Featured, Its My Faith

Jejak Peradaban Kuno di Indonesia

oleh Ali Romdoni

21 November 2018

Jejak peradaban kuno di Indonesia tersebar di hampir setiap titik dari Sabang hingga Merauke. Jejak itu ada yang berwujud prasasti, batu nisan, patung, candi, nama tempat, benda pusaka, hingga serat dan babad yang tertulis di daun lontar. Benda-benda itu menyimpan jutaan informasi (misteri), yang oleh sang empunya dimaksudkan sebagai media perantara untuk menyampaikan pesan kepada generasi saat ini.

Benda-benda bersejarah juga menjadi penghubung antara satu generasi masa lalu dengan manusia modern. Melalui media ini, kita bisa mengetahui dan belajar banyak tentang kemajuan pengetahuan dan teknologi terdahulu, untuk membangun peradaban yang lebih baik lagi. Dalam konteks ini kita harus bersyukur, karena nenek moyang bangsa Indonesia menyiapkan seperangkat sistem transformasi ilmu pengetahuan bagi anak dan cucunya.

Bayangkan bila bangsa-bangsa pendahulu di bumi Nusantara tidak meninggalkan jejak. Tentu kita akan kesulitan untuk mengenali mereka, dan mengetahui sejauh mana para pesohor itu telah menorehkan prestasi dalam konteks persaingan global pada zamannya. Jangankan tidak meninggalkan jejak, kita yang hari ini menerima begitu banyak peninggalan harta-pusaka saja masih kebingungan untuk mencernanya.

Jejak Majapahit

Jejak Majapahit: Candi Tegowangi di Kediri, Jawa Timur (2018)

Lalu bagaimana kita mempelajari ilmu pengetahuan yang sudah diwariskan oleh para pendahulu kita?

Dalam artikel ini penulis ingin menyampaikan langkah-langkah untuk menyelamatkan dan selanjutnya membuka ‘misteri’ yang terkandung dalam jejak peradaban kuno yang ada di Indonesia. Pertama, sebagai keturunan bangsa besar, kita perlu membangun kesadaran betapa penting dan berharganya warisan masa lalu. Kesadaran seperti ini akan menjadi semacam spirit untuk melakukan pencarian (proses mempelajari) yang tidak berhenti.

Kedua, dengan perkembangan dunia modern kita akan berupaya memecahkan ‘misteri’ teknologi masa lalu. Tujuannya tidak lain untuk membantu masyarakat modern dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini sesuai tujuan penciptaan teknologi, sekaligus melahirkan tatanan sosial yang harmonis.

Ketiga, dalam proses mempelajari warisan nenek-moyang itu kita harus tampil menjadi pribadi yang ulet dan mandiri. Yakinlah, dalam jati diri orang-orang Indonesia terdapat potensi khusus untuk memahami keunggulan para pendahulunya. Sebaliknya, berhentilah beranggapan bahwa bangsa lain lebih memahami warisan bangsa-bangsa di Nusantara.

Penulis sangat tidak setuju dengan anggapan sebagian orang, bahwa benda-benda bersejarah bangsa Indonesia yang saat ini tersimpan di beberapa museum atau berserakan di beberapa tempat di Belanda, hal itu akan lebih baik, ketimbang kalau berada di Indonesia. Menurut mereka, karena untuk merawatnya membutuhkan peralatan khusus.

Bila pendapat semacam itu dihembuskan oleh pihak pengelola museum, artinya mereka menganggap kita bangsa Indonesia tidak becus menjaga warisan nenek moyang sendiri. Namun bila kita sendiri yang memiliki anggapan demikian, berarti ada yang salah dalam berfikir. Mengapa harus orang lain yang lebih menguasai kekayaan bangsa kita?

Di atas semua itu, kita seharusnya faham, betapa di luar sana ada pihak-pihak yang sangat ‘bernafsu’ untuk merampas kekayaan pengetahuan dan budaya bangsa Indonesia.

