Featured, Its My Faith

ISLAM! Antara Kuantitas dan Kualitas

oleh arpan

22 June 2019

Ilmu itu didahulukan sebelum berucap dan berbuat.

“menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (hr: ibnu majah, sanadnya hasan). Bahkan Imam Bukhary menulis satu bab tersendiri tentang hal tersebut, yaitu : Ilmu itu didahulukan sebelum berucap dan berbuat.

Baru saja kita di kejutkan oleh seorang mentalis juga actor, dan peresenter di salah satu statiun televisi suwasta. Deddy Corbuzier Dengan nama asli Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo, keturunan Tionghua baru saja mengucapkan dua kalimat sakral dah suci bagi kita umat islam, yaitu dua kalimat syahadat. Tentu beragam pendapat akan menghiasi layar kaca gadget kita dalam beberapa hari atau beberapa bulan kedepan atas keputusan deddy untuk pindah agama alias menjadi muallaf. Saat Deddy memutuskan menjadi islam, muncul pertanyaan, tentang agama awal Deddy. Karena jarang sekali kita melihat Deddy membicarakan tentang agama yang ia anut secara spesifik sebelum ia memutuskan menjadi islam. Wikepedia pun tidak mencamtumkan jelas apa agama Deddy Corbuzier, tetapi beberapa media menyebutkan bahwa ia asalnya Kristen dari keturunan Tionghoa.

Menjadi muallaf adalah pilihan setiap individu, karena tidak ada paksaan dalam islam. Apalagi di Indonesia yang memang mengatur hak hak beragama, memberikan kebebasan kepada siapa saja  memilih dan hidup dengan agama yang sesuai dengan yang ia yakini, asal tidak merugikan atau merasa di paksa. Pindah agama bukanlah sesuatu yang tabu, sudah sering terjadi, sampai sekarang. Hanya saja, kebanyakan  mereka bukan  public figur sehingga tidak begitu menjadi sorotan dan tidak terlalu ramai dibicarakan. Mendegar Deddy pindah agama itu hal yang biasa. Hanya saja, ketika yang pindah agama adalah public figur maka itu akan menjadi ramai. Ketika kita islam mendengarkan dan menyaksikan seorang menjadi muallaf tentu kita akan bersyukur dan senang, apalagi kalau ia cukup di kenal dan memiliki pengaruh luas. Kita mungkin berharap dari ribuan atau bahkan jutaan yang melihat detik detik pengucapan dua kalimat syahadat Dedy, setidaknya ada yang tergerak dan menigikuti jejak Deddy  menjadi islam, itu baik dan wajar. Tetapi kita harus ingat, bicara Islam bukan hanya soalnya jumlah penganutnya, tetapi juga bicara kualitas dari islam itu sendiri.

Tentu kita pernah mendengar ungkapan “ Masjid semakin banyak (kuantitas) , tetapi jamaahnya  agah ogahan ke masjid (kualitas), Jumlah kita juga semakin bertambah (kuantitas)  tetapi moral dan ahklak kita juga semakin bobrok (kualitas)”. Sedangkan agama islam mengajarkan moral terbaik dan tata ibadah terbaik bahkan sempurna. Lalu ketika ada yang memutusan menjadi islam tetapi secara tingkah laku tidak berubah, masih saja sama, dimana nilai tambahnya? Masuk islam, kata-kata masih penuh dengan emosi bahkan sampai meledek agama lain, dimana baiknya? Atau yang penting Islam? Yang penting seiman? Kualitas sangat dituntut dalam islam, seperti ilmu adab dan akhlak, tidak hanya identitas keagamaan. Ketika memutuskan menjadi islam, maka segala hal yang menjadi tuntutan agama ini harus di jalankan. Apalagi bicara public figur, ia akan selalu menjadi sorotan, hari ini bisa di sanjung, saat tersandung maka siap digunjing.

Di kenyataannya, banyak sebab sehingga seseorang memutuskan untuk pindah agama, diantaranya karena pernikahan, doktrin atau ikut-ikutan. Kita menyebutnya dengan hidayah, walaupun proses hidayah tidak semudah yang kita ucapkan. Beberapa sebab di atas, paling fatal adalah karena ikut-ikutan atau ikut ramai, tanpa mengerti dengan jelas keputusannya sendiri.

“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (qs: al-israa’: 36).

Dari konten konten youtube, program dan juga beberapa wawancaara mengisyaratkan, Deddy Corbuzier mungkin akan menjadi Islam berkualitas, Insyaallah . Tidak sekedar menambah jumlah penganut agama ini atau sekedar ikut ramai dan meningkat reting tertentu. Pada umunya kita memahami bahwa menjadi islam akan berakhir surga, namun tidak ada yang menjamin lepas akan neraka, karena hari perhitungan diciptakan untuk semua mausia. Secara kuantitas kita islam sudah jelas unggul, apalagi di Indonesia. Namun, surga neraka juga di putuskan dari kualitas keislaman kita. Jangan khawatir, kita tetap akan menjadi besar. Namun, sudah seharusnya kita juga focus meningkatkan kualitas dari keislaman ini. Pertanyaan tidak hanya berakhir di “berapa banyak yang kamu islamkan? Tetapi juga seberapa besar manfaat (kualitas) mereka yang sudah menyatakan diri sebagai islam”.

arpan