iT’s Me– Memutuskan untuk pindah memang tidak mudah, banyak hal yang harus di pertimbangkan, apalagi yang sudah berkeluarga seperti saya. Selain finansial, mental istri dan kondisi anak harus benar-benar siap untuk menghadapi segala kemungkinan terjadi selama di perjalanan, apalagi perjalanan yang kami tempuh sangat jauh. Kami melewati udara berjam-jam, kemudian dengan darat berjam-jam menuju kampung halaman untuk bertemu orang tua, kemudian saat melanjutkan perjalanan ketempat tujuan pun sama jauhnya. Saya sudah merantau kemana-mana tetapi merantau dengan memboyong anak istri lebih sulit di banding merantau sendirian.

Setalah tinggal hampir lima tahun di kota bogor dengan susana yang serba ada dan fasilitas bisa di bilang sudah cukup memadai membuat kami sedikit sulit menyesuaikan dengan keadaan sekarang. Kami harus memulai dari awal, rumah  yang kami kontrak pun agak jauh dari perkotaan dan fasilitas seadanya. Keadaan kami di sini sangat jauh berbeda, di sini saya bisa bilang serba terbatas. Dan sampai saat ini masih menyesuaikan dengan suasana desa di rumah yang kami kontrak. Memilih untuk memboyong anak istri pindah dari kota bogor adalah keputusan nekad, nekad secara finansial dan mental. Tidak mudah beradaptasi setelah tinggal di kota yang serba ada, fasilitas memadai dan serba mudah.

Saya bersyukur rumah yang kami kontrak tidak dalam keadaan kosong, setidaknya hanya perlu menambah beberapa perlengkapan yang kami butuhkan sehari-hari. Jika ingin pindah apalagi ketempat yang sangat jauh perlu persiapan matang, perencanaan kuat dan siap dengan situasi tidak terduga, entah itu situasi fisik atau finansial. Kadang apa yang sudah di persiapkan dan di rencanakan masih saja melenceng dan situasi itu mengharuskan saya untuk tenang, agar istri dan anak tetap bisa menikmati perjalanan, begitupun saat sampai di tujuan, bisa menyesuaikan dengan tempat tinggal baru. Sudah tugas kepala rumah tangga menanamkan keyakinan tanpa rasa takut, khusunya kepada istri, secara tidak langsung keyakinan yang sama akan menular ke anak melalui ibunya.

Harus yakin dengan jalan yang dipilih, tetapi jangan memilih dengan rasa takut, karena pilihan dengan perasaan takut akan menghasilkan sesuatu yang mungkin sulit untuk di hadapi. Hari ini sudah hampir seminggu kami di di gorontalo, kami bersyukur semua baik-baik saja, kerumitan-demi kerumitan mampu kami lewati, setidaknya untuk tahap awal. Sebagai suami juga kepala rumah keyakinan tanpa rasa takut sangat penting, meski kadang keyakinan goyah di telan kenyataan. Oleh karena itu saya selalu siap dengan segala resiko atas keputusan yang saya ambil yang melibatkan istri dan anak saya, saya tidak pernah sedikit pun ingin terlihat kalah di hadapan mereka. Karena kekuatan anak dan istri tergantung bagaimana suami bertindak dan bersikap. Saya melakukan dengan pilihan sendiri dan Alhamdulillah keputusan nekad saya untuk memboyong anak istri justru menghasilkan pembelajaran hidup begitu banyak.

Modal utama saya selama ini adalah nekad, tetapi nekad yang dibarengi dengan persiapan dan perencanaan yang matang dan siap saat kenyataan berkata lain, yakin dengan jalan yang di pilih termasuk saat memilih pindah. Saya tidak membiarkan rasa takut akan hari esok menghalangi jalan yang saya ambil untuk masa depan anak dan istri saya.