Its My Faith

Kisah Kiai di Kampung dan Sejarah Kita

oleh Ali Romdhoni, MA

16 October 2017

iT’s Me- Belasan kiai masjid dan langgar dijemput paksa oleh sekelompok orang yang gerak-geriknya kasar. Entah bagaimana cara mereka menangkapi satu persatu kiai-kiai kampung yang tidak bersalah itu. Pada pagi harinya masyarakat di Prawoto, Pati, Jawa Tengah akhirnya mengetahui para panutan mereka telah diculik oleh aktivis partai komunis. Seorang pensiunan guru sekolah dasar di desa setempat menceritakan kepada saya, peristiwa di Prawoto itu terjadi hampir bersamaan (bisa sebelum, bisa sesudah) geger pemberontakan partai komunis di Madiun. Bila melihat catatan sejarah dengan menjadikan meletusnya pemberontakan partai komunis di Madiun (18 September 1948) sebagai patokan, berarti penculikan para kiai di Prawoto itu terjadi pada akhir 1948.

Dari cerita orang-orang yang mengerti kejadiannya, para kiai atau guru mengaji itu digiring menuju hutan yang berada di sebelah tenggara dari Prawoto. Lokasi Desa Prawoto memang berada di lereng Pegunungan Kapur (Kendeng) yang membentang dari wilayah Grobogan, Pati, Rembang (Jawa Tengah) hingga Tuban (Jawa Timur), di pesisir pantai utara Jawa. Guru-guru sekolah saya di Prawoto, terlebih yang senior mengerti bahwa hutan yang berjarak sekitar 7 kilometer di sebelah tenggara desa telah digunakan para aktivis partai komunis sebagai persembunyian. Hingga saat ini, kita juga bisa mewawancarai orang-orang yang mengerti kronologi peristiwa tertangkapnya Amir Syarifuddin di satu tempat yang berada tidak jauh dari Prawoto.

Sebelumnya, bersama Soekarno, Hatta dan Sjahrir, Amir Syarifuddin adalah pemimpin republik ini. Pada zaman revolusi, mereka bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan. Iya, seorang pejuang yang akhirnya dijatuhi hukuman mati karena mendukung pemberontakan partai komunis di Madiun. Masyarakat Prawoto yang mengerti kejadian pada 1948-an memiliki ingatan tersendiri terhadap penangkapan Amir Syarifuddin. Menjadi maklum bagi sebagian warga, pendiri Front Demokrasi Rakyat (FDR) ini dibekuk oleh tentara nasional di lokasi tidak jauh dari tempat yang juga telah digunakan untuk menyekap para kiai tadi. Saya kemudian mencocokkan cerita yang beredar di masyarakat desa dengan literatur sejarah. Benar, ingatan warga Desa Prawoto ini sama dengan keterangan, misalnya, dalam buku Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun (1990). Dikisahkan, peleton yang dipimpin oleh Lettu Lukie Anwar menangkap Amir Syarifuddin dan empat gembong partai komunis lainnya di Kelambu, Grobogan.

Desa Kelambu memang berada di sebelah tenggara dari Prawoto, berada di jalan raya yang menghubungkan Kudus-Purwodadi-Solo (Jawa Tengah). Hanya, warga Prawoto menunjuk tempat itu lebih dekat dengan wilayah Prawoto, di sebelah timur Kelambu. Dari lokasi penangkapan, Amir Syarifuddin dan empat rekannya dibawa ke utara. Mereka di-interogasi di Desa Babalan, Kudus. Desa ini berada di sebelah barat Prawoto, berjarak 6 kilometer. Dari Babalan mereka dibawa ke Yogyakarta, sebelum akhirnya ditembak mati di Solo pada 19 Desember 1948 pukul 23.00 wib. Kabar tertangkapnya mantan perdana menteri itu tersiar dengan cepat. Di beberapa titik, masyarakat berdiri di tepi jalan, menanti kedatangan mantan tokoh yang bergelar sarjana hukum ini dengan penuh geram. Mereka ingin melampiaskan kemarahan, atau sekedar melihat muka salah satu aktor penting dalam kerusuhan Madiun.

Kembali pada cerita orang-orang di kampung dalam menggambaran sepak terjang aktivis partai komunis. Saya juga mendengar penuturan seorang warga yang mengetahui akal-akalan (strategi) partai komunis dalam menggalang dukungan massa dari warga desa. Khususnya di desa-desa di sekitar pegunungan Kendeng di wilayah Pati dan Grobogan, selain bertani di sawah banyak pula dari para warga desa yang menggarap lahan hutan milik pemerintah. Di kawasan ini, mandor alas (semacam polisi hutan) atau pegawai kehutanan adalah seorang aktivis partai komunis. Melalui wewenangnya membagi-bagi lahan garapan kepada warga, para aktivis partai komunis ini memberi iming-iming bagian lebih banyak kepada yang mau bergabung dengan partainya. Sebaliknya, mereka yang enggan diancam tidak akan mendapat bagian.

