Its NOT Me

Kitab Suci bukan Novel Fiksi

oleh DerielHD

12 April 2018

Jika sobat sempat menyaksikan sebuah acara debat di salah satu media televisi nasional tadi malam, ada hal menarik yang sempat menjadi perdebatan hangat antara beberapa pengamat politik.

“Fiksi itu sangat bagus. Dia adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi, itu fungsi dari fiksi…. Jadi kalau Anda bilang itu fiksi lalu kata itu jadi pejoratif, itu artinya kita ingin anak-anak kita tidak lagi membaca fiksi. Karena dua bulan ini kata fiksi itu jadi kata yang buruk. Kitab suci itu fiksi atau bukan?” kata Rocky lagi sambil mengambil jeda, yang diikuti oleh tawa tertahan dan cemas dari penonton di sekitarnya.

Menariknya, dalam acara tersebut, tidak ada seorangpun yang berani memberikan jawaban apakah kitab suci itu fiksi atau bukan. Bahkan pembawa acara sekelas Pak Karni aja bungkam sambil senyum-senyum masam tak tentu arah. Padahal ya, beliau memiliki power untuk memotong kalimat Pak Rocky dan mempertanyakan makna sesungguhnya dari pernyataan bahwa kitab suci itu fiksi.

Menurut hasil penelitian tim itsme.id, dalam KBBI kata fiksi itu sendiri berarti cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya); 2 rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Jadi segala sesuatu yang bersifat khayalan atau imajinasi itu adalah fiksi, belum terjadi atau bahkan tidak akan pernah terjadi. Contohnya cerita dongeng mengenai bawang merah dan bawang putih yang biasanya diceritakan para orang tua untuk mengajarkan rasa kasih dan tanggung jawab kepada anak-anak mereka. Atau cerita novel mengenai bubarnya Indonesia pada 2030 nanti. Atau juga cerita bumi akan kiamat pada 2012 kemarin. Tapi semuanya tidak terjadi, artinya semuanya hanyalah cerita imajinatif atau fiksi dari oknum untuk tujuan tertentu.

Pak rocky tidak bisa disalahkan 100% atas pernyataannya, itu benar. Sebagai ahli filosofi beliau berhak untuk mengutarakan pendapat dan penilaian pribadinya. Jangankan beliau, seluruh masyarakat juga berhak untuk mengutarakan pendapatnya, tetapi tentunya harus disertai dengan bukti dan data-data yang kuat yang bisa menguatkan setiap pernyataannya. Akan tetapi, sekali lagi, hal yang tidak menarik adalah mengambil contoh Kitab Suci yang merupakan bukti keyakinan dan iman dari seluruh ummat beragaman dan kemudian disamakan dengan karya-karya fiksi buatan tangan manusia. Kitab Suci merupakan hasil karya nyata Tuhan dan pewahyuan yang kemudian ditulis oleh para Nabi atau utusanNya,dengan tujuan untuk menceritakan kembali kisah penciptaan alam semesta dan seluruh karya Tuhan yang ajaib kepada seluruh ummat beragama, mengajar ummatNya untuk memiliki hubungan yang akrab dengan penciptanya, hingga mengingatkan ummat beragama untuk kehidupan kekal sebagai upah ketaatan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Tidak bisa disamakan dengan hasil karya imajinatif manusia seperti buku dongeng atau novel fiksi yang tidak bisa dibuktikan kebenaran kisah-kisah didalamnya.

Yah ini hanyalah pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Fiksi atau fakta, hanyalah bisa dinilai oleh orang atau ummat beragama yang setiap hari selalu mengalami cinta dan kasih Tuhan dalam kehidupannya.

Bagi saya, Kepercayaan, iman, keyakinan, itu bukanlah hal fiksi yang hanya merupakan khayalan yang ujung-ujungnya tidak akan pernah terjadi. Keyakinan, iman, dan kepercayaan adalah fakta yang sudah terbukti yang dituliskan kembali oleh goresan tinta kuno para NabiNya, dikumpulkan dalam buku-buku, yang kemudian dikenal degan Kitab Suci, yang kemudian diajarkan kembali dengan maksudkan untuk memberikan harapan akan kehidupan yang lebih baik kepada seluruh ummat beragama yang menyembah Tuhan Yang maha Kuasa, yang menciptakan seluruh alam semesta. Seperti kata Pak Mahfud MD ya, “itu pendapat Pak Rocky, silahkan saja. Tapi bagi saya kitab suci bukan fiksi, jauh bedanya. Fiksi itu produk angan-angan atau khayalan manusia sedang kitab suci adalah wahyu dan pesan Tuhan. Saya meyakini, kitab suci adalah wahyu TUhan yang ditanamkan di hati dan dipatrikan di otak orang beriman.”

Sobat, jadilah bijak. Jika sobat memiliki penilaian atau pendapat yang sekiranya bisa mengakibatkan hal negatif ketika diutarakan, sbaiknya sobat diam. apalagi jika sobat tidak memiliki data untuk menguatkan pernyataan tersebut. Ingat bahwa suatu hari nanti, jika waktunya tiba, kita masing-masing akan mempertanggung jawabkan setiap perkataan kita dihadapan Tuhan, Sang Pemberi Hidup.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis