iT’s me– Berdasarkan analisa saya, kegagalan jodoh sudah merambat dan merembes di sendi-sendi kehidupan pemuda pemudi saat ini, berbagai status media sosial, video, foto dan berbagai hiasan beranda media social menjadi bentuk baru bagi kreatifitas para ‘tuna asmara’ zaman ini. Saya melihat seperti keinginan di mall, kepastian tentang jodoh menjadi rebutan berharga para muda mudi masa kini.

Perlombaan pun dimulai, berlomba-lomba mencari jodoh, untuk sebagian orang hal ini sah-sah saja demi menjamin keamanan masa depan (dunia dan akhirat). Tetapi Allah justru menuntut kita untuk berbenah dan memperbaiki diri kita terlebih dahulu, sebelum Allah titipkan jodoh yang baik kepada kita, bahasa kerennya memantaskan diri kita terlebih dahulu barulah bersiap menjemput dan menyambut jodoh yang baik dari Allah.

Bagaimana jika kita sudah baik tapi belum mampu meskipun sudah sangat ingin memiliki pendamping hidup sebagai karunia dari Allah? “dan nikahkanlah orang-orang bujang dari kalangan kamu, dan orang-orang soleh dari hamba lelaki dan hamba perempuan kamu. Dan jika mereka orang-orang yang fakir nescaya Allah akan menjadikan mereka kaya, dan Allah sangat luas dan sangat mengetahui.” (QS An Nur : 32).

Jelaslah bahwa syarat utamanya adalah menjadi baik terlebih dahulu urusan selanjutnya pasrahkan kepada Allah. Bukankah jikalau kita bertanya kepada orang-orang yang telah menikah tentang urusan mahar dan perayaan pesta pernikahan, terlepas dilema biaya menikah yang membahana (uang panai). Jawaban paling sederhana yang biasanya kita terima adalah “Allah yang tolong/mukjizat/anugrah” atau apapun bentuk pertolongan yang mereka dapatkan sungguh diluar hitungan matematika logis manusia.

Benahi diri kita terlebih dahulu kemudian mintalah pertolongan Allah, dengarkan nasehat, sehingga dimanapun jodoh kita berada saat ini, Allah akan dekatkan dan pertautkan hati kita dengannya, entah itu di tempat kerja yang sama, di kota yang berbeda atau bahkan bertemu di mall saat anda sedang berbelanja.  Tetaplah berjuang sembari membenahi diri dan hati karena Mahar lebih dari barang di mall.

Berdasarkan yang saya alami, menjadi baik itu proses. Bahkan saat kita sudah menikah, ukuran baik seseorang  untuk pasangan yang baik pula adalah relatif. Yang paling penting tetap berusaha menjadi baik dan mendapatkan yang terbaik, selebihnya adalah tahap lanjut dimana pernikahan di haruskan menjadi kuat, lebih dewasa dan mandiri.