Featured, Its My Life

Jangan Sampai Kamu Tak Tertolong Karena Menolong

oleh Mr Ben

14 April 2018

Ini adalah kesekian kalinya saya mengunjungi Manado untuk perjalanan bisnis. Mengambil jadwal penerbangan pagi, saya tiba di counter check in sekitar 2 jam lebih awal dari jadwal penerbangan saya. Walau masih pagi, antrian  sudah terlihat panjang disetiap counter. Terlihat juga beberapa penumpang begitu tergesa-gesa, mungkin karena pesawat mereka akan segera boarding. Saya pun melebur dalam antrian yang cukup panjang.

Setelah mengantri kurang lebih 15 menit, tiba lah giliran saya. Namun sebelum melangkah maju, dua orang di belakang saya yang dari tadi terlihat gelisah meminta agar terlebih dahulu dilayani karena pesawatnya akan segera boarding. Saya pun spontan bergeser posisi ke belakang mempersilahkan mereka maju. Walau saya telah mengantri cukup lama, saya harus rela mengalah dan mengutamakan mereka. Ini adalah keadaan ‘darurat’, dimana saya harus menolong  mengutamakan mereka terlebih dahulu.

Seperti biasa, sebelum pesawat take off, awak kabin atau pramugari memperagakan petunjuk keselamatan sipil. Biasanya saya tidak begitu memperhatikan bagian ini, bukan karena mengabaikannya tapi karena sudah terlalu sering bepergian sehingga demo itu bukanlah sesuatu yang baru bagi saya.

Namun kali ini tiba-tiba saya tertegun saat mendengar bagian kalimat yang kurang lebih seperti ini: “Bila tekanan udara di kabin berkurang secara tiba-tiba, masker oksigen akan keluar dari tempatnya…. Bagi penumpang yang membawa anak harus memasang masker oksigennya terlebih dahulu barulah menolong anaknya”

Penggalan kalimat itu tiba-tiba mengganggu pikiran saya. Sebagai seorang ayah, reaksi pertama saya tentulah menyelamatkan anak terlebih dahulu setelah itu baru berusaha menyelamatkan diri sendiri. Jadi sepintas bagi saya kalimat itu terdengar begitu egois, mementingkan diri sendiri serta terkesan mengabaikan anak. Orang tua macam apa yang tega membiarkan anaknya pingsan akibat kehabisan oksigen sementara dirinya sibuk menyelamatkan diri. Mengapa ada anjuran seperti ini, bukankah ini bisa saja mengurangi kepekaan, rasa empati dan solidaritas kita terhadap orang lain khususnya orang tua pada anak?

Namun saat direnungkan lebih dalam, tentu saja jawabannya tidak. Logika sederhananya jika kita pingsan terlebih dahulu karena kehabisan oksigen maka bagaimana kita bisa menolong anak kita sendiri? Atau bisa saja kita sendiri yang pingsan setelah menolong anak karena kehabisan oksigen. Tentunya hal ini tidak diinginkan. Sehingga dalam hal ini penting prinsip untuk menolong diri sendiri terlebih dahulu sebelum menolong orang lain terutama anak.

Ini membawa saya bertanya tentang kehidupan. Seberapa seringkah kita dalam upaya untuk menyenangkan orang lain, kita mengorbankan kepentingan kita sendiri dengan hasil yang tidak memuaskan. Sangat sering kita menempatkan keinginan orang lain sebelum kita sendiri, kita mengorbankan impian dan kebahagiaan kita untuk memenuhi orang-orang yang kita cintai, memberi rasa nyaman buat lingkungan pekerjaan kita, tetapi apakah itu selalu mengarah pada solusi terbaik?

Tahun lalu, saya mengalami sebuah peristiwa besar yang mengguncang jiwa saya. Saya kehilangan istri yang sangat saya cintai, ibu yang penuh kasih buat anak-anak saya. Dia pergi begitu tiba-tiba menghadap Sang Khalik sebelum saya menyadarinya dan itu sangat menghancurkan hati. Hari-hari yang saya jalani selanjutnya penuh perjuangan. Berjuang melawan rasa duka yang begitu mendalam, berjuang menahan air mata yang terus mengalir saat melihat anak-anakku.

Dalam situasi seperti itu, saya harus tetap tampil maksimal, baik itu dalam pekerjaan, komunikasi, kemitraan, pertemanan, dan lain sebagainya. Saya harus tetap menyeimbangkan antara keluarga, pekerjaan dan hubungan sosial. Saya dihadapkan dengan beberapa keputusan yang harus di ambil dengan bijak. Saya harus memberikan yang terbaik, menjaga semuanya tetap berjalan baik dan stabil agar semua orang merasa puas dan nyaman. Namun faktanya, saya tetap tidak bisa melakukan itu dengan baik dan maksimal. Saya melihat kekecewaan, ketidakpuasan, penghakiman; saya melihat kemunduran.  Saya sendiri menjadi lebih emosional, kecewa dan apatis.

Menurut anda, kemana semua ini akan mengarah? Jelas bukan menuju situasi dan kehidupan yang lebih baik! 

