Its My Life

Gadget dan Penjual Sayur

oleh Ali Romdhoni

16 May 2017

iT’s me – Dua hari yang lalu isteri saya pergi berbelanja ke pasar dadakan (semacam pasar rakyat) di Harbin, China. Pasar yang lokaksinya berjarak sekitar satu kilometer dari tempat tinggal kami ini buka di pagi hari, sekitar pukul lima pagi hingga pukul tujuh, sebelum orang-orang berangkat bekerja atau sekolah di pagi hari.

Menurut informasi dari seorang teman, harga barang-barang terutama jenis sembilan bahan pokok (sembako) di pasar ini cukup murah dengan kualitas yang cukup bagus. Dan memang demikian faktanya.

Setelah kembali dari pasar, isteri saya bercerita dan merasa kaget dengan kecakapan para ibu penjual di pasar dalam memanfaatkan kemudahan teknologi. Di pasar itu, pedagang yang berumur lima puluhan tahun (bahkan ada yang lebih sepuh lagi) menjual barang dagangannya dengan model pembayaran online.

Biasanya, mereka memanfaatkan aplikasi untuk transaksi pembayaran jual-beli yang sudah tersedia di ponsel pintar. Jadi, selain menerima pembayaran dengan uang tunai, para penjual di pasar itu juga menerima pembayaran melalui ponsel pintar mereka.

Hal yang demikian sudah menjadi pemandangan yang umum. Bahkan penjual buah di pinggir jalan saja melayani pemesanan via online, yang barangnya akan diantar setelah dibayar terlebih dulu. Di sini, teknologi benar-benar dimanfaatkan untuk memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Memang demikian seharusnya, teknologi diciptakan untuk membantu manusia mengerjakan hal-hal yang semula sulit menjadi lebih mudah. Teknologi dihadirkan di tengah masyarakat untuk mendisain pekerjaan besar yang semula mustahil dikerjakan menjadi bisa terwujud, dan dengan waktu serta biaya terjangkau.

Dalam kajian Sosiologi, ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan untuk membantu manusia dalam memenuhi hajat hidup. Karena itu, kemampuan manusia dari waktu ke waktu dalam menghadirkan teknologi massal terjadi secara bertahap. Demikian terus terjadi hingga hari ini.

Misalnya perkembangan strategi perang, teknologi membuat penyeberangan di sungai, dan ilmu-pengetahuan tentang dunia perbintangan. Semua lahir secara bertahap, seiring dengan kemampuan manusia (user) dalam menjawab kebutuhan hidup. Dengan demikian, bila kehadiran teknologi di tengah masyarakat membawa dampak negatif, maka di sana perlu ada yang harus dievaluasi lagi.

Mari kita mengamati kondisi yang terjadi di tempat terdekat, di sekitar kita masing-masing. Di Indonesia, kita mengeluhkan adik dan anak-anak kita yang sudah kecanduan dengan gadget seperti ponsel pintar, laptop, dan lain peralatan sejenis lainnya.

Namun sayang, barang-barang itu digunakan hanya sebatas untuk permainan, seperti game online dan membaca berita yang tidak penting. Lebih parah lagi, kemudahan teknologi informasi hanya digunakan untuk memfitnah orang lain, menyebar berita palsu, dan membajak karya orang.

Teknologi sejatinya merupakan barang berharga yang bisa melipat-gandakan kerja seseorang. Namun kita harus memastikan bahwa teknologi telah berada di tangan orang yang tepat. Bila sampai salah orang, teknologi justru akan berfungsi sebaliknya. Ia digunakan untuk membuat onar yang bisa meresahkan masyarakat.

Menurut hemat saya, perlu upaya bersama dalam melahirkan masyarakat yang melek-teknologi. Maksudnya, masyarakat yang bisa menggunakan kemudahan teknologi, dan benar-benar menggunakannya untuk hal yang produktif.

Pertama, kita perlu memberi pemahaman kepada masyarakat di sekitar kita (di keluarga, sekolah ataupun forum warga) bahwa dunia ilmu-pengetahuan terus berjalan ke depan. Nanti akan ada peralatan yang lebih canggih lagi, yang tadinya tidak ada menjadi ada. Ke depan akan lahir terobosan-terobosan yang lebih baru lagi, yang semula tidak terfikirkan oleh manusia awam menjadi mewujud di tengah masyarakat.

Karena itu, kewajiban kita sebagai masyarakat adalah memiliki kesiapan untuk menyambut kehadiran temuan-temuan ilmu-pengetahuan modern. Selanjutnya perlu keberanian untuk mempelajari dan menggunakannya. Kalaupun kita tidak berminat untuk mempelajarinya, minimal kita jangan kaget, apalagi menolak dengan sinis.

Saya beberapa kali mendengar ada seorang dosen senior yang enggan beralih menggunakan komputer atau laptop, karena merasa lebih nyaman menggunakan mesin ketik manual. Saya juga pernah menghadapi seorang staf di kantor yang kerjanya sangat lambat dalam mengoperasionalkan komputer. Padahal staf tadi hanya membuatkan surat keterangan barang hilang.

Saya juga prihatin karena beberapa waktu yang lalu masih ada satu komunitas yang melarang member-nya dalam menggunakan teknologi tertentu, dan lain sebagainya. Dalam pandangan saya, sikap menolak kepada satu teknologi mencerminkan kedangkalan berfikir. Hanya karena lebih berfokus melihat kepada sisi negatifnya, akhirnya sisi manfaat yang lebih besar ditinggalkan.

Ada baiknya, dalam melihat teknologi mata dan fikiran kita fokus kepada sisi positifnya. Dengan sikap yang demikian kita berharap sisi negatif teknologi tidak diminati masyarakat.

Kedua, kita perlu membiasakan diri menjadi pribadi yang dinamis, yaitu orang yang mudah beradaptasi dan temuan-temuan baru dalam dunia ilmu-pengetahuan. Dengan sikap ini kita tidak menolak atau sinis dengan teknologi yang baru muncul di tengah masyarakat.

Ketiga, kita tetap perlu waspada dengan kemungkinan efek negatif dari kemudahan teknologi. Tetapi, di sini tidak kemudian anti-pati dan menolak mentah-mentah pengetahuan baru karena alasan dampak negatifnya. Setiap pengetahuan baru selalu memiliki dua sisi, yaitu kelebihan dan kekurangan. Hal ini wajar sekali.

Empat, memilih menjadi orang yang cerdas dengan mengetahui porsi penggunaan sebuah teknologi. Artinya, dalam kondisi normal teknologi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Meskipun demikian, teknologi harus dikuasai oleh orang yang tepat. Kalau teknologi dikuasai oleh orang yang salah, maka kondisinya akan semakin buruk.

Kita perlu belajar kepada masyarakat yang sudah dewasa dalam memanfaatkan kemudahan ilmu-pengetahuan dan teknologi. Wallahu a’lam bis-Shawab.

 

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni