Featured, Its My Life

Harga sebuah Pengakuan

oleh Ali Romdhoni, MA

27 September 2018

Di ruang tunggu (lounge) di Bandara Internasional Ibukota Beijing, China saya menyapa sesama penumpang dari Indonesia, yang ternyata mereka adalah para atlet nasional panjang tebing Indonesia. Aspar Jailolo, bersama kedua rekannya, Aries Susanti R dan Puji Lestari. Ketiganya akan kembali ke Jakarta setelah bertanding dan berhasil memboyong medali emas dan perak dalam kejuaraan International Climbing Elite Tournament di Anshun, China pada 21-22 September 2018.

Rupanya saya bertemu dengan para juara, para duta Indonesia di ajang Internasional. Tetapi yang membuat saya berkesan, Aspar Jailolo mau berbagi cerita tentang kerja-kerasnya dalam meraih mimpi, sehingga bisa mendunia seperti sekarang ini.

Kepada saya, anak muda asal Sulawesi Tengah ini berkisah tentang kegigihan usahanya untuk bisa berlaga di pertandigan panjat tebing pada event nasional. Sembari terus menempa diri, dia mendatangi setiap seleksi calon atlet.

baca juga : Gus Mus dan nasihat di tahun Politik

“Di mana ada seleksi calon atlet panjat tebing, di situ ada saya,” katanya. Namun ada saja tantangannya.

Sampai akhirnya, dia berlaga di kejuaraan panjat tebing di luar negeri. Nama Aspar Jailolo perwakilan dari Indonesia muncul di pemberitaan media. Publik nasional mulai mendengar namanya, mukanya juga muncul di media sosial. Sejak saat itu, jagat panjat tebing mulai mengakui kemampuan salah satu tim nasional panjang tebing Indonesia yang mendapatkan medali emas di Asian Continental Championship 2017 di Mega Pars Complex Tehran, Iran ini.

Begitulah harga sebuah pengakuan. Publik baru akan (terpaksa) mengakui kemampuan kita, setelah mereka melihat kehebatan kita dengan mata kepala sendiri. Kondisi seperti ini akan berbeda, ketika kita belum berprestasi, tetapi meminta orang lain untuk memberikan kesempatan. Meskipun kita juga berjanji akan berkomitmen untuk menjaga kepercayaan itu.

Belajar dari perjalanan atlet panjat tebing Aspar Jailolo, dia terlebih dulu menunjukkan kemapuan terbaik, dan selanjutnya orang lain mau tidak mau menerima dan mengakui kualitasnya.

Bukankah memang demikian yang terjadi di sekitar kita. Orang membutuhkan bukti. Permintaan kita yang merengek, terkadag hanya akan menegaskan kekurangan diri sendiri. Tetapi betapa pun, berusaha membuktikan kualitas diri kepada publik tidaklah mudah. Apalagi ketika kita sedang dalam kondisi yang tidak sangat baik.

Saya kemudian teringat dengan salah satu pepatah China kuno, “orang hanya melihat kalungan bunga sang juara, tetapi mereka lupa dengan keringat-peluh yang telah meleleh sebelumnya”.

Lalu bagaimana dengan kebiasaan kita, juga perilaku sebagian dari para calon pemimpin di negeri ini. Lihatlah, ada banyak calon pemimpin, mulai dari pemimpin nasional, calon anggota dewan, hingga calon tetua di level bawah yang berteriak dan memohon untuk dipilih. Namun ada banyak dari mereka yang setelah berhasil naik di kursi jabatan kemudian mabuk.

Kekuasaan yang mereka dapatkan dengan meminta kepada rakyat hanya merubah gaya hidup mereka. Berubah dari orang desa menjadi para pemburu harta, dan lupa diri bahwa mereka slinya juga rakyat kemudian merasa ningrat. Ini akan menjadi renungan bersama.

baca juga : Jangan sesat! Doa yang benar harus disertai Usaha

Saya juga pernah mendengar curhat seorang kepala pemerintahan di level grass goot. Katanya, ada sebagian dari rekan-rekannya yang setelah menjabat mulai mengenal dunia dugem. Awalnya untuk keperluan koordinasi dan kumpul-kumpul dengan sesame pimpinan sambil bertukar pengalaman dalam memimpin masyarakat. Sayangnya, kebiasaan itu menjadi candu, dan sangat sulit untuk ditinggalkan.

Di sisi lain, penghasilan sehari-hari tidak terlalu mendukung untuk membiayai hobi yang membutuhkan uang itu. Sampai akhirnya, anggaran dana yang mustinya harus digunakan untuk memikirkan kesejahteraan rakya dipakai juga. Padahal hutang untuk biaya pencalonan sebelumnya juga belum dibayarkan seutuhnya.

Di sini ada nasehat baik, bahwa perubahan prestasi (termasuk dalam materi) harus disertai dengan perubahan kedewasaan dalam membawa diri.

Bagi masyarakat awam seperti kita, saatnya semakin mawas diri dalam menjalani hidup sehari-hari. Dalam konteks kepemimpinan nasional, kita juga harus semakin waspada dalam menentukan calon pemimpin. Jangan sampai kita hanya mengusung para ‘gadungan’ yang tidak mengerti kebutuhan bangsa dan negara. (Oleh ALI ROMDHONI)

 

 

Ali Romdhoni, MA.

Lecturer at the Islamic Studies faculty of

Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia.

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.