Its NOT Me

Jangan sebut saya kafir!

oleh DerielHD

15 April 2019

“Tidak penting apa latar belakangmu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang lebih baik untuk semua orang. Orang tidak akan tanya apa agamamu, apa sukumu, dan apa latar belakangmu” (Gus Dur)

Ungkapan tersebut mungkin merupakan sesuatu yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia. Selain diungkapkan oleh seorang ulama’ yang sekaligus presiden RI ke-4, ungkapan ini juga mempunyai makna yang sangat dalam, yaitu makna tentang indahnya toleransi tanpa adanya diskriminasi.

Berbicara tentang toleransi sama halnya berbicara tentang Indonesia. Toleransi dan Indonesia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Indonesia tidak akan dapat berdiri tanpa adanya toleransi antar pemilik negeri. Semua perbedaan yang ada di Indonesia dapat hidup berdampingan dengan damai karena adanya rasa toleransi, termasuk perbedaan agama. Perbedaan agama merupakan hal yang wajar di negara Indonesia. Sesama bangsa Indonesia diwajibkan untuk menghargai antara satu dengan yang lainnya. Tujuannya hanya satu, yaitu menciptakan perdamaian antar umat beragama. Tujuan tersebut mungkin sudah teealisasikan sampai sekarang, dimana masyarakat berbeda agama hidup rukun bertetangga.

Namun, hal lucu terjadi di bumi pertiwi akhir-akhir ini. Justru ketidak harmonisan terjadi pada satu agama. Antar kelompok dalam agama yang sama saling menghujat dan berdebat untuk mengklaim bahwa golongannya lah yang paling benar. Anehnya, yang menjadi bahan perdebatan adalah hal yang kurang begitu bermanfaat.

“Jangan sebut kafir, non muslim aja”, “kafir ya kafir, tidak ada istilah non muslim” dua kalimat tersebut sebagai contoh perdebatan yang sempat menghiasi media sosial masyarakat Indonesia. Perdebatan yang bisa dibilang kurang bermutu menurut penulis. Terlebih lagi jika hal tersebut dikait-kaitkan dengan kepentingan politik.

“Lalu, mana yang paling benar, kafir atau non muslim ?” mungkin itu adalah salah satu pertanyaan yang muncul dikalangan orang yang baru mengenal agama Islam atau yang sering disebut orang awwam. Jawaban yang paling tepat menurut penulis adalah tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah.

Kelompok yang lebih mengutamakan penyebutan “non muslim” pastilah mempunyai tujuan yang baik. Tujuannya yaitu untuk menghargai perasaan saudara sebangsa dan setanah air yang berbeda agama. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan sesama bangsa Indonesia.

Untuk itu, marilah kita membiasakan diri untuk tidak merasa paling benar. Jikalau sudah merasa paling benar, pastilah akan muncul perasaan untuk menyalahkan orang atau kelompok lain yang tidak sependapat dengan kita. Hal ini akan membuat kita menjadi orang yang kaku dan mudah mencaci. Kekakuan tersebut akan menutup diri dari berbagai hal, termasuk dari kebenaran yang disampaikan orang lain ketika kita salah.

Tidak perlu mempermasalahkan penyebutan kafir ataupun non muslim, karena belum tentu diri kita sudah benar-benar Islam. Seperti yang dikatakan Gus Dur bahwa orang yang sibuk mengafirkan yang lain sering kali lupa dengan dirinya sendiri.

Solusi terbaik adalah lupakan sebutan kafir ataupun non muslim. Kemudian, ganti sebutan tersebut dengan sebutan saudara. Karena sejatinya mereka merupakan saudara kita sebangsa dan setanah air. Meskipun berbeda, tetapi mereka tetaplah bangsa Indonesia. Sehingga wajib bagi sesama bangsa Indonesia untuk menyebut sebagai saudara. Tidak perlu menyebut non muslim apalagi kafir.

Penyebutan saudara pastilah lebih membuat nyaman hati orang-orang yang berbeda agama dengan kita. Tidak ada rasa diskriminasi agama dalam kata saudara. Hal ini tentu berbeda dengan penyebutan non muslim, yang kesannya membawa agama. Terlebih lagi dengan sebutan kafir yang terkesan memusuhi mereka.

Tidak hanya perihal penyebutan. Kita juga harus memperlakukan saudara sesama bangsa Indonesia dengan baik. Tidak perlu menanyakan agama ataupun sukunya sebelum membantunya. Karena berbuat baik terhadap sesama adalah kewajiban manusia. Semua agama pasti memerintahkan hal itu. Tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan kebencian.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis