Its My Life

Kebutuhan Menipis “kami kelaparan”

oleh arpan

1 October 2018

Banyak hal yang kalian tak mengerti dengan keadaan kami yang ada di sini, karena kalian tak merarasakan penderitaan kami…!!!

Beralaskan iman beratapkan doa cara kami bertahan hidup. Rumah,mobil, dan semua harta kekayaan kami ludes di lulluhlantahkan gempa, di terjang tsunami yang sangat dasyat, ttak ada satupun yang tersisa. Untuk melepas dahaga pun kami harus minum air comberan untuk makan pun kami harus menelan luda, yang seharusnya sudah bisa kalian bayangkan seperti apa rasanya.

Itulah kenapa sebagian dari kami harus menjebol pintu-pintu toko yang terdapat makanan dan minuman di dalamnya, bahkan secara terpaksa harus menjarah mobil bantuan yang lewat di hadapan, karna anak-anak di pengungsian terus-terusan menangis karena haus dan lapar yang sudah tak dapat mereka tahan lagi dan juga para lansia yang menjerit kesakitan akibat luka dari reruntuhan bangunan.

Di siang hari udara disini sangat menyengat, bau tak sedap keluar dari reruntuhan bangunan karena masih banyak meyat-mayat yang belum bisa di evakuasi dengan kedua tangan kami, karena reruntuhan itu sangantlah berat yang hanya mampu di kerjakan menggunakan alat berat.

Setiap saat getaran-getaran gempa terus menghantui kami dengan gemuruh angin yang tak tau dari mana arahnya di tambah lagi dengan sura-suara “tolong” yang tak tau dari mana menjadikan suasana di sini menjadi mencakam.

Di malam hari kami tidur berbantalkan lengan berselimutkan kain-kain bekas yang sudah tak layak pakai yang kami dapat dari reruntuhan bangunan-bagunan rumah.

Semua itu terpaksa kami lakukan demi bertahan hidup…!!!

Banyak hikmah yang seharusnya bisa kita petik dari kejadian ini.

Ini adalah peringatan untuk kita semua, yang seharusnya kita sebagai hamba lebih banyak mengingat dan berdoa kepanya-Nya. Karena Tuhan memberikan cobaan sesuai kemampuan hamba-hambanya, yang justru sangat berat rasanya, dari sudut pandang kami saat ini!

Jangan menghakimi mereka meskipun mereka layak di hakimi, saya tahu begitu banyak kabar tidak baik di balik musibah yang menimpa kami. Dan banyak yang perihatin dan miris dengan kejadian negatif tersebut. Tetapi, jika mereka yang memposting kejadian-kejadian negatif di balik musibah ini tidak merasakan situasi kami saat, lebih baik fokuslah mendoakan  dan tetap terus membantu kami di sini.

Testimoni M.Rifai (korban selamat dari gempa dan tsunami)-editor_sabri/sajaddahlive

arpan