itsme.id – Priiiiitttt!! Suara keras dari peluit terdengar menggema disebuah ruangan, ditengah acara akbar sebuah universitas ternama di Jakarta. Mendadak para hadirin yang ada diruangan itu kaget dan mencari sumber suara peluit itu. Terlihat seorang pria bertubuh tambun berdiri tegap dengan peluit di mulutnya yang terus menerus dibunyikan, serta mengangkat sebuah kertas berwarna kuning bagaikan seorang wasit yang sedang memberikan hukuman kepada pemain sepakbola yang melakukan pelanggaran, dan diarahkan kedepan panggung, tempat dimana Pak Presiden baru saja selesai memberikan kata sambutan. Dengan sigap, pak paspampres yang berada di dalam ruangan tersebut datang dan segera mengamankan pria ini.

Usut punya usut, ternyata pria yang bertubuh tambun itu adalah ketua BEM UI, bernama Zaadit Taqwa. Dengan tegas pemuda yang gagah berani ini, layaknya seorang wasit, terus menerus berdiri dan meniup peluit, seperti meminta perhatian khusus dari Pak Presiden yang ada di depannya. Namun, entah si Zaadit yang kurang keras meniup peluit karena gugup dalam mekasanakan “solo karirnya” ataukah gedungnya yang terlalu besar, Pak Presiden terlihat tidak menggubrisnya. (kasihan ya..)

baca juga : Hanya pintar berteori bisa lebih sukses daripada banyak beraksi, benarkah?

Tak layak dan tak beretika! Itulah yang dikatakan netizen merespon tindakan dari si ketua BEM yang gagah perkasa namun tambun itu. Netizen pun tidak tinggal diam, mereka mencari latar belakang dari anak ingusan yang sok jagoan ini. Akhirnya diketahui bahwa si ketua BEM adalah simpatisan partai yang selalu berseberangan dengan kebijakan pak Presiden. Namun tak sedikit juga netizen yang memberikan apresiasi atas tindakan dari si ketua BEM itu. Bahkan sampai ada yang menawarkan umrah dan beasiswa sekolah ke luar negeri. Percaye dak tuh? (logat jambi)

Eh jangan salah, ternyata ada juga gerombolan mulut besar yang ikut-ikutan gaya Zaadit dengan memberikan kartu merah dan kuning kepada pemerintahan Pak Presiden. Wehh, sama seperti si Zaadit, memangnya mereka sudah berbuat apa untuk bangsa ini? Bukankah selama ini mereka hanya sibuk mengkritik dan nyinyir atas semua kinerja baik yang sudah dikerjakan oleh pemerintah pusat? Contohnya saja si Zonk yang sibuk nyinyir ke Ibu Susi mengenai peledakan kapal asing. Si anggota dewan super hebat itu menanyakan mengenai keberhasilan ibu susi, eh setelah ditanya balik oleh ibu Susi, si anggota dewan super Zonk ini malah memamerkan keberhasilannya menulis tiga buku selama 3 periode dia menjabat sebagai anggota dewan. Ternyata 3 buku itulah hasilnya selama ini. Jadi jika masyarakat yang memilihnya meminta hasil kinerjanya, ya beli aja buku itu

baca juga : Jangan tegur saya kalau mau selamat!!!

Kacau memang jika melihat ada mahasiswa sok pintar yang merasa sudah mengetahui semua data di papua yang kemudian menganggap gizi buruk di asmat sebagai standar keberhasilan pemerintahan yang saat ini, menganggap itu sebagai cacat permanen. Pertanyaannya, sudahkan Zaadit pergi dan melihat langsung ke lokasi di Papua? Atau Zaadit hanya mendapatkan argumennya dari menonton berita di tv sambil berbaring di kasur yang empuk dan ngemil kacang, keripik kentang, dan sebotol koka kola tinggi gula?

Si Zaadit yang sok pintar hanya sebagian kecil dari upil besar yang mengganggu kelancaran pembangunan dan kemajuan bangsa ini. Dia juga hanya boneka pihak tertentu, kasihan dia.. Ya, sama seperti yang Zaadit katakana ketika diwawancara oleh Mata Najwa bahwa gizi buruk asmat hanyalah puncak dari gunung es permasalahan pemerintahan yang saat ini, Zaadit juga adalah puncak gunung es dari orang-orang atau kelompok yang selalu nyinyir dengan kinerja pemerintahan yang saat ini. Saran saya untuk orang-orang yang hanya bisa nyinyir, jangan memberikan penilaian dan kritik dari tempat yang nyaman. Sekali-kali pergilah ke lokasi kejadian, melihat langsung, terus kemudian berikan pendapat dengan data yang akurat.