iT’s Me– Bicara tentang kematian, tentu agak “menyeramkan” bagi sebagian orang. Bahkan cenderung dihindari dan hanya dibicarakan saat takziah atau ceramah-ceramah saja. Kematian adalah sebuah kepastian. Akhir dari setiap episode kehidupan. Dan bukan hal yang bisa dihindari, dimajukan ataupun diundur, sekalipun kita pergi ke ujung dunia dan bersembunyi dibenteng kokoh sekalipun, kematian pasti akan menjumpai kita jika telah tiba waktu kita.

Sama seperti suamiku. Setiap kali aku berbicara dengannya tentang kematian, dia hanya diam dan senyum bahkan beberapa kali memandangku seolah mengisyaratkan untuk tak bicara begitu lagi. Masih teringat jelas, percakapan kami malam itu. Sebelum tidur, dia menyempatkan melihat handphone nya untuk membalas pesan dari kawannya. Ku awali pembicaraan “Bi, bagaimana kalau umi lebih dulu dipanggil Allah?” Sesaat ia menghentikan aktifitasnya depan handphone, sembari menatapku dan hanya bilang “Hmmm”. Seolah ingin mengatakan bahwa tak ingin membicarakannya. Meski dia tak suka, tapi entah kenapa, dibeberapa kesempatan, aku lebih sering membicarakannya. D iwaktu-waktu menjelang istirahat, sekaligus sebagai muhasabah bagi kami. Muhasabah setelah seharian beraktifitas, dan berusaha saling menasehati serta menguatkan satu sama lain.

Seolah tak mempedulikan ketidak sukaannya terhadap pembicaraan tentang kematian, aku justru lebih sering membicarakannya. Terlebih beberapa bulan lalu seorang wanita yang sudah seperti keluarga bahkan seperti sosok ibu bagiku meninggal dunia. Meninggalkan suami dan ketiga anaknya. Berita yang sangat mengejutkan karena begitu mendadak. Meninggalkan banyak kenangan dan cerita. Melihat kepergiannya yang meninggalkan duka mendalam bagi suami dan anak-anaknya, aku pun teringat akan kehidupanku. Tak ada yang abadi di dunia ini. Maut bisa datang kapan pun, dan di manapun. Tak terbayang olehku bagaimana jika aku yang ditinggal pergi. Ku ingat sosok Nenek yang ditinggal pergi oleh kakekku, yang hingga saat ini tak mampu menghilangkan dukanya. Begitupun Ibu mertuaku yang ditinggal pergi oleh suaminya dan hingga kini masih menyimpan duka itu. Dan aku, tak bisa aku bayangkan bagaimana kondisiku jika berada dalam posisi itu.

Itulah mengapa, sering aku berkata pada suamiku bahwa aku berharap jika Izroil datang, datanglah padaku lebih dulu. Agar aku tak merasakan kehilangan dan duka yang dalam, karena tak bisa ku bayangkan bagaimana perihnya kehilangan dirinya. Suatu hari, selepas Isya, aku duduk di sampinya. Aku berbisik lirih di sampingnya “Bi, jika Ummi pergi lebih dulu, abi jangan sedih yaa.. abi harus tetap semangat kerjanya, semangat dakwahnya. Tolong urus jenazah ummi dengan baik sesuai syariat. Tolong iringi setiap prosesnya ya bi, Mandikan, kafani, sholatkan dan kuburkan ummi ya bi. Sambung ukhuwah dengan sodara, kerabat dan kawan umi, tolong terus kirimkan doa buat ummi di setiap sujud abi ya. Ummi berharap, jika tiba nanti waktunya, ummi meninggalkan abi saat kita sudah punya dede. Agar ada yang menemani abi. Tetaplah jadi abi yang ummi kenal” ku tutup kata-kataku dengan senyum menahan tangis. Karena jujur setiap bicara tentang perpisahan pasti tak kuasa menahan air mata. Kulihat dia berbalik arah menatapku tajam. Diletakkan tangannya dikepalaku. Meski tak berkata apa-apa dan hanya mengangguk, aku tau dia merasakan hal yang yang sama denganku.

Di dunia ini, tak ada yang ingin dipisahkan dengan apa yang dia cintai. Pemuja harta tak ingin kehilangan hartanya, pemilik wajah rupawan, tak ingin kehilangan kecantikkan/ketampanannya, suami istri yang saling mencintai tak ingin terpisah, anak dan orang tua tak mau terpisah. Semuanya. Karena mencintai adalah fitrah. Kematian adalah pemutus segala kenikmatan dunia. Meski tak ku ketahui kapan waktuku akan pergi, banyak doa yang kupanjatkan pada Robb ku jika waktunya telah tiba. Berat rasanya. Tapi kematian adalah hal yang dirindukan oleh orang yang beriman. Karena kematian adalah pintu menuju syurgaNya Allah dan bertemu dengan Allah. Tak ku ketahui kapan waktu itu akan datang. Bukan perkara kapan, tapi apa yang telah ku persiapkan. Untukmu suamiku, jika nanti kelak aku mendahuluimu, maafkan semua kesalahan dan kekuranganku. Tak henti rasa syukur karena telah diizinkan hidup bersamamu. Menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Tak ada sesal dalam hidupku meski beragam duka kita lewati karena selalu ada cara Allah membahagiakan kita. Kaulah sahabatku dalam ketaatan. Segala untaian kata tak cukup untuk mengungkapkannya. Kuselesaikan tulisan ini sambil memandangmu yang telah lelap dalam tidurmu.



Latest posts by arpan (see all)