Oleh : Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si
[Klik disini untuk profile Penulis]

iT’s me – Salah satu, atau mungkin satu-satunya, intelektual Muslim di Australia yang memiliki perhatian dan minat besar terhadap isu tentang Islam dan kebebasan beragama dalam konteks modern ialah Abdullah Saeed. Beliau adalah seorang profesor di Universitas Melbourne, yang –menurut pengakuannya- berasal dari keluarga religius tradisional. Selain pernah terdidik dalam tradisi kesarjanaan Islam klasik dan bahasa Arab di Arab Saudi, dia kemudian terdidik dalam tradisi kesarjanaan modern (Barat). Oleh karena itu, pandangan-pandangannya tentang isu-isu keagamaan dalam konteks modern tidak bisa dipisahkan dari pengetahuannya tentang tradisi Islam dan penguasaannya atas pelbagai perangkat metodologis modern.

Saeed termasuk pemikir dan intelektual Muslim di Australia yang percaya kepada universalitas hak asasi manusia seperti yang dirumuskan dalam DUHAM. Dia berpendapat bahwa hak-hak yang terdapat dalam DUHAM bukanlah sesuatu yang asing dari sudut pandang al-Qur’an, dan bahwa dalam kenyataan hampir semua hak tersebut dapat didukung oleh al-Qur’an dan praktik Nabi Muhammad. Jika terdapat keberatan beberapa kalangan Muslim terhadap hak mengganti agama, hal itu lebih didasarkan pada pembacaan yang keliru terhadap bagian-bagian tertentu dalam al-Qur’an dan pendasarannya kepada hukum Islam pra-modern, kata Saeed.

“… tugas Nabi dan utusan-tusan lainnya sebelum Nabi hanyalah menyampaikan risalah, tidak untuk memaksa siapa pun menerima risalah itu.”

Pernyataan dalam pasal 18 DUHAM mengenai hak untuk ‘change … religion or belief’ sangat penting karena pasal tersebut menyentuh wilayah kontroversial tentang apostasi dalam Islam. Saeed dan Saeed berpendapat bahwa hak kebebasan beragama “mungkin adalah hak asasi manusia tertua yang diakui secara internasional’. Namun demikian, kebebasan semacam ini dilihat sebagai melanggar ajaran yang berkaitan dengan apostasy dalam Islam. Hal ini memberikan wilayah diskusi sengit karena perlakuan terhadap apostasi “tidak berbeda secara esensial dari konseptualisasinya pada abad ke-2 Islam’ sampai saat ini. Ini adalah hukum yang tidak bisa diubah, dan dijelaskan bahwa hukumannya adalah hudud. Skala hukuman ini diperdebatkan di kalangan para sarjana (ulama) Muslim, karena hal itu tidak didasarkan pada hukum al-Qur’an tetapi pada hadits Nabi.54 Perdebatan dalam Islam tentang apostasi berpusat pada soal kejamnya hukuman, tidak pada legalitas tindakan. Beberapa ulama mengklaim bahwa tidak ada dasar al-Qur’an untuk penerapan hukuman mati untuk apostasy dan, selain itu, bahwa kebebasan beragama merupakan prinsip dasar dari Islam. Saeed and Saeed berpendapat bahwa hukuman mati untuk apostasy awalnya terbatas pada tindakan pengkhianatan, tetapi kemudian dibajak oleh mereka yang berusaha menerapkannya untuk kasus konversi dari atau penghinaan terhadap Islam.

Saeed menegaskan ada banyak ayat al-Qur’an yang dengan jelas menyatakan tidak ada seorang pun yang bisa dipaksa untuk menerima atau mengikuti suatu keyakinan atau agama. Menurutnya, tugas Nabi dan utusan-tusan lainnya sebelum Nabi hanyalah menyampaikan risalah, tidak untuk memaksa siapa pun menerima risalah itu. Tema ‘tidak ada pemaksaan keyakian atau agama sangat dominan sepanjang periode pewahyuan al-Qur’an baik di Mekkah maupun di Madinah.

Secara khusus, di Mekkah pesan toleransi sangat menonjol. Ini tidak berarti bahwa pesan al-Qur’an berubah ketika Nabi hijrah ke Madinah dan membangun basis yang kuat untuk Islam. Banyak ayat dari periode Madinah juga menunjukkan dengan jelas bahwa apa yang dituntut dari Nabi dan orang-orang Muslim ialah menyampaikan risalah Tuhan kepada manusia, tidak dengan paksaan atau kekuatan, melainkan dengan diskusi dan persuasi.
Untuk mendukung argumentasinya, Saeed menyajikan beberapa ayat al-Qur’an dalam konteks historis (Mekkah dan Madinah) yang menunjukkan isu tanggungjawab personal yang terdapat dalam al-Qur’an. Setiap orang diberi kapasitas untuk membedakan yang benar dari yang salah. Memilih dan mengikuti suatu sistem keyakinan adalah pilihan atau keputusan pribadi (personal). Ayat-ayat tersebut meliputi: QS 17:15 (Mekkah); 18:29 (Mekkah); 6:104 (Mekkah).

Menurut al-Qur’an, seperti ditegaskan oleh Saeed, rencana Tuhan untuk umat manusia bukanlah bahwa semuanya harus mengikuti jalan yang sama. Manusia memiliki pilihan apakah mau mengikuti jalan Tuhan atau tidak. Karena hal ini merupakan prinsip dasar, maka tugas Nabi hanyalah memberikan penjelasan kepada manusia tentang perbedaan antara yang benar dan yang salah, tidak untuk memaksa manusia menjadi orang yang beriman. Jika sekiranya Tuhan menghendaki niscaya Dia buat semua manusia memilih jalan yang sama. QS 10:99 (Mekkah); 1:31 (Medinah); 16:9 (Mekkah); 6:149 (Mekkah); 6:35 (Mekkah).