Its My Family

Inilah Akibatnya Kalau Kamu Menikah Dengan Angan-angan

oleh Mr Ben

25 January 2018

iTs me – Setiap orang yang menikah tentunya menginginkan keluarga bahagia. Untuk mencapainya, tak sedikit diantara kita berangan-angan memiliki pasangan yang cocok dengan berbagai kriteria yang telah dibuat jauh sebelumnya terhadap pasangannya.

Tak salah memang memiliki standard kriteria tertentu untuk pasangan. Sah-sah saja menginginkan pasangan yang cocok dan membuat kita merasa nyaman. Namun apa jadinya jika pada kenyataannya pasangan kita tidak memenuhi sebagian dari kriteria itu? Apa jadinya jika pasangan kita tak lagi sesuai dengan angan-angan yang kita impikan?

Kisah berikut kiranya dapat memberikan kita sebuah gambaran dan inspirasi berharga untuk itu.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang teman yang sedang mengalami kegalauan dalam rumah tangganya. Dia bercerita bahwa sudah tidak lagi menemukan kecocokan dan merasa tidak nyaman lagi dengan pasangannya sehingga ia tengah mempertimbangkan perpisahan atau cerai sebagai jalan terbaik.

Berikut sedikit penggalan keluh kesah curhatannya yang tentunya saya sudah mendapat ijin darinya. Beberapa kalimat sudah saya ubah menjadi lebih halus demi kenyamanan pembaca tanpa merubah konteksnya.

“Aku kira menikahi seorang wanita berjilbab pasti dia lebih sabar, tidak mudah emosi dan pasti akan selalu lembut dalam bertutur kata. Juga pasti pintar mengurus suami dan anak. Tapi ternyata aku keliru”. Demikian temanku membuka curhatannya. Saya mendengar dengan seksama sambil sesekali menyeruput kopi Americano favoritku.

“Nyatanya, setelah tiga tahun kami menikah dan punya anak, dia tak lagi seperti yang aku inginkan. Kadang saat aku pulang rumah, mainan anak dan baju kotor ada dimana-mana. Rumah berantakan bak kapal pecah. Makanan yang disiapkanpun dingin dan menunya itu-itu saja. Kalau aku menegurnya, dia mudah tersinggung dan marah”. Lanjutnya sambil sesekali menarik nafas panjang

“Jujur, aku stress dengan keadaan rumah tanggaku saat ini. Itu mengapa aku lebih suka menghabiskan waktu diluar bersama teman-teman daripada dirumah. Aku sudah tidak nyaman lagi dirumahku sendiri. Aku sudah berpikir untuk lebih baik kami berpisah. Sepertinya aku akan menyerah dan memilih mengakhiri rumah tangga kami. Mungkin itu jalan terbaik bagi kami daripada hidup bersama tapi selalu ribut bahkan hanya untuk masalah sepelepun kami bertengkar”.

Begitulah kurang lebih sepenggal kisah keluh-kesahnya. Aku pribadi saat mendengar curhatannya, bisa merasakan suasana hatinya dan ikut berempati dengan kondisi pernikahannya.

Ada beberapa masukan dariku untuknya namun mungkin tidak secara mendetail aku bagikan ditulisan ini. Tapi dari kisah temanku ini, kita bisa belajar beberapa prinsip membangun keluarga bahagia dalam pernikahan, agar kita tidak mudah goyah, sekalipun ada tantangan dan badai yang begitu hebat.

Sahabatku, biarkan aku mengatakan ini diawal. Dengan tanpa menafikkan pertengkaran dan sederet permasalahan yang kamu alami diatas, dengarkan baik-baik, jalan cerai bukanlah sebuah solusi. Yakinlah bahwa tak selamanya awan hitam menghantui pernikahanmu.

