Its My Faith

Gaya Komunikasi Presiden Jokowi dan Kembalinya Sejarah Santri

oleh Ali Romdhoni, MA

23 October 2017

iT’s me – Gestur seorang tokoh bisa mengundang perhatian dan reaksi orang-orang di sekelilingnya. Terlebih bila tokoh itu adalah orang paling penting di satu negara. Orang yang terpilih sebagai presiden, misalnya, maka setiap yang melekat pada dirinya menjadi layak dibicarakan dan dijadikan ukuran (standar dan perbandingan).

Bagaimana dengan gaya komunikasi Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi)?

Iya, setiap presiden yang dimiliki bangsa Indonesia memiliki gaya berkomunikasi yang khas. Karena itu, tulisan ini tidak menafikan keunikan model komunikasi presiden-presiden sebelumnya.

Saya juga mengerti, jabatan sebagai presiden berkaitan dengan kekuasaan, dan dalam batas tertentu sangat dekat dengan politik atau ambisi membungkam lawan. Karena itu, boleh saja bila ada pengamat yang melihat setiap pilihan sikap seorang Presiden sebagai bentuk berpolitik (komunikasi yang bersifat politis).

Di sini saya ingin melihat gaya kamunikasi Presiden Jokowi dari sisi kemanusiaannya, dengan tetap mengindahkan kemungkinan adanya motif politik dalam setiap tindakan sang Presiden.

Saya kemudian menandai gaya komunikasi Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan.

Publik sepertinya sudah mulai hafal, Presiden Jokowi memiliki kebiasaan menyapa masyarakat bawah dengan mendatangi mereka secara langsung. Biasanya, pria kelahiran Surakarta pada 21 Juni 1961 ini menggelar forum, berpidato dengan suara datar, tidak terlalu lama, dan setelah itu memberi kesempatan kepada beberapa audiens untuk naik ke panggung.

Di panggung, ada audiens yang sekedar bersalaman dengan sang Presiden, mengajukan pertanyaan (bisa serius, bisa santai), atau justru Presiden yang memberi kuis pertanyaan. Di si kekhasan Jokowi muncul, penanya mendapat hadiah dari Presiden.

Gaya Presiden Jokowi ketika berhadapan dengan masyarakat Indonesia yang demikian sudah dikenal public. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ketika mendatangi kelompok masyarakat Indonesia yang sedang berada di luar negeri. Seperti saat menyapa 5.600 warga Indonesia yang bekerja di Hongkong, China (30 April 2017) dan ketika bertemu dengan ratusan warga Indonesia di Singapura (6 September 2017).

Ada aksi Presiden Jokowi yang lebih memukau pengunjung, yaitu ketika berdiri di depan anak-anak Indonesia pada peringantan Hari Anak Nasional 2017. Memahami dunia anak, Jokowi hadir bukan hanya sebagai Bapak atau Presiden.

Di Pekanbaru, Riau, orang nomor satu di Indonesia ini tampil sebagai tukang sulap. Anak-anak yang hadir dibuatnya senang dan tertawa. Di antara mereka tidak ada yang mengantuk, dan bahkan ada yang mendapat hadiah.

Presiden Jokowi juga memiliki gaya khas ketika mengunjungi para tokoh masyarakat atau para kolega penting. Ketika menghadiri aca Maulid Nabi Muhammad 1438 H di Pesantren Habib Lutfi, Pekalongan, Jawa Tengah, Presiden Jokowi tampil dengan busana khas seorang santri (Muslim). Bahkan sejak kedatangannya di Bandara Ahmad Yani Semarang diketahui oleh para wartawan, Presiden sudah memakai sarung, baju koko putih, dan berjas hitam.

Penampilan Jokowi dengan mengenakan busana khas seorang santri tida sekali atau dua kali. Di beberapa kesempatan sebelum dan sesudahnya juga sama. Sekali lagi, ini merupakan pilihan seseorang. Ketika hendak menghadiri satu perhelatan, maka pilihan sikap dan status kita akan tercermin dari kostum yang kita kenakan.

Agaknya, Presiden Jokowi sedang ingin menegaskan, bahwa dirinya seorang santri. Atau, setidaknya, dia tidak canggung berbusana santri karena itu juga pakaian kesehariannya.

Di luar itu, Jokowi memberi kesempatan kepada orang-orang yang ia temui untuk foto bersama, di mana pun. “Kalau memang hal seperti ini bisa menghibur dan menyenangkan warga, kenapa tidak saya lakukan,” jawabnya ketika ditanya seorang wartawan. Bahkan, beredar berita dan foto Jokowi menghormati seorang tokoh dengan mencium tangannya.

Komentar orang atas performance Presiden beragam. Ada yang sinis, tetapi banyak juga yang memuji. Iya, namanya juga orang banyak.

Saya lalu menemukan satu kata kunci untuk gaya Jokowi. Model komunikasi Presiden Jokowi adalah khas gaya seorang santri.