Berdasarkan data Pusat Arkeologi Nasional, tidak kurang dari 22 prasasti peninggalan kerajaan masa lampau bangsa Indonesia saat ini berada di Belanda: Prasasti Sangsang dan Prasasti Wukajana (di Tropen Museum); Prasasti Guntur (di Maritim Muesum Roterdam); Prasasti Wintang Mas, Prasasti Sobhamarta, Prasasti Tulangan, 14 lempeng Prasasti Bungur/Gedangan, Prasasti Ratawun, dan Prasasti Erkuwing/Poh Galuh (di Leiden National Museum Of Ethnology). Selain di Negeri Kincir Angin, ada juga prasasti yang disimpan di museum nasional Prancis, dan beberapa lainnya menjadi koleksi sebuah museum Frankfurt (Indra Subagja, Detiknews, 11 Februari 2015).

Daftar di atas belum termasuk benda bernilai sejarah lainnya, seperti patung, pusaka, dan naskah kuno. Mengapa mereka begitu berminat menyimpan barang-barang dari negeri kita?

Keempat, jangan sampai kita lalai dan mencampakkan warisan masa lalu. Kaum muda Indonesia harus memiliki kemauan untuk melakukan ekspedisi (penjelajahan) dan eksplorasi (pencarian) tempat-tempat bersejarah yang berserakan di berbagai tempat di Indonesia.

Ini pula yang penulis lakukan beberapa waktu yang lalu ketika mengunjungi situs Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur. Daerah Trowulan merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit (1293-1478). Di daerah Trowulan tersimpan jejak kebesaran Nusantara di masa lalu yang namanya menggema hingga ke mancanegara.

Mengunjungi tempat bersejarah merupakan proses awal untuk melakukan penelusuran pesan generasi pendahulu yang tersimpan di balik artefak dan berbagai informasi penting lainnya. Jejak bersejarah selanjutnya akan menjadi perantara bagi para peneliti dan pecinta pengetahuan untuk melakukan penyelidikan ilmiah. Ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Bagaimana pun, rekonstruksi ilmu pengetahuan membutuhkan bukti material (konkrit) yang proporsional. Dalam upaya merekonstruksi ilmu pegetahuan, satu generasi membutuhkan bukti otentik tentang adanya peradaban kuno. Berita mengenai peradaban besar bangsa Nusantara kuno saat ini hanya terdengar dari mulut ke mulut, atau telah ditulis oleh sebagian ilmuwan. Maka, menjadi tugas kaum muda untuk melakukan penelusuran secara serius.

Membicarakan hal ini, penulis menyesalkan tindakan sebagian masyarakat Arab yang begitu bersemangat meratakan jejak-jejak penting seputar kehidupan Nabi Muhammad di Kota Mekkah dan Madinah.

Bagaimanapun, di masa yang akan datang kita akan menghadapi sedikit kesulitan ketika mendiskusikan kehidupan umat Islam pada masa awal, terlebih ketika audiens mempertanyakan bukti material lingkungan di sekeliling Nabi Muhammad pada masa hidupnya.

Sempat terlintas di benak penulis, apakah para penganut faham Wahabi sewaktu merusak situs-situs penting yang berkaitan dengan dunia Islam tidak berfikir bagaimana mereka mempertanggung-jawabkan kepada generasi Islam di masa depan? Bagaimana menceritakan kehidupan Nabi, sementara jejak otentiknya ditenggelamkan?

Tetapi penulis kemudian segera tersadar, memang demikianlah watak peradaban. Ia akan tumbuh hingga menjulang, dan pada waktunya akan menghilang hingga tidak berbekas.

Meskipun demikian, sebagai masyarakat terdidik, kita harus ingat bahwa jejak (warisan) peradaban masa lalu pada hakekatnya adalah literature penting yang harus kita baca. Jangan lupa, “…Iqra’ bismi-Rabbik…” Bukankah demikian?

Washallallahu ‘ala sayyidina Muhammad.

Ali Romdoni

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.