iTs me – Setiap orang yang menikah tentunya menginginkan keluarga bahagia. Untuk mencapainya, tak sedikit diantara kita berangan-angan memiliki pasangan yang cocok dengan berbagai kriteria yang telah dibuat jauh sebelumnya terhadap pasangannya.

Tak salah memang memiliki standard kriteria tertentu untuk pasangan. Sah-sah saja menginginkan pasangan yang cocok dan membuat kita merasa nyaman. Namun apa jadinya jika pada kenyataannya pasangan kita tidak memenuhi sebagian dari kriteria itu? Apa jadinya jika pasangan kita tak lagi sesuai dengan angan-angan yang kita impikan?

Kisah berikut kiranya dapat memberikan kita sebuah gambaran dan inspirasi berharga untuk itu.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang teman yang sedang mengalami kegalauan dalam rumah tangganya. Dia bercerita bahwa sudah tidak lagi menemukan kecocokan dan merasa tidak nyaman lagi dengan pasangannya sehingga ia tengah mempertimbangkan perpisahan atau cerai sebagai jalan terbaik.

Berikut sedikit penggalan keluh kesah curhatannya yang tentunya saya sudah mendapat ijin darinya. Beberapa kalimat sudah saya ubah menjadi lebih halus demi kenyamanan pembaca tanpa merubah konteksnya.

“Aku kira menikahi seorang wanita berjilbab pasti dia lebih sabar, tidak mudah emosi dan pasti akan selalu lembut dalam bertutur kata. Juga pasti pintar mengurus suami dan anak. Tapi ternyata aku keliru”. Demikian temanku membuka curhatannya. Saya mendengar dengan seksama sambil sesekali menyeruput kopi Americano favoritku.

“Nyatanya, setelah tiga tahun kami menikah dan punya anak, dia tak lagi seperti yang aku inginkan. Kadang saat aku pulang rumah, mainan anak dan baju kotor ada dimana-mana. Rumah berantakan bak kapal pecah. Makanan yang disiapkanpun dingin dan menunya itu-itu saja. Kalau aku menegurnya, dia mudah tersinggung dan marah”. Lanjutnya sambil sesekali menarik nafas panjang

“Jujur, aku stress dengan keadaan rumah tanggaku saat ini. Itu mengapa aku lebih suka menghabiskan waktu diluar bersama teman-teman daripada dirumah. Aku sudah tidak nyaman lagi dirumahku sendiri. Aku sudah berpikir untuk lebih baik kami berpisah. Sepertinya aku akan menyerah dan memilih mengakhiri rumah tangga kami. Mungkin itu jalan terbaik bagi kami daripada hidup bersama tapi selalu ribut bahkan hanya untuk masalah sepelepun kami bertengkar”.

Begitulah kurang lebih sepenggal kisah keluh-kesahnya. Aku pribadi saat mendengar curhatannya, bisa merasakan suasana hatinya dan ikut berempati dengan kondisi pernikahannya.

Ada beberapa masukan dariku untuknya namun mungkin tidak secara mendetail aku bagikan ditulisan ini. Tapi dari kisah temanku ini, kita bisa belajar beberapa prinsip membangun keluarga bahagia dalam pernikahan, agar kita tidak mudah goyah, sekalipun ada tantangan dan badai yang begitu hebat.

Sahabatku, biarkan aku mengatakan ini diawal. Dengan tanpa menafikkan pertengkaran dan sederet permasalahan yang kamu alami diatas, dengarkan baik-baik, jalan cerai bukanlah sebuah solusi. Yakinlah bahwa tak selamanya awan hitam menghantui pernikahanmu.

Izinkan aku memberimu sebuah sudut pandang yang berbeda dari situasimu sahabatku. Lihat dan mengertilah bahwa rumah tanggamu itu hidup, lepas dari baik atau buruknya situasi itu. Ada tanda-tanda kehidupan dirumahmu saat ini sahabatku. Ingat, akan ada saatnya kamu merasa seakan tidak ada kehidupan dirumahmu lagi. Yang ada hanyalah kekosongan, kesunyian dan keheningan.

Biarkan aku berbagi dari sudut pandang situasiku yang sempat kualami sahabatku. Ketika maut memisahkanku dengan almarhumah istriku, malam dimana Tuhan menjemputnya pulang, saat itu aku merasakan kekosongan, keheningan dan kesunyian dirumahku. Memang ada ketiga anakku yang menemani, yang membuat rumahku tetap hidup, namun yang aku maksudkan ialah dalam sudut pengertian Rumah Tangga. Itu sangat berbeda sahabatku.



Mr Ben

Mr Ben

Pekerja Sosial dan Pegiat Media
Kepala Divisi Media Yayasan Hidayah Bangsa
Direktur Utama Fokus Media Group
(PT Internasional Fokus Media, PT Radio Fokus Media Lombok, PT Radio Fokus Media Gorontalo) Komisaris PT Radio Swara panua
Mr Ben