Its My Life

Isa Dan Bangkai Anjing: Kisah Yang Tidak Ada Dalam Injil?

oleh arpan

30 June 2019

Sebelum menulis panjang lebar, saya pastikan lagi  bahwa Al Qur’an masih Kitabku, Islam masih Agamaku dan Muhammad masih Nabiku. Selama ini, ketika seorang muslim menulis tentang Isa dan Injil kadang dinilai negative. Padahal ini bagian dari proses belajar agar akal terus berkembang dan tidak staknan. Saya bukan dari latar belakan pesantren, sehingga dalam belajar dan mengkaji tidak dibatasi oleh hukum apapun. Di usia 7 tahun saya sudah khatam Qur’an, itu pun masih di tahap IQRA, belum sampai di tahap mengkaji arti dan konteks setiap ayat. Saya kembali mengaji saat kuliah, dan masa itu lagi hot-hotnya debat islam kritsten, Injil Qur’an. Waktu itu saya termasuk salah satu penggemar Dr. Zakir Naik, hingga saya pun jenuh dengan debat-debat yang tersebar, saya merasa kalau saya tidak mendapatkan apa-apa, justru hanya menambah egoh karena kebenaran  absolut dari proses perdebatan tersebut.

Singkat cerita, akhirnya saya memutusan untuk belajar islam dengan membaca Qur’an dan mendapat bimbingan dari teman, ustd dan kiyai yang memiliki pikiran cukup terbuka. Lalu saya coba bertanya beberapa teman Non Muslim tentang Nabi dan kitab yang selalu menjadi bahan debat kedua agama besar ini, yaitu Isa dan injil. Karena menurut saya merekalah ahlinya, mereka lahir, hidup dan mungkin akan mati dengan isa dan injil. Sama halnya ketika saya mendengar ceramah oleh ustad, saya tidak langsung menelan mentah-mentah, saya selalu berusaha untuk mencari sendiri dalam Qur’an. Hal yang sama saya lakukan saat saya bertanya tentang Isa dan Injil ke teman teman Non Muslim, apa yang saya dengar dari mereka saya kembalikan ke Kitabnya. Awal ragu, tapi saya harus tahu sendiri.

Tidak sedikit teman sesama muslim khawatir dengan cara belajar saya. Selama proes belajar, saya sudah kenyang di tuduh sesat dan kafir. Sampai saat ini saya masih membaca Zabur, taurat, Injil Dan pastinya Al-Qur’an. Dan Saya tidak akan masuk kerana asli atau palsu, tapi saya menemukan banyak ayat yang memiliki pesan sangat baik dan mencerahkan bahkan beberapa justru berpengaruh banyak dalam proses hidup saya. Namun, belum lama ini saya menemukan kisah Isa yang sangat berbeda dan saya belum temukan di Kitab Injil sendiri,tentunya injil konsumsi Non Muslim pada umumnya juga banyak di jual di gramedia:

“Suatu ketika, Nabi Isa as. sedang berjalan bersama murid-muridnya. Di tengah perjalanan, mereka melihat seekor bangkai anjing tergeletak. Melihat bangkai itu, salah seorang dari murid Nabi Isa as. berkomentar, “Alangkah busuknya bau bangkai ini.” Mendengar ucapan itu, Nabi Isa as. mengatakan kepada murid-muridnya, “lihatlah giginya, alangkah putihnya.” Para murid beliau pun terdiam mendengar ucapan sang guru. Mereka telah mendapat pelajaran baru dari perjalanan tersebut.”

Kisah ini memiliki hikmah positif, tetapi mengapa hanya kisah ini yang sepertinya familiar untuk kita umat islam. Padahal, begitu banyak kisah-kisah luar biasa dalam kitab Injil yang harusnya juga menjadi dari kisah yang familiar itu. Tidak semua ayat dalam Injil secara bahasa kontreversi dan berat untuk di kita terima. Contoh:

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

“Jangan kamu menghakimi , supaya kamu tidak dihakimi.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi

Dan masih banyak lagi…Saya sengaja tidak mencantumkan di mana letaknya, kalian bisa cari sendiri.

Rukun iman ke tiga mewajibkan kita untuk beriman kepada Kitab-Kitab Allah (Zabur, Taurat, Injil dan Qur’an), dan kisah Isa dan Bangkai anjing di atas pula yang membuat saya tergerak untuk menulis ini. Jika kisah yang justru tidak tertulis menjadi bisa landasan hidup, apatah lagi yang jelas jelas ada dalam kitab-Nya. Saya punya perinsip, Memahami Kitab itu tergantung dari niat pembacanya, jika niatnya hanya untuk berdebat dan membedakan maka perbedaan dan perdebatan jugalah yang akan di temui. Sebaliknya, jika niatnya sungguh-sungguh untuk belajar, maka kita pun akan memperoleh petunjuk, cahaya dan kebenaran, insyaallah!

Konteks dari tulisan adalah proses belajar dan menuntut ilmu, bukan untuk mengajari.  Sangat jelas bawah dalam kitab-kitab terdahulu adalah bagian dari sumber ilmu, dan tentu kisa memiliki proses belajar yang berbeda satu sama lain.

arpan