iT’s me – Tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan diantara kita memeluk agama tertentu bukan karena pilihan sendiri tapi karena terlahir dalam agama tersebut alias agama turunan. Bahkan di Indonesia, seseorang kadang bisa dengan mudah ditebak agamanya dari daerah mana dia berasal. Misalnya jika berasal dari Manado berarti beragama Kristen, jika berasal dari Aceh berarti beragama Islam, dari Bali berarti beragama Hindu atau Budha, dan lain sebagainya.

Hal ini tentu tidak salah karena itu sesuatu yang sangat alamiah, namun yang perlu menjadi catatan adalah tak sedikit diantaranya hanya sekedar mengikuti ajaran, praktek dan ritual turunannya (liturgis) tanpa sebuah telaah kritis alias taklid buta. Walaupun pada dasarnya mereka menerima kitab sucinya sebagai kebenaran mutlak namun seringkali dengan penafsiran yang ‘diajarkan’  sehingga akhirnya penerapan praktek dan ritual menjadi sekedar berdasarkan ‘di rumah tangga manakah seseorang itu dilahirkan’ dan apa yang diajarkan atau didakwahkan (dikhotbahkan) oleh turunan dan pemuka agamanya.

Dalam Islam, Al-Qur’an tidak menganjurkan taklid buta semacam itu. Sebaliknya Al-Qur’an menegur umat manusia yang tidak menggunakan akal pikiran mereka. Sumber daya semacam itu (akal pikiran) tidak dianugerahkan Allah pada manusia tanpa tujuan, melainkan disertai niatan hakiki yang  salah satunya penggunaan akal untuk mencapai suatu kebenaran, meskipun hal itu mungkin bertentangan dengan ajaran agama turunan yang dianutnya semenjak ia masih kanak-kanak.

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk? QS Al-Maidah (5) 104

Al-Qur’an menggunakan istilah Arab ‘Aql’ yang sangat deskriptif untuk menjelaskan nalar, intelektualitas, dan pemahaman.

Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak mengerti. (Aql – Arabic: yAQLun) QS Al-Anfaal (8) 22

Dalam Al-Quran, narasi disampaikan pada para pembacanya untuk menyerukan agar mereka menggunakan akal dan nalarnya. (Bahasa Arab:Aql)

…..Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (Bhs Arab: afalatAQLun) QS Al-A’raaf (7) 169 (dikutip sebagian).
Untuk mengerti berarti harusnya menggunakan  akal!

Kita membaca di sepanjang Al-Quran bahwasanya beberapa kota dimurkai dan dimusnahkan Allah karena para penduduknya tidak menggunakan ‘aql’nya namun sebaliknya malah mengikuti nafsunya dengan membabi buta dan melanggar batasan-batasan-Nya. Hal ini bisa jadi sebagian disebabkan oleh tekanan masyarakat atau mengikuti praktek-praktek dan kejahatan para leluhur serta sesamanya. Tapi apapun penyebab dan kecenderungannya, tampak sepenuhnya jelas dari perspektif Al-Qur’an bahwasanya setiap jiwa manusia telah dianugerahi kemampuan mendasar untuk mengetahui mana yang benar dan salah. Karenanya, hal ini merupakan tanggungjawab pribadi.

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. QS. Asy-Syams (91) 7-10

Sayangnya banyak yang masih senang mengikuti begitu saja turunan mereka dengan membabi buta atau mencari aman dengan mengikuti pendapat kebanyakan orang. Al-Qur’an berulangkali memperingatkan pendekatan demikian. Al-Qur’an menyertakan kisah-kisah nabi-nabi terdahulu yang berjuang melawan taklid buta mayoritas umat. Mereka sendirian berdakwah kepada mayoritas umat yang terbutakan sampai akhirnya lingkungan tersebut mendapatkan teguran keras atau bahkan dihancurkan sepenuhnya.



Mr Ben

Mr Ben

Pekerja Sosial dan Pegiat Media
Kepala Divisi Media Yayasan Hidayah Bangsa
Direktur Utama Fokus Media Group
(PT Internasional Fokus Media, PT Radio Fokus Media Lombok, PT Radio Fokus Media Gorontalo) Komisaris PT Radio Swara panua
Mr Ben