Jadi apa yang harusnya dilakukan? Jadilah sedikit egois, utamakan apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan dasar diri sendiri dan nikmatilah hidup. Tempatkanlah kenyamanan diri lebih diatas. Berhenti membuat semua orang merasa puas sementara diri sendiri menjadi lebih terpuruk.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang ibu yang tinggal di Bogor tapi bekerja di Jakarta. Setiap hari ia berjuang berdesak-desakan di Kereta, pergi subuh, pulang malam. Belum lagi ia harus menembus kemacetan dengan transportasi ojek online menuju tempat kerjanya. Ia merasa begitu lelah, kesal dan tertekan dengan situasi yang ia jalani.

Saya bertanya kepadanya, mengapa tidak pindah ke Jakarta saja. Ia mengatakan itu tidak mungkin karena suaminya bekerja di Bogor, anaknya bersekolah di Bogor, belum lagi biaya sewa rumah yang mahal, mereka tidak akan mampu secara finansial. Jelas ibu ini mengorbankan kebahagiaanya demi keluarganya.

Masyarakat menempatkan begitu banyak tekanan pada kita untuk mengikuti jalan pengorbanan diri dan membuat kita merasa bersalah atas pemenuhan kebutuhan dasar diri sendiri. Seoarang ibu selalu berkorban untuk anak-anak mereka; tetapi haruskah mereka dibuat merasa bersalah jika mereka memilih untuk mengejar kesenangan pribadi mereka juga?

Bagaimanapun saya tidak tahu solusi terbaik dari setiap situasi termasuk situasi seorang ibu diatas.  Saya pikir ini adalah pilihan yang sangat personal. Saya tidak bisa menjadi orang yang mengatur seseorang cara menjalani hidupnya. Mereka perlu membuat keputusan dan pilihan mereka sendiri, tetapi satu hal yang benar-benar perlu mereka lakukan adalah bahagia dengan keputusan yang mereka buat. Mengapa membenci sesuatu yang kamu pilih untuk dilakukan? Kamu membuat keputusan, jadi semoga juga menikmati hasilnya.

Jadi ya, silakan keluarkan dirimu dari kotak kemudian baru menolong orang lain. Orang yang tidak bahagia tidak akan pernah bisa membuat orang lain bahagia sekalipun ia berusaha mencobanya. Selalu akan ada keletihan dan efek negatif yang mengikutinya.

Dalam sebuah kesempatan seorang bapak yang saya temui beberapa waktu lalu mengeluhkan anaknya terjerumus dalam pengaruh pergaulan bebas. Sudah berbagai cara dan nasehat ia lakukan untuk menyadarkan anaknya tapi tetap saja tidak ada perubahan. Ia merasa kesal dan frustrasi. Saya menanyakan kepadanya bagaimana situasi dirumahnya, berapa banyak waktu yang ia punya untuk bersama anaknya dirumah, mengajaknya bepergian bersama atau lain sebagainya.

Kita mungkin pernah mengalami situasi dimana kita begitu sangat frustrasi dalam menghadapi sebuah kondisi hidup atau keadaan orang lain yang tidak kunjung berubah padahal segala cara telah di lakukan untuk mengubahnya. Jika itu yang dialami maka kemungkinan besar kita lah yang perlu berubah terlebih dahulu, kita perlu menolong diri kita terlebih dahulu sebelum menolong orang lain. Ada sesuatu yang perlu kita ubah dari diri kita sendiri, entah itu cara bertutur kita, cara berpikir kita, gaya hidup kita, waktu kita atau pun hati kita, dan lain sebagainya.

Kita tidak bisa memulihkan keadaan orang lain jika kita sendiri sakit. kita perlu berbenah memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum membenahi kehidupan orang lain. Pun dalam membuat sebuah perubahan, kita perlu berubah terlebih dahulu sebelum mengubah keadaan orang lain.

Kita tidak bisa mengharapkan orang lain tersenyum kepada kita jika sikap kita sendiri selalu kaku, dingin dan penuh sinis. Kita tidak pernah bisa memiliki rumah impian kita, jika gaya hidup kita sendiri selalu boros untuk hal-hal yang tidak prioritas. Kita tidak bisa mengharapkan anak-anak kita bertutur kata yang santun dan penuh etika jika dari mulut kita sendiri selalu keluar kata-kata kotor dan kasar. Kita tidak bisa mengharapkan kendaraan kita tetap awet jika cara berkendara kita sendiri ugal-ugalan dan malas melakukan perawatan rutin. Jabatan dan gaji kita tidak akan pernah dinaikan jika kwalitas kinerja kita tidak pernah ditingkatkan.

Tak peduli seberapa mulia niatmu ingin menolong orang lain, kamu tidak begitu berguna bagi siapapun sampai kamu mengurus dirimu sendiri dengan baik. Jadilah kuat, jagalah dirimu sendiri maka kamu dapat benar-benar membantu orang lain. Jika kamu ingin melihat sebuah perubahan, kamu harus berubah terlebih dahulu. Untuk mengubah dunia luar mu, mulailah dengan mengubah diri sendiri. Jika ingin berbuah, berubahlah.

Jangan sampai kamu tak tertolong karena menolong orang lain. Pakailah masker oksigenmu terlebih dahulu sebelum menolong yang lain! Salam dari 35000 kaki dpl**

Mr Ben

Berawal dari mendirikan sebuah Lembaga Penyiaran Swasta, sejak saat itu visi terus berkembang | Pendiri dan CEO dari beberapa media yang bersifat profit dan non profit | Cyberlabpro | iTsme | SajaddahFM | SajaddahLive | PanuaFM | SorbanFM | Seorang Coffee Addict