iT’s Me- Kehilangan adalah sesuatu yang sangat berat, beberapa orang mampu melaluinya tetapi ada juga yang cukup lemah menghadapinya. Kehilangan terberat adalah kehilangan orang yang sudah sangat menyatu dengan kita, yaitu kehilangan istri atau anak kandung sendiri. Memang saya belum merasakan kehilangan anak atau istri, tetapi saya sudah pernah merasakan kehilangan adik kandung, rasanya berat tetapi belum di kategorikan sangat berat. Waktu itu saya masih berusia 18 tahun, adik kandung saya meninggal di usia 6 tahun. Saya melihat bagaimana ibu saya benar-benar lemah dengan peristiwa hari itu, ia menangis hingga sesak. Sampai ia tidak lagi mampu menggerakkan semua anggota tubuhya. Berbeda dengan bapak saya, ia masih bisa terlihat tegar meski ia tetap meneteskan mata.

Beberapa hari setelah peristiwa itu saya sering mendengar ibu menangis di kamar, terlihat dari wajahya beban dan ketidaksanggupan menerima kenyataan yang terjadi. Saat ibu tidak mampu menahan kesedihan, ia menghela nafas. Kurang lebih tiga bulan barulah mental ibu sedikit demi sedikit membaik, sedangkan saya hanya membutuhkan waktu dua minggu dan semua kembali seperti biasa. Mungkin karena waktu itu saya masih terlalu muda sehingga masih banyak hal yang bisa mengalih perhatian saya. Kehilangan itu berat! Semuotivasi dan kata-kata menghibur, itu baik tetapi mengalami sendiri, lain cerita. Meski tidak mudah melewati masa-masa kehilangan, tetapi semua beban dari kehilangan akan hilang, karena pada akhirnya waktu dan keadaan memaksa kita untuk terus melangkah. Kita tahu bahwa yang namanya kehilangan pasti menimpa setiap yang bernyawa, tentu kita pun pernah mengucapkannya dan sadar  bahwa suatu hari  nanti kita akan hilang dari muka bumi ini, entah itu sakit, keceakaan dan lain sebagainya.

Saya baru di karunia satu anak dan sekarang usianya 10 bulan, saat anak saya sedang bermain bahkan tertidur terlintas dipikran saya tentang bagaimana kalau suatu hari Tuhan lebih mencintaiya, apakah saya mampu menghadapi kenyataan akan kehilangannya, apakah saya mampu melewati hari-hari tanpa suaranya yang lucu serta ekspresinya yang menggemaskan dan apakah istri saya mampu menerima kenyataan itu, jika dibandingkan bagaimana ia berjuang susah payah mengasuh anak kami, tanpa campur tangan keluarga, tetangga bahkan mertua, membayangkan saja membuat saya ketakutan. Saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa keadaan itu sangat berat, tidak sebanding dengan kata ikhlas. Ikhlas ada saat kita benar-benar mampu melewati masa-masa kehilangan itu, karena ikhlas butuh proses dan proses dari ikhlas adalah semua kesepian air mata bahkan “kegilaan” yang selalu menamani hari-hari  kita, sampai kembali stabil. Kita kuat, tetapi setelah kita melewati masa-masa lemah.

Ini fakta, sebuah kenyataan yang tidak akan pernah benar-benar di pahami oleh orang-orang yang belum pernah merasakan kehilangan, bukan sekedar pergi tetapi benar-benar hilang dari dunia ini alias meninggal. Inilah kehidupan yang kita tidak tahu akhirnya, sebagai manusia saya hanya bisa siap, siap sebelum kehilangan itu tiba, siap sekalipun tidak pernah merasakan kehilangan dan siap jika suatu saat nanti saya yang akan hilang (selamanya). Kehilangan adalah kenyataan berat yang tidak dapat dihindari, ketidak berdayaan, kesepian bahkan “kegilaan” adalah bagian dari prosesnya. Kehilangan adalah  segudang kenangan yang suatu saat bisa terulang kembali ( Wallahu’alam bisshawab). Maka, bersiaplah!



Latest posts by arpan (see all)