iT’s me – Dua hari yang lalu isteri saya pergi berbelanja ke pasar dadakan (semacam pasar rakyat) di Harbin, China. Pasar yang lokaksinya berjarak sekitar satu kilometer dari tempat tinggal kami ini buka di pagi hari, sekitar pukul lima pagi hingga pukul tujuh, sebelum orang-orang berangkat bekerja atau sekolah di pagi hari.

Menurut informasi dari seorang teman, harga barang-barang terutama jenis sembilan bahan pokok (sembako) di pasar ini cukup murah dengan kualitas yang cukup bagus. Dan memang demikian faktanya.

Setelah kembali dari pasar, isteri saya bercerita dan merasa kaget dengan kecakapan para ibu penjual di pasar dalam memanfaatkan kemudahan teknologi. Di pasar itu, pedagang yang berumur lima puluhan tahun (bahkan ada yang lebih sepuh lagi) menjual barang dagangannya dengan model pembayaran online.

Biasanya, mereka memanfaatkan aplikasi untuk transaksi pembayaran jual-beli yang sudah tersedia di ponsel pintar. Jadi, selain menerima pembayaran dengan uang tunai, para penjual di pasar itu juga menerima pembayaran melalui ponsel pintar mereka.

Hal yang demikian sudah menjadi pemandangan yang umum. Bahkan penjual buah di pinggir jalan saja melayani pemesanan via online, yang barangnya akan diantar setelah dibayar terlebih dulu. Di sini, teknologi benar-benar dimanfaatkan untuk memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Memang demikian seharusnya, teknologi diciptakan untuk membantu manusia mengerjakan hal-hal yang semula sulit menjadi lebih mudah. Teknologi dihadirkan di tengah masyarakat untuk mendisain pekerjaan besar yang semula mustahil dikerjakan menjadi bisa terwujud, dan dengan waktu serta biaya terjangkau.

Dalam kajian Sosiologi, ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan untuk membantu manusia dalam memenuhi hajat hidup. Karena itu, kemampuan manusia dari waktu ke waktu dalam menghadirkan teknologi massal terjadi secara bertahap. Demikian terus terjadi hingga hari ini.

Misalnya perkembangan strategi perang, teknologi membuat penyeberangan di sungai, dan ilmu-pengetahuan tentang dunia perbintangan. Semua lahir secara bertahap, seiring dengan kemampuan manusia (user) dalam menjawab kebutuhan hidup. Dengan demikian, bila kehadiran teknologi di tengah masyarakat membawa dampak negatif, maka di sana perlu ada yang harus dievaluasi lagi.

Mari kita mengamati kondisi yang terjadi di tempat terdekat, di sekitar kita masing-masing. Di Indonesia, kita mengeluhkan adik dan anak-anak kita yang sudah kecanduan dengan gadget seperti ponsel pintar, laptop, dan lain peralatan sejenis lainnya.

Namun sayang, barang-barang itu digunakan hanya sebatas untuk permainan, seperti game online dan membaca berita yang tidak penting. Lebih parah lagi, kemudahan teknologi informasi hanya digunakan untuk memfitnah orang lain, menyebar berita palsu, dan membajak karya orang.

Teknologi sejatinya merupakan barang berharga yang bisa melipat-gandakan kerja seseorang. Namun kita harus memastikan bahwa teknologi telah berada di tangan orang yang tepat. Bila sampai salah orang, teknologi justru akan berfungsi sebaliknya. Ia digunakan untuk membuat onar yang bisa meresahkan masyarakat.

Menurut hemat saya, perlu upaya bersama dalam melahirkan masyarakat yang melek-teknologi. Maksudnya, masyarakat yang bisa menggunakan kemudahan teknologi, dan benar-benar menggunakannya untuk hal yang produktif.

Pertama, kita perlu memberi pemahaman kepada masyarakat di sekitar kita (di keluarga, sekolah ataupun forum warga) bahwa dunia ilmu-pengetahuan terus berjalan ke depan. Nanti akan ada peralatan yang lebih canggih lagi, yang tadinya tidak ada menjadi ada. Ke depan akan lahir terobosan-terobosan yang lebih baru lagi, yang semula tidak terfikirkan oleh manusia awam menjadi mewujud di tengah masyarakat.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)