Its NOT Me

Jalan Tol, Garis Penyambung atau Pemisah?

oleh DerielHD

11 February 2019

Penyambung atau Pemisah? Itulah yang kini ada di pikiran penantang pemerintah saat ini mengenai jalan tol yang sedang gencar-gencarnya dibangun oleh pemerintah. Seakan-akan, ada garis pemisah yang sedang dibangun oleh pemerintah untuk memisahkan masyarakatnya sendiri.

Logika oposisi sederhana, karena ada jalan tol yang dibangun yang kemudian membelah sebuah desa atau dibangun diantara desa, sehingga akhirnya membuat desa tersebut kemudian terpisah. Masyarakat tidak bisa bersosial lagi dengan masyarakat yang lainnya. Pasangan yang sedang kasmaran tidak lagi bisa berjumpa dan melepas rindu. Pernikahan yang seharusnya ramai, menjadi sepi karena undangan dari desa seberang jalan tol tidak bisa datang.

Ya, seolah-olah ada penzaliman yang dilakukan oleh pemerintah terhadap masyarakatnya. Ada ketidak adilan yang terjadi yang memaksa rakyat untuk menjadi susah. Dimana-mana mereka berteriak ‘kami tidak makan jalan tol’. Hingga akhirnya marah ketika ada yang bilang selain pendukung pemerintah ya tidak usah lewat jalan tol.

Tapi benar gak sih? jalan tol itu garis penyambung atau garis pemisah? Mari kita lihat faktanya. Hingga 2018 kemaren, pemerintah sudah menyelesaikan pengerjaan total jalan keseluruhan  mencapai 3.432 Km, jalan tol atau jalan bebas hambatan sepanjang 941 Km dan jembatan dengan total panjang 39,8 Km. Bahkan, jalan tol di pulau jawa sudah tersambung seluruhnya.

Nah apakah masyarakat rugi dengan adanya jalan tol? Ya dan tidak. mengapa? Pertama, kerugiannya dulu yak arena memang kaum nyinyir senang jika membahas kerugian akibat adanya jalan tol. Jika dibandingkan dengan jalan konvensional, ketika kita melewati jalan tol akhirnya kita tidak bisa singgah di beberapa tempat yang menurut kita menarik. Ataupun kalau bisa mampir, kita harus mencari pintu tol an memutar jauh. Pastinya hal ini sudah menyebabkan kerugian dari segi waktu dan biaya. Kemudian ada juga kerugian yang dirasakan oleh para pedagang yang biasanya kita lewati di jalan konvensional. Otomatis jualan mereka menjadi sepi jika semua orang memilih untuk lewat di jalan tol yang tidak melewati rumah atau tempat mereka berdagang. Mau buka lapak di jalan tol? Coba aja hahaha.. Dari segi pengguna? Otomatis biaya nambah dong. Kan harus bayar administrasi tol.

Keuntungannya apa dong? Nah biar adil, ada beberapa keuntungan yang mungkin gak disadari oleh orang yang nyinyir dengan jalan tol, atau sebenarnya mereka tahu, hanya saja ya supaya nafsu politik mereka bisa kesampaian, bodohi aja masyarakat dengan bilang jalan tol gak ada gunanya.

Keuntungan pertama dari jalan tol adalah waktu tempuh perjalanan yang menjadi lebih singkat. Bayangkan ya, Jakarta ke Surabaya yang biasanya ditempuh dalam waktu belasan bahkan puluhan jam, kini bisa dipersingkat hingga tinggal sepuluh sampai sebelas jam saja. Akhirnya waktu yang ditemput untuk bisa bertemu keluarga di kampung jauh lebih cepat kan? Selanjutnya, pendistribusian bahan hasil pertanian dan perikanan dan atau bahan makanan lainnya menjadi lebih lancar. Kebayang kan kalo pengiriman semua bahan kebutuhan tersebut harus melalui jalan yang sempit dan macet..

Itu hanya beberapa keuntungan saja. Benar bahwa ada untung rugi dalam pembangunan infrastruktur, dan tentunya pemerintah sudah memikirkan secara matang mengenai hal ini. Apakah jalan tol malah menjadi pemisah? Kita sebagai pengguna atau penikmat, ya monggo dinikmati dan disyukuri aja, gak usah nyinyir. Toh yang nyinyir dan yang mendukung sama-sama menikmati. Belum tentu kalau kita menjadi pemimpin, kita bisa melakukan hal yang sama. Dan kalau benar ada yang hanya karena ada pasangan yang hendak menikah lalu kemudian batal karena adanya jalan tol yang memisahkan, wah.. kasihan juga si jalan tol itu yang menjadi kambing hitam dari cinta yang gagal itu.. #salamwaras

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis