Its My Life

Ini Akibat Jika Membaca Kitab Suci Agama Lain

oleh arpan

8 March 2018

iT’s Me- Saya pernah mengalami sebuah pengalaman yang lucu sekaligus bodoh, berawal dari sebuah kitab suci agama lain yang saya pinjam dari seorang teman, kemudian saya jadikan profile BBM dengan memasang status “ Mencari Inspirasi Dari Kebijaksanaan Iman Lain”. Selang beberapa saat kemudian tiga pesan masuk dari beberapa teman dekat saya, mereka bertanya “agamu sekarang apa” saya tidak membalas pesan, esok harinya bertemu kembali dengan beberapa teman dan topik percakapan hari itu banyak yang bertanya “agama kamu apa, kenapa kamu membaca Kitab Suci agama lain”.

Saya adalah tipikal orang yang malas menjelaskan panjang lebar, saya jawab saja “hanya mencari sebuah inspirasi” . Disaat itulah muncul serentetan ceramah dari teman – teman yang notabene anggota organisasi dakwah kampus, namun bagi saya itu hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Bagi saya, ceramah mereka tentang sebuah keimanan bukan yang utama, karena siapa saja bisa mengkritisi keimanan seseorang. Bisa jadi mereka yang setiap hari membaca Al-Qur’an namun menyimpan dendam pada mereka yang berbeda, tapi mereka yang tidak berkitab suci justru menyimpan rasa kemanusian pada mereka yang berbeda.

Pertanyaan tentang “apa agamamu” memang menjadi ciri khas masyarakat indonesia, dari yang awam maupun yang akademis. Ketika bicara agama, yang ada dibenak mereka adalah sebuah identitas dengan sekumpulan peraturan yang harus di ikuti secara kaku dan formal dan tak bisa kompromi! Gusdur pernah berkata “ tidak penting agamamu apa, kalau kamu berbuat baik orang tidak tanya agamamu apa”.  Seorang biksu dan pemimpin spritiual tibet Dalai Lama ditanya “apa agamamu” dia menjawab “agama saya adalah kebaikan”.

Bahkan perkataan dari jallaludin rumi yang berkata “jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. Bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku”. Seorang tokoh intelektual muslim muda indonesia Ahmad Wahib memberi sebuah wejangan yang tak kalah penting, Ia berkata “Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia”.

Ketika sebuah identitas terlalu diagungkan membuat kita meyakini hanya kebenaran dalam diri maupun kelompok kita sajalah yang benar dan orang lain tidak. Hasilnya, terciptalah kehidupan yang terbagi menjadi saya dan mereka dengan penuh prasangka, rasa curiga, rasa amarah, rasa iri, dan berbagai rasa negatif lainnya melingkupi jiwa. Ini semua adalah akibat yang kita timbulkan sendiri. Dahulu saya adalah orang yang begitu mengagungkan keyakinan sendiri sebagai sebuah kebenaran mutlak, tanpa kesalahan , dan lebih tinggi diatas keyakinan lain. Tapi Tuhan berbicara lain, justru saya menemukan sejumlah kemunafikan, kejanggalan, dan berbagai hal yang mengusik hati, saya rasa sudah sangat menyimpang dari apa yang seharusnya. Pada akhirnya saya menemukan sebuah pemahaman bahwa semua agama tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang benar secara mutlak. Manusia menjadikan agama layaknya sebuah geng yang menciptakan kondisi sendiri, dipenuhi persaingan dan prasangka, padahal esensi Tuhan kepada ciptan-Nya adalah bismillahirrohmanirrohim. Saya belajar tidak menjadikan diri sebagai berkeyakinan sombong dan merasa keimanan saya diatas keimanan orang lain.

Menurut saya, bukan ciri orang yang berpikir jika didalam otaknya ada prasangka, menganggap pemahaman dari keyakinannya adalah final. Saya juga berpendapat, dalam menilai pemahaman akan agama seseorang lihat dahulu apa dia masih tersekat sebuah keegoisan identitas atau tidak? Bila berani seperti Rumi atau katakanlah Ahmad wahib, maka dia sudah berada pada pemahaman yang bijak tentang ajaran Tuhan. Saya sendiri masih terus belajar dari apa yang saya pahami, karena saya yakin final dari semua ini adalah diakhir.  -adi/arpn-

arpan