Featured, Its My Faith

Sekedar Agama Turunan

oleh Mr Ben

2 April 2018

iT’s me – Tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan diantara kita memeluk agama tertentu bukan karena pilihan sendiri tapi karena terlahir dalam agama tersebut alias agama turunan. Bahkan di Indonesia, seseorang kadang bisa dengan mudah ditebak agamanya dari daerah mana dia berasal. Misalnya jika berasal dari Manado berarti beragama Kristen, jika berasal dari Aceh berarti beragama Islam, dari Bali berarti beragama Hindu atau Budha, dan lain sebagainya.

Hal ini tentu tidak salah karena itu sesuatu yang sangat alamiah, namun yang perlu menjadi catatan adalah tak sedikit diantaranya hanya sekedar mengikuti ajaran, praktek dan ritual turunannya (liturgis) tanpa sebuah telaah kritis alias taklid buta. Walaupun pada dasarnya mereka menerima kitab sucinya sebagai kebenaran mutlak namun seringkali dengan penafsiran yang ‘diajarkan’  sehingga akhirnya penerapan praktek dan ritual menjadi sekedar berdasarkan ‘di rumah tangga manakah seseorang itu dilahirkan’ dan apa yang diajarkan atau didakwahkan (dikhotbahkan) oleh turunan dan pemuka agamanya.

Dalam Islam, Al-Qur’an tidak menganjurkan taklid buta semacam itu. Sebaliknya Al-Qur’an menegur umat manusia yang tidak menggunakan akal pikiran mereka. Sumber daya semacam itu (akal pikiran) tidak dianugerahkan Allah pada manusia tanpa tujuan, melainkan disertai niatan hakiki yang  salah satunya penggunaan akal untuk mencapai suatu kebenaran, meskipun hal itu mungkin bertentangan dengan ajaran agama turunan yang dianutnya semenjak ia masih kanak-kanak.

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk? QS Al-Maidah (5) 104

Al-Qur’an menggunakan istilah Arab ‘Aql’ yang sangat deskriptif untuk menjelaskan nalar, intelektualitas, dan pemahaman.

Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak mengerti. (Aql – Arabic: yAQLun) QS Al-Anfaal (8) 22

Dalam Al-Quran, narasi disampaikan pada para pembacanya untuk menyerukan agar mereka menggunakan akal dan nalarnya. (Bahasa Arab:Aql)

…..Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (Bhs Arab: afalatAQLun) QS Al-A’raaf (7) 169 (dikutip sebagian).
Untuk mengerti berarti harusnya menggunakan  akal!

Kita membaca di sepanjang Al-Quran bahwasanya beberapa kota dimurkai dan dimusnahkan Allah karena para penduduknya tidak menggunakan ‘aql’nya namun sebaliknya malah mengikuti nafsunya dengan membabi buta dan melanggar batasan-batasan-Nya. Hal ini bisa jadi sebagian disebabkan oleh tekanan masyarakat atau mengikuti praktek-praktek dan kejahatan para leluhur serta sesamanya. Tapi apapun penyebab dan kecenderungannya, tampak sepenuhnya jelas dari perspektif Al-Qur’an bahwasanya setiap jiwa manusia telah dianugerahi kemampuan mendasar untuk mengetahui mana yang benar dan salah. Karenanya, hal ini merupakan tanggungjawab pribadi.

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. QS. Asy-Syams (91) 7-10

Sayangnya banyak yang masih senang mengikuti begitu saja turunan mereka dengan membabi buta atau mencari aman dengan mengikuti pendapat kebanyakan orang. Al-Qur’an berulangkali memperingatkan pendekatan demikian. Al-Qur’an menyertakan kisah-kisah nabi-nabi terdahulu yang berjuang melawan taklid buta mayoritas umat. Mereka sendirian berdakwah kepada mayoritas umat yang terbutakan sampai akhirnya lingkungan tersebut mendapatkan teguran keras atau bahkan dihancurkan sepenuhnya.

