Featured, Its My Faith

Hubungan Antara Para Rasul

oleh arpan

4 March 2019

Setiap Rasul mempunyai hubungan antara satu dengan lainnya. Ada sebuah pertanyaan apa hubungan seorang rasul dengan rasul-rasul lainnya, seperti apa hubungan Abraham sebagai nabi dan rasul Allah Tuan Semesta Alam dengan Musa as.?
Apa hubungan Musa sebagai nabi dan rasul Allah Tuan Semesta Alam dengan nabi Isa as. sebagai rasul Allah ?
Dan apa pula hubungan Isa as. sebagai rasul Allah dengan muhammad Rasulullah ?

Kebanyakan para ahli agama menyatakan bahwa tiap-tiap rasul itu membawa ajaran yang baru sebagai penyempurna dari rasul sebelumnya. Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa tiap-tiap rasul mengajarkan agama yang berbeda satu sama lainnya. Apa yang diajarkan Allah kepada Musa berbeda dengan apa yang diajarkan Allah kepada Abraham. Demikian pula apa yang Allah ajarkan kepada Isa as. berbeda dengan agama yang dianut oleh Musa as. Demikian pula apa yang Allah ajarkan kepada nabi Muhammad adalah agama terakhir yang berbeda dengan apa yang di ajarkan oleh nabi Isa maupun Musa bahkan Abraham sekalipun. Dari pandangan seperti inilah kemudian timbul perpecahan atau firqah-firqah atau aliran-aliran keagamaan yang satu sama saling berbeda, semisal Yahudi, Kristen dan Islam. Orang berpendapat bahwa ketiga agama ini berbeda satu sama lainnya.

Sesungguhnya, jika kita mempelajari firman Allah Tuan Semesta Alam yang ada di dalam suhuf Ibrahim, Taurat Musa, Injil nabi Isa, maupun Al-Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad, semua rasul-rasul Allah itu membawa ajaran agama yang sama yaitu apa yang di sebut dalam Al-Quran “Millah Ibrahim” atau “Millah Abraham”. Jadi semua nabi-nabi keturunan Ibrahim menganut paham agama yang sama yaitu Millah Ibrahim/Millah Abraham. Lantas kenapa Ibrahim sebagai nabi kemudian muncul Musa ?
Apa hubungan antara Musa dengan Ibrahim ?
Kemudian mengapa Bani Israil memiliki nabi Musa kemudian muncul nabi Isa?
Dan mengapa adanya nabi Isa sebagai rasul kemudian muncul nabi Muhammad sebagai rasul yang bukan dari Bani Israil ?
[00:52, 3/4/2019] Adi Mansur: Hubungan antara rasul-rasul Allah Tuan Semesta Alam itu sehubungan dengan “zaman” . Artinya tiap-tiap nabi atau rasul memiliki zaman. Sebagai contoh orang menyatakan zaman nabi Ibrahim, zaman nabi Musa, zaman nabi Isa/Yesus , dan zaman nabi Muhammad. Jadi tiap-tiap rasul memiliki zaman. Tugas para rasul pada zamannya dibangkitkan oleh Tuan Semesta Alam untuk menegakkan ajaran atau agama ciptaan Tuan Semesta Alam, seperti halnya firman Allah Tuan Semesta Alam menyatakan ” Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Dien atau sistem kehidupan yang benar agar dimenangkannya atas segala dien atau sistem kehidupan di muka bumi walaupun orang-orang kafir dan musyrik tidak menyukainya” ( Q.S. 61/9 , 9/33 , 48/28 )
[

Dien yang diperjuangkan oleh para rasul itu adalah dien atau sistem kehidupan ciptaan Tuan Semesta Alam yang menjadi fitrahnya manusia. Dien ciptaan Tuan Semesta Alam itu tidak pernah berubah dan tidak berganti sepanjang masa. Sebagai contoh pernyataan firman Tuan Semesta Alam sebagai berikut :

Allah SWT berfirman:

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ
syaro’a lakum minad-diini maa washshoo bihii nuuhaw wallaziii auhainaaa ilaika wa maa washshoinaa bihiii ibroohiima wa muusaa wa ‘iisaaa an aqiimud-diina wa laa tatafarroquu fiih, kaburo ‘alal-musyrikiina maa tad’uuhum ilaiih, allohu yajtabiii ilaihi may yasyaaa`u wa yahdiii ilaihi may yuniib

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 13)

arpan