iT’s me – Dalam Islam, kita sering mendengar istilah ‘Hikmah’ dan istilah ‘Sunnah’. Kedua istilah ini pada umumnya merujuk pada sosok mulia Nabi Muhammad SAW. Bahkan istilah ‘hikmah’ bagi sebagian kalangan dimaknai sebagai ‘sunnah’ beliau. Memang tak dapat diragukan lagi bahwa Rasulullah SAW adalah sosok bersahaja yang menjadi panutan penting bagi umat Muslim, namun membatasi kata ‘hikmah’ dalam Al-Qur’an  untuk ‘sunnah’ Nabi SAW adalah kurang tepat.

Sebuah landasan ayat yang kerap dipakai sebagai acuan untuk ‘sunnah’ Nabi SAW adalah sebagai berikut :

وَٱذْكُـرْنَ مَا يُتْـلَىٰ فِى بُيُوتِكُـنَّ مِنْ آيَاتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْــمَةِ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفاً خَبِيراً
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah; sungguh Allah Maha Lembut, Maha Mengetahui. ” Q.S. Al-Ahzab [33]:34.

Kita bisa melihat dengan sangat jelas bahwa tidak ada pencantuman langsung istilah ‘sunnah’ di Q.S. Al-Ahzab [33]:34 di atas meskipun istilah ‘sunnah’ disebutkan dan dipakai dalam Al-Qur’an. Lebih lanjut ditegaskan bahwa Sunnah Nabawiyah terdapat pada sumber-sumber di luar Al-Qur’an.

Kata ‘hikmah’ lebih banyak digunakan di Al-Qur’an. Karena penggunaannya yang beraneka segi dalam konteks-konteks berbeda, kata ini jelas menunjukkan ‘pencerahan’ atau ‘kebijaksanaan’ yang diperoleh seseorang dari suatu “body of work” atau ilmu pengetahuan.

Kata ‘hikmah’ (kebijaksanaan) juga tidak terbatas kepada Nabi atau para utusan Allah, melainkan diberikan kepada siapapun yang merenungkan, merefleksikan, dan mencoba menangkap pesan Allah, serta kepada siapapun yang dikehendaki Allah.

يُؤّتِى الْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ ٱلأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapapun yang dikehendakiNya; dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (bahasa Arab: albabi)” Q.S. Al-Baqarah [2]:269.

Perhatikan kata ‘albabi’ di atas yang tidak mengecualikan mereka yang menggunakan kemampuan berpikir dan memahami. Orang-orang ini mendapatkan Rahmat Allah dengan menerima ‘hikmah’. Karenanya, ‘hikmah’ ini tersedia bagi siapapun (yang dikehendaki Allah) yang berupaya memahami pesan Allah dengan menarik pelajaran dan makna sebaik-baiknya darinya.

ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَـتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُوْلَـٰئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَاهُمُ ٱللَّهُ وَأُوْلَـٰئِكَ هُمْ أُوْلُو ٱلأَلْبَابِ
“mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” Q.S. Az-Zumar [39]:18

‘Hikmah’ juga tidak dibatasi hanya pada Nabi Muhammad SAW dan juga tidak mengacu pada ‘sunnah’ beliau saja karena semua Nabi dan Rasul memiliki ‘hikmah’ (kebijaksanaan).

وَإِذْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَاقَ ٱلنَّبِيِّيْنَ لَمَآ آتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذٰلِكُمْ إِصْرِى قَالُوۤاْ أَقْرَرْنَا قَالَ فَٱشْهَدُواْ وَأَنَاْ مَعَكُمْ مِّنَ ٱلشَّاهِدِينَ
“Dan Ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya,’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (wahai para nabi) dan Aku menjad saksi (pula) bersama kamu.’” Q.S. Ali-Imran [3]:81.

“… bahwasanya ‘hikmah’ adalah pencerahan dan kebijaksanaan yang diterima dan ditarik seseorang dari kitab suci atau dari wahyu.”