iT’s Me- Belasan kiai masjid dan langgar dijemput paksa oleh sekelompok orang yang gerak-geriknya kasar. Entah bagaimana cara mereka menangkapi satu persatu kiai-kiai kampung yang tidak bersalah itu. Pada pagi harinya masyarakat di Prawoto, Pati, Jawa Tengah akhirnya mengetahui para panutan mereka telah diculik oleh aktivis partai komunis. Seorang pensiunan guru sekolah dasar di desa setempat menceritakan kepada saya, peristiwa di Prawoto itu terjadi hampir bersamaan (bisa sebelum, bisa sesudah) geger pemberontakan partai komunis di Madiun. Bila melihat catatan sejarah dengan menjadikan meletusnya pemberontakan partai komunis di Madiun (18 September 1948) sebagai patokan, berarti penculikan para kiai di Prawoto itu terjadi pada akhir 1948.

Dari cerita orang-orang yang mengerti kejadiannya, para kiai atau guru mengaji itu digiring menuju hutan yang berada di sebelah tenggara dari Prawoto. Lokasi Desa Prawoto memang berada di lereng Pegunungan Kapur (Kendeng) yang membentang dari wilayah Grobogan, Pati, Rembang (Jawa Tengah) hingga Tuban (Jawa Timur), di pesisir pantai utara Jawa. Guru-guru sekolah saya di Prawoto, terlebih yang senior mengerti bahwa hutan yang berjarak sekitar 7 kilometer di sebelah tenggara desa telah digunakan para aktivis partai komunis sebagai persembunyian. Hingga saat ini, kita juga bisa mewawancarai orang-orang yang mengerti kronologi peristiwa tertangkapnya Amir Syarifuddin di satu tempat yang berada tidak jauh dari Prawoto.

Sebelumnya, bersama Soekarno, Hatta dan Sjahrir, Amir Syarifuddin adalah pemimpin republik ini. Pada zaman revolusi, mereka bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan. Iya, seorang pejuang yang akhirnya dijatuhi hukuman mati karena mendukung pemberontakan partai komunis di Madiun. Masyarakat Prawoto yang mengerti kejadian pada 1948-an memiliki ingatan tersendiri terhadap penangkapan Amir Syarifuddin. Menjadi maklum bagi sebagian warga, pendiri Front Demokrasi Rakyat (FDR) ini dibekuk oleh tentara nasional di lokasi tidak jauh dari tempat yang juga telah digunakan untuk menyekap para kiai tadi. Saya kemudian mencocokkan cerita yang beredar di masyarakat desa dengan literatur sejarah. Benar, ingatan warga Desa Prawoto ini sama dengan keterangan, misalnya, dalam buku Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun (1990). Dikisahkan, peleton yang dipimpin oleh Lettu Lukie Anwar menangkap Amir Syarifuddin dan empat gembong partai komunis lainnya di Kelambu, Grobogan.

Desa Kelambu memang berada di sebelah tenggara dari Prawoto, berada di jalan raya yang menghubungkan Kudus-Purwodadi-Solo (Jawa Tengah). Hanya, warga Prawoto menunjuk tempat itu lebih dekat dengan wilayah Prawoto, di sebelah timur Kelambu. Dari lokasi penangkapan, Amir Syarifuddin dan empat rekannya dibawa ke utara. Mereka di-interogasi di Desa Babalan, Kudus. Desa ini berada di sebelah barat Prawoto, berjarak 6 kilometer. Dari Babalan mereka dibawa ke Yogyakarta, sebelum akhirnya ditembak mati di Solo pada 19 Desember 1948 pukul 23.00 wib. Kabar tertangkapnya mantan perdana menteri itu tersiar dengan cepat. Di beberapa titik, masyarakat berdiri di tepi jalan, menanti kedatangan mantan tokoh yang bergelar sarjana hukum ini dengan penuh geram. Mereka ingin melampiaskan kemarahan, atau sekedar melihat muka salah satu aktor penting dalam kerusuhan Madiun.

Kembali pada cerita orang-orang di kampung dalam menggambaran sepak terjang aktivis partai komunis. Saya juga mendengar penuturan seorang warga yang mengetahui akal-akalan (strategi) partai komunis dalam menggalang dukungan massa dari warga desa. Khususnya di desa-desa di sekitar pegunungan Kendeng di wilayah Pati dan Grobogan, selain bertani di sawah banyak pula dari para warga desa yang menggarap lahan hutan milik pemerintah. Di kawasan ini, mandor alas (semacam polisi hutan) atau pegawai kehutanan adalah seorang aktivis partai komunis. Melalui wewenangnya membagi-bagi lahan garapan kepada warga, para aktivis partai komunis ini memberi iming-iming bagian lebih banyak kepada yang mau bergabung dengan partainya. Sebaliknya, mereka yang enggan diancam tidak akan mendapat bagian.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)