Izinkan aku memberimu sebuah sudut pandang yang berbeda dari situasimu sahabatku. Lihat dan mengertilah bahwa rumah tanggamu itu hidup, lepas dari baik atau buruknya situasi itu. Ada tanda-tanda kehidupan dirumahmu saat ini sahabatku. Ingat, akan ada saatnya kamu merasa seakan tidak ada kehidupan dirumahmu lagi. Yang ada hanyalah kekosongan, kesunyian dan keheningan.

Biarkan aku berbagi dari sudut pandang situasiku yang sempat kualami sahabatku. Ketika maut memisahkanku dengan almarhumah istriku, malam dimana Tuhan menjemputnya pulang, saat itu aku merasakan kekosongan, keheningan dan kesunyian dirumahku. Memang ada ketiga anakku yang menemani, yang membuat rumahku tetap hidup, namun yang aku maksudkan ialah dalam sudut pengertian Rumah Tangga. Itu sangat berbeda sahabatku.

Sahabatku, apa alasan yang paling utama kamu menikahi pasanganmu? Jika pernikahanmu didasarkan atas dasar cocok dan tidak cocok, nyaman dan tidak nyaman atau berbagai daftar kriteria yang kamu buat untuk pasanganmu maka jangan pernah berharap lebih dari pernikahanmu. Karena akan ada masanya kamu menemukan banyak ketidakcocokan dari pasanganmu. Akan ada saatnya kamu akan merasa sangat tidak nyaman dengan pasanganmu. Bahkan lebih parahnya, selalu akan ada saatnya kamu menemukan daftar kriteria itu justru lebih lengkap pada diri orang lain dibanding pasanganmu. maka kamu bisa saja akan menjadi sangat liar dan semakin tak terarah.

Sahabatku, omong kosong jika aku mengatakan bahwa almarhumah istriku adalah satu-satunya wanita tercantik didunia ini. Bohong jika aku mengatakan dia adalah satu-satunya wanita terhebat, terbijak, dan berbagai hal  ‘ter yang satu-satunya’ didunia ini. Karena kenyataannya masih ada banyak wanita diluar sana yang lebih cantik, lebih nyambung jika diajak diskusi, lebih smart, dan lain sebagainya.

Pun dalam berbagai hal kami berbeda. Aku type orang yang suka rapi dan teratur sementara almarhumah istriku lebih pada apa adanya. Saat aku bangun, aku ingin ada kopi yang telah tersedia, menu masakan harian yang beragam, namun itu bukan type almarhumah. Saat dikamar, aku ingin langsung tidur saja namun istriku lebih suka ngobrol dulu bahkan hal-hal sepelepun diobrolkan seperti harga cabe, bawang dan ikan di pasar mulai naik dan lain sebagainya. Aku suka semua hal berbau teknologi sementara istriku gaptek, tidak nyambung jika kami ngobrol soal itu.

Jika dibuatkan tabel, akan terdapat begitu banyak perbedaan dan kriteria yang tidak aku lihat dalam diri almarhumah istriku. Namun dengarkan baik-baik sahabatku, walau dalam banyak hal kami berbeda, aku mencintainya lebih dari apapun didunia ini.

Sahabatku, pernikahan itu adalah dua hati menjadi satu bukan sama. Saat aku menikahi almarhumah istriku, aku sadar bahwa masing-masing kami diciptakan unik dengan sifat dan karakter yang berbeda. dan itu bisa saja akan tetap begitu walau kami telah disatukan dalam sebuah pernikahan. Akan terjadi benturan yang sangat hebat jika aku memaksakannya menjadi sama dengan diriku. Yang kami lakukan hanyalah berusaha saling memahami dan menerima keunikan satu sama lainnya.

Tak dapat dipungkiri, dalam rentang saling memahami dan menerima itu sudah tentu ada benturan-benturan karena kita masih memiliki ego, namun aku belajar satu hal, cintalah kuncinya. Cintalah obat penawarnya. cintalah pereda dan penenang badai. Cinta dapat mengatasi dan mengalahkan segalanya, termasuk ego.