Cara seperti itu terbukti ampuh melipat-gandakan jumlah keanggotaan partai komunis di wilayah setempat. Karena kuatir tidak mendapat lahan garapan, warga desa akhirnya bersedia didaftarkan sebagai anggota partai. Di atas kertas, partai komunis memiliki jumlah massa. Karena hal ini, kelak ada orang-orang yang sejatinya tidak tahu menahu partai komunis, tetapi harus menanggung stigma sebagai penghianat bangsa. Iya, memang demikian yang terjadi. Saya kemudian ingat kejadian yang menimpa Srintil dan para seniman ronggeng di Dukuh Paruk dalam film Sang Penari. Film ini diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari, penulis novel kelahiran Banyumas, Jawa Tengah.

Pada tahun 1960-an, Srintil dan seluruh pendukung kesenian ronggeng di desanya adalah masyarakat awam politik. Mereka hanyalah orang desa, yang memiliki keyakinan bahwa menjaga tradisi leluhur (termasuk melestarikan kesenian tari ronggeng) akan mendatangkan kemakmuran orang sedesa. Kepolosan orang-orang desa ini dimanfaatkan oleh Bakar, aktivis partai komunis. Bakar menjanjikan, bila mau bergabung dengan partainya maka group tari ronggeng akan sering manggung dan laris ditanggap warga. Para pendukung kesenian ronggeng akhirnya didaftarkan sebagai anggota partai komunis. Malang, ketika suasana politik di Jakarta memanas, mereka masuk daftar nama yang harus dibekuk penguasa.

Seperti halnya kisah dalam film Sang Penari, masyarakat di Prawoto yang mayoritas santri juga merasakan ulah orang-orang komunis pada waktu itu. Pada fase berikutnya, di sana ada gelombang penangkapan, termasuk orang-orang yang sebenarnya tidak terlibat kegiatan politik berdarah itu. Di sini, terselip sepenggal kisah pilu. Mbah Jo (nama pelaku disamarkan untuk menghindari sakwa sangka), oleh para tetangga dianggap terlibat dalam kegiatan partai komunis di desanya. Dia sudah menjelaskan, dirinya tidak mengetahui kegiatan partai itu. Tetapi massa sudah terlanjur curiga dan beringas. Suatu hari, laki-laki bertubuh krempeng itu diadili masa di halaman balai desa. Massa geram, karena tubuh tuanya tetap kuat menerima tonjokan dan tendangan dari para algojo yang telah lama menahan marah pada para aktivis partai komunis.

Warga yang kenal Mbah Jo, mereka tidak heran dengan kelebihan yang dimilikinya. Sebelumnya, Mbah Jo telah berguru kepada tokoh sepuh, serta rajin melakukan laku-tirakat. Apakah dia hanya menjadi korban kepanikan masyarakat atas suasana nasional saat itu, atau dugaan warga memang benar? Semua serba samar. Karena terus saja dianggap terlibat dengan kegiatan partai komunis, sakit di hati Mbah Jo makin sulit disembuhkan. Merasa dikucilkan di ‘rumah’ sendiri, dia akhirnya meninggalkan ‘rumah’ itu dan mencari ‘rumah’ baru. Kita bisa melihat, suasana pada tahun-tahun itu serba kabur. Kepada sesama warga, tetangga dan teman saling curiga. Mereka juga bisa saling menghabisi. Satu keadaan yang oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) disebut sebagai tahun terkejam sepanjang sejarah.

Bahkan sampai hari ini kita dibuat ragu dengan keaslian peristiwa nasional di masa lalu. Kita memang diberi buku sejarah, tetapi kemudian kebenaran datanya dilucuti. Sebagai gantinya, tiap hari kita dilatih untuk curiga kepada orang lain, kepada teman, atasan dan bahkan para pemimpin kita sendiriKita lalu menemukan diri ini menjadi orang yang mudah menghakimi keadaan, bahkan terhadap peristiwa yang belum kita ketahui. Sayang, terhadap kekaburan hal-hal yang berbau partai komunis di masa lalu misalnya, di antara kita . justru ada yang menjadikannya komoditas politik. Jangankan ikut mengumpulkan kepingan cerita yang hilang, fakta kebenaran justru semakin dijauhkan dari masyarakat. Kebenaran sejarah hanya diketahui segelintir elit. Sementara rakyak hanya dijadikan arang hitam, yang satu saat dibuat membara dan menghanguskan apa saja, termasuk dirinya sendiri. Maka, lengkap sudah kebingungan kita, generasi muda dalam membaca sejarah bangsa Indonesia. Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.