iT’s me – Masih ingat sebuah lagu dari penyanyi pentolan Boyband Boyzone yang berjudul “If Tommorow Never Come”?, Bagi anda yang mungkin masih semangat era 90-an pasti masih sangat mengingat lagu itu. Ya..bagaimana jika setiap hari kita menyanyakan hal itu sebelum kita tidur. Melihat orang yang kita kasihi, suami, anak-anak, istri, orang tua.. Bagaimana jika kepada diri kita sendiri kita mengajukan pertanyaan itu?

Semua orang pasti memiliki impian yang begitu indah mengenai masa depannya. Ada yang sudah merencanakan hingga lima tahun, sepuluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun kedepan. Merencanakan dengan penuh percaya diri dan berharap Sang Maha Pemberi keajaiban merestui setiap perencanaan itu. Tetapi apakah kita boleh merasa ragu atau khawatir dengan masa depan kita dan orang-orang yang kita kasihi? Sekali lagi, tanyakan kepada diri sendiri, apa yang dudah kita rencanakan dan impikan, jika seandainya hari esok tidak pernah tiba untuk diri kita?

Pertanyaan ini selalu mengusikku, setiap saat. Bahkan ketika berada jauh dengan orang yang aku kasihi. Ahh..seandainya hidup ini bisa dibuat lebih sederhana, masalah bisa dibuat lebih ringan, dan tantangan bisa dilalui dengan begitu mudah, mungkin pertanyaan ini tidak akan pernah mengusik rasa nyamanku. Tetapi semuanya tidak segampang itu. Mungkin ini proses yang harus ku jalani untuk menjadi lebih baik. Tetapi pertanyaan itu tetap saja menghantuiku, setiap malam, disaat aku akan menutup mata untuk beristirahat.

“Apakah rasa cinta yang kuberikan kepada orang yang aku sayangi sudah cukup untuk membuatnya bertahan menjalani hidup tanpa kehadiranku?”

Ya, rasa cinta, cinta dan kasih sayang yang selalu ada dalam hatiku, yang selalu kuberikan kepada pujaan hatiku, apakah itu sudah cukup untuk membuatnya bahagia jika hari esok tidak pernah tiba untuk diriku? Apa yang akan dilakukannya? Hanya Tuhan yang tahu.. Setiap hari aku sadar jika tidak ada hak bagiku untuk menuntut keadilan dan kebahagiaan berlebih dari Sang Pemberi Kehidupan. Tidak ada hakku untuk menuntut DIA memberikan segala tuntutanku, apalagi membalas semua amal baik yang “sepertinya” sudah aku kerjakan. Dan, apakah ada hakku untuk khawatir akan masa depan orang-orang yang aku sayangi? TIDAK! Jika dengan rasa khawatir itu kemudian usiaku menjadi bertambah, atau jika dengan perasaan khawatir itu rejekiku menjadi berlimpah, maka bukan hanya diriku, akan tetapi semua manusia didunia ini akan selalu mengijinkan rasa khawatir itu datang dalam hidup mereka.

Setiap malam, aku hanya bisa menyerahkan segala perasaan gelisah dan khawatir kepada Yang Maha Kuasa, sekiranya mungkin, aku yakin DIA akan manjaga dan merawat seluruh orang yang aku kasihi, jika hari esok tidak pernah tiba untukku. Aku juga yakin DIA juga akan terus mencurahkan rejeki kepada semua orang baik yang ada didunia ini untuk menghibur dan selalu menyatakan kehadirannya dalam setiap kesulitan dan tantangan yang dihadapi.

Jika hari esok tidak pernah datang untukku, akankah dia, pujaan hatiku tahu betapa besar perasaan cintaku kepadanya? Apakah selama ini aku sudah memberikan segala usaha terbaikku untuk membuatnya bahagia? Apakah aku sudah menunjukkan sebarapa besar rasa cintaku kepadanya?

Jika hari esok tidak pernah datang untukku, akankah dia, pujaan hatiku tahu betapa besar perasaan cintaku kepadanya? apakah sudah cukup Kiranya Sang Pembawa Pesan yang Agung, memiliki waktu untuk menyampaikan itu kepadanya. (AliHD)