iT’s Me- Bagi orangtua yang menghabiskan hidupnya di desa, mendidik anak-anaknya di desa kebanyakan berpikir bahwa PNS atau Pegawai Negeri Sipil adalah sesuatu pekerjaan yang wah, mereka merasa dengan mengarahkan anaknya bekerja dalam sebuah instansi akan membuat anaknya sukses dan bahagia. Dan ini yang terjadi saat orangtua mengharuskan aku jadi PNS:

Sejak lulus Sekolah Menengah Pertama aku didaftarkan oleh orangtuaku melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran. Mereka berharap nantinya aku bisa berlayar, mendapatkan duit banyak dan akhirnya bisa berkerja sebagai pegawai negeri sipil di instansi perhubungan laut atau sejenisnya. Saat aku lulus Sekolah Menengah Kejuruan, lagi-agi aku di haruskan masuk kuliah jurusan budidaya perairan dan mereka masih berharap jika aku bisa jadi PNS di instansi terkait. Tetapi saat aku masih di sekolah Menengah Kejuruan aku mulai mengenal yang namanya broadcast dan menjadi seorang penyiar radio. Awalnya hanya ikut teman, lama-lama jadi hobi. Semenjak itu aku lebih  banyak bergaul di dunia broadcast. Aku sempat memberitahukan orangtuaku bahwa sekarang aku jadi penyiar radio dengan maksud agar aku bisa mendapat izin untuk terus menggeluti profesiku saat itu. Menariknya lagi, saat kuliah aku kembali dipertemukan dengan dunia broadcast.

Kuliah adalah masa-masa menegangkan antara aku dan orangtua dikampung, sebab aku lebih sibuk bekerja dan kuliahku mulai terbengkalai, entah kenapa aku sangat suka dengan pekerjaanku sebagai penyiar radio. Mendengar aktifitasku sebagai penyiar orangtuaku mulai khawatir, mereka khawatir jika nantinya aku  tidak bisa jadi PNS. Tanpa sepegatahuanku mereka mulai mencari cara agar lulus kuliah aku bisa bekerja di instansi dan berharap bisa menjadi pegawai negeri sipil, kebetulan aku memiliki om yang menjabat sebagai kepala dinas di instansi penataan kota, terbukalah peluang untuk masa depanku jadi PNS.

Dengan semakin mudah jalan untuk menjadi pegawai negeri sipil orangtuaku tidak henti-hentinya mengingatkan agar bersungguh-sungguh kuliah, tetapi kenyataannya aku tidak pernah mengindahkan ucapan mereka. Aku tetap menikmati profesiku dan aku merasa semakin bersinar sebagai seorang penyiar. Dengan berjalannya waktu kuliahku semakin terbengkalai, hingga terjadilah pristiwa ekstrim dimana aku memutuskan untuk berhenti kuliah. Musnah sudah harapan orangtuaku, mereka semakin frustrasi dan mulai melihatku dengan sebelah mata. Setiap aku pulang kampung mereka selalu membanding-bangingkan aku dengan teman-temanku yang suda wisuda. Padahal mereka tidak tahu bahwa tidak sedikit dari teman-temanku setelah wisuda bingung mau kerja apa.

Sekarang aku adalah wiraswasta di salah satu perusahaan media, didalamnya ada radio,web developer dll. Aku bersyukur dan bahagia dengan pekerjaanku saat ini. Teman-teman yang dulunya sempat dibanding-bandingkan denganku justru melihat aku lebih sukses dari mereka, bahkan mantan dosen pembimbingku dalam sebuah pesan  mengatakan“wah, kamu sudah sukses ya di sana”, saat membaca pesannya aku juga kaget kalau ternyata dia masih mengenalku. Dan waktu  itu aku jawab “Kalau bersyukur pasti kita semua merasakan sukses”. Dengan berjalannya waktu orangtuaku menyerah, mereka akhirnya menerima kenyataan bahwa memang aku tidak akan pernah jadi PNS. Dari harapan yang tidak kesampain itu justru orangtuaku mulai memberikan kebebasan kepada adik-adikku memilih profesi yang disukai, dari situ juga mereka mulai optimis bahwa tanpa jadi PNS anak bisa bahagia dan sukses dengan caranya masing-masing.