Kita bisa menyimak kisah umat dari sebagian nabi seperti nabi Luth, Saleh, Hud dan Syu’aib. Kisah-kisah historis tersebut tetap jelas untuk dibaca dan dipelajari siapapun. Bahkan seumur hidup Nabi Nuh pun tidak mampu meyakinkan mayoritas umatnya. Serupa dengan itu, nasihat yang diberikan pada Nabi Muhammad SAW menuai sentimen-sentimen serupa.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan (Bhs Arab: Zana) belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. (Bhs Arab: Yakhrasun) QS Al- An’am (6) 116

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. (Bhs Arab: yAQLuna) Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. QS Al-Furqaan( 25) 44

Terdapat suatu keyakinan dalam pemikiran Muslim (walau tak terbatas pada Muslim saja), bahwasanya untuk alasan tertentu, keyakinan dan praktik mayoritas biasanya adalah yang benar dan harus dijunjung tinggi. Sudut pandang ini biasanya didukung oleh penggunaan sumber-sumber diluar Al-Quran.

Namun sebaliknya, sudut pandang ini sepenuhnya tidak dijamin oleh Al-Qur’an. Walau terdapat peningkatan jumlah umat dalam sebuah agama, ramalan Al-Qur’an terkait hari Kiamat bertolak belakang dengan sudut pandang ini dimana jelas pada hari Kiamat, Setan menyesatkan mayoritas umat manusia.

Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?(Bhs Arab: tAQLun) QS Yaasin (36) 62

Banyak yang akan menyalahkan para pemimpinnya
Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan. QS Al-Ahzab (33) 67

Memang lebih mudah mengikuti dan menerima begitu saja berbagai ajaran yang sudah ada ketimbang harus bersusah payah menelaahnya secara kritis. Lebih mudah ikut saja apa kata ustad, apa kata pendeta ataupun pemimpin agama lainnya. Namun ingat, bagaimanapun juga, mengacuhkan pemberian akal pikiran (aql) dan ikhtiar dalam menerima kebenaran, akan dimintai pertanggungjawaban pada Hari Kiamat nanti.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS Al-Isra (17) 36

Tentu ini tidak menyiratkan bahwa pendapat orang lain atau para tokoh agama tidak boleh dipelajari atau diikuti. Kita harus menghargai semua pendapat dari siapa saja. Namun bagaimanapun juga pendapat-pendapat itu tidak boleh diposisikan sebagai sebuah pandangan yang tidak bisa dikritisi atau bahkan langsung diterima sebagai kebenaran yang tak terbantahkan. Hanya perkataan Allah saja yang pantas diperlakukan demikian. Justru sebaliknya, penelusuran dan telaah kritis terhadap pendapat-pendapat orang lain harus tetap dilakukan.

Meskipun setiap kita adalah bagian dari kelompok sosial inklusif yang lebih besar namun pada akhirnya setiap pribadi mengemban tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Maka jika tanggung jawab ada pada setiap pribadi maka bukankah penelusuran yang jujur dan terbuka terhadap kebenaran juga wajib dilakukan setiap pribadi pula?
Jangan sampai agamamu hanya sekedar agama turunan!

***Terimakasih kepada teman-teman barista Starbucks Botani squere Bogor yang menyajikan Kopi hot americano dan ice greentea latte yang nikmat saat artikel ini diselesaikan dan di republish***

REFERENSI:
1) Quran.com (ayat-ayat alquran)
2) quransmessage
3) Lane. E.W, Edward Lanes Lexicon, Williams dan Norgate 1863; Perpustakaan Liban Beirut-Lebanon 1968, Volume 5, Halaman 2114.

Mr Ben

Berawal dari mendirikan sebuah Lembaga Penyiaran Swasta, sejak saat itu visi terus berkembang | Pendiri dan CEO dari beberapa media yang bersifat profit dan non profit | Cyberlabpro | iTsme | SajaddahFM | SajaddahLive | PanuaFM | SorbanFM | Seorang Coffee Addict