itsme.id- Perlu kita ketahui bawah gelar yang di sematkan kepada seseorang pun bisa menjadi pemicu untuk lalai. Meskipun gelar itu di sematkan oleh orang lain, jusru hal itu bisa menjadi penyebab seseorang tergelincir kebinasaan dunia dan akhirat jika disertai dengan keangkuhan. Gelar di sematkan karena adanya prestasi atau keahlian. Misalnya, gelar sarjana disematkan kepada orang-orang yang berhasil menempuh pendidikan strata satu. Sementara, gelar megister di sematkan kepada orang yang berhasil menempuh pendidikan strata dua. Kemudian gelar doctor disematkan kepada orang-orang berhasil menempuh pendidikan strata tiga.

Semua gelar tersebut akan berbahaya jika kita menjadi angkuh karenanya, merasa menjadi orang yang terpelajar dan yang lain bodoh, merasa lebih pantas untuk hal-hal terhormat sementara yang lain tidak. Meskipun sekedar gelar, hal itu bisa membahayakan jika disertai dengan keangkuhan. Apa pun bentuknya, sikap angkuh merupakan hal yang di larang dalam islam dan mungkin agama apapun melarang sikap angkuh, islam mengajarkan tawaduk atau rendah hati. Sementara itu, angkuh atau tinggi hati bertentangan dengan ajaran islam. Tidak hanya gelar akademik yang bisa memunculkan keangkuhan. Gelar karena jabatan juga bisa menampilkan keangkuhan, sepeti lurah, camat, gubernur, wali kota, menteri, kapolri dan sebagainya.

Gelar juga bisa disematkan terkait keahlian dalam beragama, semisalnya ustadz dan kiai atau bahkan imam besar. Hanya karena bergelar khusus merasa paling bijak dalam memutuskan sesuatu sehingga apapun keputusannya harus diikuti oleh orang lain dan tidak mau lagi mendengar pendapat lain. Hal seperti inilah yang di namakan keangkuhan yang sangat jelas? Ustadz, kiai atau imam besar merupakan gelar yang disematkan oleh masyarakat karena kedalaman seseorang tentang ilmu agamanya, tetapi jika prilakunya tidak sesuai dengan gelar tersebut, hanya akan merusak citra dirinya sendiri. Maka gelar khusus itu tidak hanya bicara soal ilmu keagamaan tetapi juga secara pengamalan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar ustadz bertarif, ustadz selebriti, imam besar suka ngamuk, kiai suka nyalahin orang dan sebagainya. Gelar haji pun sama bahanya jika di sertai dengan keangkuhan dan kesombongan. Sungguh gelar merupakan beban, tetapi harus di tunaikan. Untuk itu jika kita mendapat gelar, apapun gelar itu, hendaknya kita mengkedepankan sikap rendah hati atau tawaduk dan menjahui sifat-sifat angkuh. Mari kita bermohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kita tetap menjaga akhlak dan moralitas kita. Jika kita mempunyai gelar semoga gelar kita membawa manfaat bagi orang lain dan tidak dipergunakan untuk bersikap angkuh.

Ali Abdulah dari buku Islam Bukan Hanya teriak “Allahu Akbar”/editor:arpn