iT’s me – Ketika berada dalam kondisi yang tidak ada banyak pilihan, justru pada saat itu kita akan mudah fokus dalam melakukan pekerjaan. Di dalam pesawat terbang, misalnya, seorang penumpang tidak punya alternatif banyak dalam memilih kegiatan. Paling-paling membaca, berbicara dengan sesama penumpang, menonton film, mendengarkan musik, makan-minum, atau tidur untuk melupakan perjalanan.

Ini seperti yang saya alami pada pertengahan tahun 2013 lalu. Ketika itu saya bertolak dari Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menuju Semarang, setelah sepekan melakukan riset dan pembelajaran di kota seribu masjid itu.

Di dalam pesawat saya memutuskan untuk menonton film di layar monitor yang tersedia. “Habibie dan Ainun, ah saya belum pernah nonton film ini,” kata saya dalam hati.

Film ini mengisahkan perjalanan hidup Presiden Republik Indonesia ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie. Termasuk proses pertemuannya dengan belahan jiwa, Hasri Ainun Besari.

Cerita dibuka dengan kisah remaja Habibie dan Ainun. Dua siswa ini sempat belajar di sekolah yang sama, di Kota Bandung. Keduanya merupakan potret anak muda yang berprestasi ketika menempuh jenjang pendidikan yang diberikan oleh orang tua. Sampai akhirnya, Habibie berkesempatan melanjutkan sekolah ke Jerman. Sementara itu Ainun sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan lulus dari fakultas kedokteran di Jakarta.

Jodoh mempertemukan mereka dalam jalinan pernikahan.

Saya mencatat, setidaknya ada lima pelajaran berharga dari peristiwa yang dikisahkan melalui film di atas.

Pertama, kesadaran seorang anak muda untuk bekerja keras dalam mewujudkan impian, cita-cita dan cinta.

Sebagai seorang mahasiswa, Habibie rajin belajar, bahkan sering lupa waktu. Mungkin karena kebiasaan ini, kesehatannya sedikit mengalami gangguan. Satu saat, dia harus balik ke Indonesia karena terkena penyakit Tubercolosis.

Selain kerja keras untuk merampungkan studi, Habibie juga memikirkan strategi agar bisa belajar maksimal dan efektif di negeri orang. Uniknya lagi, di negeri Adolf Hitler, Jerman, Habibie tidak lantas tercerabut dari akar budaya nenek-moyangnya di Indonesia.

Habibie rajin berdoa dan tirakat. Sembari menjadi mahasiswa yang berprestasi, dia berpuasa Senin-Kamis. Hal ini melengkapi kerja keras dan berfikir kreatifnya tadi.

Saya kemudian teringat dengan nasehat mulia yang mengajarkan kepada kita, bahwa apabila kita bertakwa kepada Allah maka akan memperoleh solusi dan rejeki yang melimpah (QS. At-Thalaq/65: 2-3).

Kerja keras, berfikir keras, serta doa seorang Habibie, dalam pandangan saya merupakan ekspresi dari sikap seorang beriman. Orang beriman meyakini akan ada keajaiban dari Tuhan yang sewaktu-waktu menghampiri kita.

Pelajaran kedua, kesadaran pasangan muda (suami-isteri) untuk belajar mandiri dan berjalan di atas kualitas diri sendiri.

Setelah menikah, Habibie memutuskan untuk memboyong isterinya ke Jerman, mendampingi hari-harinya yang masih harus belajar untuk meraih gelar doktor ingenieur di bidang konstruksi pesawat terbang di RWTH Aachen, Jerman Barat.

Dalam kondisi yang demikian, seseorang akan merasakan perjuangan, pengorbanan, juga cita-kasih. Dan, yang terpenting adalah belajar bagaimana menghargai kehidupan. Optimisme dan kecerdasan sipiritual juga berperan dalam membangkitkan energi seseorang. Di tengah proses kehidupan yang harus terus berjalan, Habibie memutuskan menikah dan belajar mandiri.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Qs. An-Nur/24: 32).

Ayat di atas menegaskan bahwa pernikahan dapat menjadi proses awal kehidupan seseorang menuju kondisi yang mapan, dan lebih baik. Saya juga pernah membaca keterangan yang menyatakan, Kanjeng Nabi Muhammad menasehati kita semua bahwa menikah akan mendatangkan kesejahteraan dalam hidup.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)