kehilangan sumber pendapatannya, terancam tidak bisa menafkahi keluarga, dan juga harus memecat dan membayar pesangon karyawan yang bekerja di restorannya. Ada kerugian berlipat yang mengikuti pasca penutupan resto ini.

Jadi siapa yang salah? Bagi agama tertentu, daging babi merupakan daging yang haram. Jangankan memakan daging hasil olahannya, menyentuh binatangnya aja tidak diijinkan (pengecualian untuk babi berbentuk boneka, menurut beberapa orang boneka babi itu lucu). Sama halnya di Bali, dimana masyarkat adat setempat sangat menghormati Sapi dan melarang memakan daging sapi, namun jika kita sempat jalan-jalan ke Bali, hampir disetiap tempat ada rumah makan yang menjual menu hasil olahan daging babi. Atau di daerah jawa yang sebagian besar mengharamkan memakan daging babi dan memakan daging sapid an kambing. Lain halnya dengan sumatera utara yang setiap kali pesta selalu menyediakan menu masakan daging babi, sapi dan ayam untuk menjamu setiap tamu yang datang. Atau juga bagaimana dengan masyarakat Manado dan sekitarnya yang sebagian besar masyarakatnya memakan segalanya (bukan makan teman atau saudara).

Bagaimana jika masyarakat Bali memprotes tindakan rumah makan padang disana yang menjual daging sapi sebagai menu makanannya? Tidak mungkin kan? Karena ada nilai toleransi yang kuat yang dipegang oleh masyarakat Bali. Ada nilai kekerabatan dan persaudaraan sehingga masyarakat Bali sangat menghormati pengusaha rumah makan yang menjual makanan hasil olahan daging sapi.

baca juga : Fenomena Pindah Agama bukti angkunya masusia

Apakah ada hukum tertulis di bangsa ini yang melarang orang untuk tidak menjual daging babi di tempat umum? Tidak ada! Yang ada hanyalah usaha segelintir orang yang merasa lebih Tuhan dari Tuhan yang ingin memaksakan pemahaman dan kehendak mereka supaya menjadi hukum tidak tertulis yang wajib dipatuhi oleh semua orang, tanpa terkecuali.

Indonesia ini lahir dari keberagaman dan tindakan penutupan paksa rumah makan daging babi di Makassar menjadi bukti maraknya tindakan pembunuhan terhadap keberagaman dan toleransi dan juga betapa egoisnya manusia ketika merasa menjadi orang paling suci sejagad raya. Tidak suka dengan daging babi ya tidak usah dimakan, contohlah kota Salatiga dimana penjual menu daging babi dan daging sapid an ayam bisa jualan berdampingan. Itulah Indonesia. Sepertinya sudah jelas bahwa resto tersebut jelas-jelas menulis bahwa mereka menjual menu hasil olahan daging babi, ya kenapa mereka yang mengharamkan daging babi mau masuk kesitu? Kan membawa diri dalam pencobaan itu namanya.

Semoga saja tindakan semacam ini tidak dibiarkan berkembang dengan bebas seupaya tidak ada daerah-daerah lain yang mengikuti hal negatif semacam ini. Indonesia itu beragam dan terdiri dari bermacam-macam bukan hanya milik segelintir orang mabok agama yang merasa lebih Tuhan dari Tuhan. Jangan sampai kita menjadi tertawaan negara lain hanya karena urusan daging babi.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis