iT’s Me- Sudah hampir seminggu aku di kampung halaman, perjalanan yang cukup panjang untuk istri dan anakku. Perjalanan kami di mulai dari bogor-Jakarta, kemudian Jakarta-palu dan berakhir di toli-toli. Kami melintasi udara dan darat menuju kampung halaman. Senang rasanya bisa bertemu kembali teman-teman lama, aku dan teman-teman menghabiskan waktu di kota palu, makan malam sambil bernostalgia. Semua berubah pada waktunya, itulah yang aku lihat dari pribadi mereka masing-masing. Aku senang karena mereka tidak kalah dengan kehidupan, mereka terus berjuang dalam memenuhi kebetuhan masing-masing. Salut punya teman-teman yang pantang menyerah.

Sebelum kami makan malam di salah satu mall, aku berkunjung kerumah teman yang tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Dia adalah teman dekat semasa SMP, sangat dekat bahkan kami sudah seperti saudara. Saat SMP rumahnya sudah seperti rumahku sendiri begitu pun sebaliknya, Ayahnya meninggal saat ia masih kecil dan ibunya baru saja meninggal dunia, sekarang ia memiliki rumah sederhana dan usaha depot air isi ulang. Saat berada di rumahnya, aku melihat ia sangat sibuk, seperti tidak ada waktu untuk isterahat. Belum beberapa menit berhenti dari aktifitas melayani pembeli, ia harus kembali mengantar air minum galon pesanan konsumen, tidak peduli hujan atau panas. Sebagai seorang suami dan ayah bagi anaknya yang baru berusia tujuh bulan, ia sangat tangguh.

Bukan ia sendiri yang bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, salah satu dari temanku memiliki dua pekerjaan sekaligus. Mendengar dan melihat cara mereka bertahan hidup membuatku benar-benar bangga, semakin mengingatkan tentang rasa syukur dengan keadaanku saat ini. Terkadang aku sedih melihat kondisi mereka, tetapi aku yakin mereka mampu melewatinya dan terbukti mereka justru menikmati pekerjaan yang di gelutinya, meskipun berat. Entah apakah aku mampu seperti mereka. Jika di bandingkan dengan pekerjaanku, tentu aku tidak ada apa-apanya. Aku hanya mengabiskan waktu depan laptop di ruangan ber ac, sedangkan mereka harus ekstra kuat, fisik dan mental.

Beberapa di antara teman-teman memuji saat melihat keadaanku saat ini, tetapi aku merasa tidak pantas mendapatkan pujian dan kebanggaan itu. Justru aku malu karena mungkin aku terlalu singkat merasakan beratnya kehidupan dibanding mereka yang masih benar-benar bekerja keras hingga saat ini. Bertemu mereka membuatku banyak merenung, kadang aku kurang bersyukur bahkan mengeluh dengan pekerjaanku, padahal jika di bandingkan dengan pekerjaan mereka  sunguh aku keterlaluan dan tidak bersyukur. Semoga pertemuanku dengan mereka mendatangkan manfaat untuk aku pribadi dan juga mereka. Berkat mereka aku bisa menemukan dan memahami rasa syukur yang sebenarnya!



Latest posts by arpan (see all)