Terlepas dari kesadaran bahwa seorang tokoh politik sedang memainkan simbol, khususnya untuk menjaga dirinya dari serangan para rival dan juga untuk mengamankan posisinya, saya melihat pada diri Presiden Jokowi ada ‘potongan’ (gaya komunikasi) seorang santri.

Logika Berfikir Santri

Secara sederhana, santri bisa dimaknai sebagai pembelajar. Seseorang yang memiliki kesadaran untuk terus belajar tentang kehidupan kepada sang guru. Seorang pembelajar akan menghargai orang lain, dan sadar sedang berada dalam masa-masa penempaan.

Santri memiliki satu tujuan sebagai muara dari seluruh dedikasi hidupnya, yaitu sa’adat fi al-darain (sukses sekarang dan kelak; selamat dunia-akhirat).

Santri percaya bahwa untuk bisa menang dalam kompetisi kehidupan, seseorang harus membayarnya dengan amal kebaikan. Di sini, santri juga sudah sampai pada satu pemahaman bahwa berbakti kepada negara, nusa, bangsa dan tentu agama adalah kebaikan yang sempurna.

Pengetahuan berbakti kepada Negara bukan mucul sebagai sikap politik, tetapi atas dasar perintah agama yang sacral. Berkontribusi kepada bangsa dan negara lahir dari pemahaman atas ajaran agama dan telah dilegitimasi oleh para guru besar mereka, pata ulama dan kiai. Karena itu, orientasi mengabdi kepada negara sejatinya sejalan dengan orientasi hidup mereka, yaitu menggapai kebahagiaan sejati.

Di sini, saya sepakat, sejatinya seorang santri tidak memiliki orientasi politis (dalam arti perebutan kekuasaan).

Kalau di kemudian hari ada orang-orang yang menghawatirkan ambisi kaum santri, justru mereka itulah yang mengejar kekuasaan dengan membabi buta sehingga perlu menyingkirkan kaum santri yang sebenarnya jauh dari orientasi politik.

Lihatlah lembaran sejarah ketika kaum santri dipinggirkan Orde Baru di bawah kekuasaan Suharto kala itu. Apakah mereka, kaum santri berhenti untuk mengabdi kepada bangsa dan negara? Tidak.

Para ulama masih terus bersama rakyat. Para kiai dengan mushala, masjid dan pesantrennya tetap berderap. Jutaan santri masih menghuni bilik-bilik sederhana di pesantren. Mereka, kaum santri bahkan tetap mengabdi kepada masyarakat. Melalui pesantren, seorang santri dan kiai menemukan media pengabdian. Meski dipinggirkan kekuasaan, mereka tetap dekat dengan rakyat, membimbingnya menuju kebaikan.

Bukti lain bahwa santri jauh dari tujuan politis adalah sikapnya terhadap upaya untuk menghilangkan jejak pengorbanan kiai dan pesantren selama perjuangan kemerdekaan. Semua jasa itu raib dari catatan sejarah. Buku sejarah Indonesia hamper tidak menyebut kata pesantren dan santri sekali pun. Aneh, bukan.

Kini, ketika suasana berubah, kaum santri mulai mengerti bahwa mereka harus bekerja sendiri untuk menulis sejarahnya. Bukan dengan maksud riya, tetapi semata untuk menyelamatkan sejarah agar tidak ditulis dengan salah. Menulis sejarah berarti menyampaikan pesan yang benar kepada masyarakat. Santri sesungguhnya telah berontribusi.

Kesadaran dan kebangkitan kaum santri setelah lama dibungkan kekuasaan ini sudah berlangsung lama. Setidaknya sejak sesaat sebelum meletusnya reformasi 1998, dan semakin menjadi pada masa pemerintahan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat itu adalah hadir dan kembalinya kaum santri di panggung nasional untuk ke sekian kalinya.

Ibarat dinding penghalang telah jebol, masyarakat semakin mengerti bahwa kiai dan santri di masa lalu berjasa besar bagi negeri ini. Bahkan Jenderal Gatot Nurmayanto pun bercerita di public, bahwa yang menumbangkan Aubertin Walter Sothern Mallaby atau dikenal dengan Brigadir Jenderal Mallaby di Surabaya pada 30 Oktober 1945 adalah seorang santri yang tergabung dalam pasukan kemerdekaan.

Upaya kaum santri untuk menarasikan sejarahnya sendiri menemukan momentumnya pada era sekarang ini.

Ini bukan sekedar keberhasilan dalam berdialog dengan pemerintah, lebih dari itu adalah keberhasilan diplomasi kaum santri dalam mengungkap fakta kontribusi para kiai dan santri dalam membangun bangsa Indonesia.

Kini, kaum muda Indonesia dari berbagai elemen, termasuk juga kalangan santri memiliki kesempatan sama untuk berkompetisi dalam mengisi ruang-ruang Indonesia. Sejarah harus terus berjalan. Biarlah para pendahulu dengan segala tindakannya menjadi pembelajaran bagi generasi di hari ini.

Selamat hari santri nasional. Jayalah negeriku, Indonesia.

Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.