Dalam perjalanan 16 tahun pernikahanku bukanlah tanpa badai. Sahabatku, tak ada jalan toll dalam pernikahan. Tak ada pernikahan yang mulus-mulus saja. Harus kuakui, aku pernah gagal menjadi suami yang baik, aku kadang begitu sangat egois dan menjengkelkan hingga membuat air matanya mengalir berulangkali.

Namun Almarhumah mengajariku apa itu cinta sejati dan bagaimana cinta dapat mengalahkan dan mengatasi segalanya. Cinta itu sabar, Cinta itu murah hati dan tidak egois, cinta itu ramah dan tidak curang, cinta itu tidak emosional dan tidak mendendam, cinta itu saling percaya, cinta itu penuh pengharapan, cinta itu tabah dan saling menguatkan.

Sahabatku, meski tak ada jalan toll dalam pernikahanku, meski kami bukanlah pribadi yang sempurna, namun aku bersyukur kami tetap utuh dan menyatu hingga maut memisahkan, hari dimana Tuhan menjemputnya pulang. Karena cinta itu tak pernah berakhir. Jika berakhir, tentulah itu bukan cinta.

Aku belajar satu hal dari pernikahanku, mengapa ada begitu banyak rumah tangga yang mudah hancur dan berakhir? Bagiku karena mereka tidak punya cukup cinta untuk bersama. Cinta adalah fondasi atau dasar dari sebuah hubungan terlebih pernikahan itu sendiri. Karena, lagi, cinta itu tak pernah berakhir, jika berakhir tentulah itu bukan cinta.

Ada banyak orang yang menginginkan hubungan yang bahagia dan bertahan namun mereka membangunnya diatas dasar yang keliru. Mereka membangunnya diatas dasar ketertarikan penampilan fisik, kepemilikan materi ataupun bahkan kecocokan dan kesamaan-kesamaan yang dimiliki. Sementara cinta hanyalah sebuah polesan sebagaimana kata sinis yang sering aku dengar, ‘emangnya kamu mau makan cinta saat menikah?’

Membangun sebuah hubungan terlebih pernikahan tanpa didasari dengan cinta yang kuat, itu ibaratnya membangun rumah-rumahan diatas pasir. Sekilas terlihat indah, sesaat terlihat begitu megah namun ketika datang gelombang, bangunan itu roboh tak berbekas lagi. Bersiaplah untuk mendendangkan lagu selamat tinggal, tinggal kenangan, atau berbagai list lagu bertema sakit hati lainnya.

Berbeda dengan mereka yang membangun pernikahannya diatas cinta. Itu ibarat membangun rumah diatas fondasi batu. kadang memang terlihat sulit saat membangunnya, ada banyak daya dan upaya yang dikerahkan namun rumah itu akan tetap berdiri kokoh dan bertahan meski gelombang datang menerpa. Itulah fondasi untuk membangun keluarga bahagia

Maka pertanyaanku sahabatku, kamu ini ingin membangun rumah tangga atau rumah-rumahan? Jika ingin membangun rumah tangga, hentikan angan-anganmu. Menikahlah dengan pasanganmu bukan dengan angan-anganmu. **

//Ditulis dibeberapa tempat: starbucks Botany squere Bogor, Starbucks Cibinong City Mall dan Starbucks Margo City Depok. Terimakasih untuk semua teman-teman barista yang telah menyajikan kopi yang nikmat saat aku menulis tulisan ini.

Mr Ben

Berawal dari mendirikan sebuah Lembaga Penyiaran Swasta, sejak saat itu visi terus berkembang | Pendiri dan CEO Fokus Media Group | cyberlabpro | itsme.id | SajaddahFM | SajaddahLive | PanuaFM | SorbanFM | Hidayah Bangsa Fondation | Seorang Penikmat Kopi Hitam |