Its My Faith

Filosofi Tirai Bambu dan Hal-hal yang Kita Abaikan

oleh Ali Romdhoni, MA

20 November 2017

iTs’ Me- Ratna Sari Dewi menceritakan fase kehidupannya pasca masa jabatan sang suami sebagai presiden berakhir. Karena perkembangan politik nasional di Indonesia pada tahun 1967, Dewi merasa harus menyingkir ke luar negeri. Belakangan publik mengetahui, perempuan yang lahir di Tokyo pada 6 Februari 1940 ini hidup sebagai seorang pebisnis, seniman dan penulis di Paris, Perancis.

Di Paris, Dewi yang menikah dengan Soekarno pada tahun 1962 ini memulai semua dari awal. Terutama berbekal keuletan dan kerja keras, dia harus memenuhi kebutuhan hidup dan juga membesarkan anak semata wayangnya seorang diri.

“Sungguh, untuk membangun diri, saya bekerja tiga kali lebih keras dari orang lain, dan istirahat lebih sedikit dari orang lain,” kata Dewi menampik anggapan sebagian orang yang menuduhnya hidup serba mudah lantaran berstatus sebagai istri tokoh besar.

“Untuk jatuh sakit saja, saya tidak memiliki waktu,” tegas pemilik nama asli Naoko Nemoto itu.

Cerita Dewi Soekarno itu sekali lagi menyadarkan saya, bahwa selalu ada upaya lebih keras di balik hasil yang lebih baik. Tetapi biasanya orang hanya melihat pada sisi yang tampak. Kita akan mudah iri hati begitu mengerti orang lain berhasil. Sementara bagaimana cara yang sudah mereka tempuh untuk memperoleh keberhasilan, tidaklah begitu menarik.

Kisah ketekunan belajar dan kegigihan bekerja juga saya temukan dalam kebiasaan masyarakat China. Saya menyaksikan sendiri, masyarakat China memiliki durasi belajar dan bekerja lebih panjang dalam setiap harinya.

Menurut pengakuan Sun (24), ketika duduk di bangku sekolah menengah dia harus berangkat ke sekolah pukul 07.00, dan baru pulang ke rumah pada pukul 22.00 malam. Sementara menurut cerita Wang (34), kewajiban sebagai dosen mengharuskan dia baru tidur menjelang pukul 01.00 dini hari, dan sudah bangun pada pukul 05.00 pagi.

Gairah belajar mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi juga begitu terasa. Kegiatan penelitian di laboratorium dan perpustakaan berlangsung sejak pukul 07.00 pagi hingga jam 22.00 malam. Selama itu, ruangan dipenuhi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas-tugasnya.

Bagi mayoritas orang di China, belajar dan bekerja keras sudah menjadi semacam kebutuhan. Bermula dari cara hidup yang demikian pula menjadikan ekonomi di Negara China saat ini maju pesat.

Menurut analisis para ahli, faktor keberhasilan pembangunan ekonomi China antara lain: perencanaan pembangunan jangka panjang yang berkesinambungan, adanya birokrasi yang kuat dan efektif, dan pembangunan dimulai dengan penguasaan ilmu pengetahuan (teknologi) yang dibutuhkan masyarakat (Kompas.com, 14/12/2010).

Selain itu, China juga memiliki sumber daya manusia yang unggul. Dalam pengamatan saya, hingga saat ini masyarakat China hidup dalam batas lingkar budaya dan nilai-nilai dasar bangsa mereka sendiri. Umumnya, orang China sangat rajin dan bekerja dengan disiplin tingkat tinggi.

Satu lagi, negara benar-benar menyaring pengaruh yang datang dari pihak luar, yang memungkinkan bagi masuknya budaya asing yang dikuatirkan bisa merusak cara berfikir masyarakat dan sendi-sendi budaya. Pengaruh itu diduga akan membayakan tatanan (nilai-nilai) yang sudah ada dan sedang dipertahankan oleh pemerintah.

Menurut saya, sebutan sebagai negeri Tirai Bambu bagi China sangat cocok untuk menggambarkan ketakutan yang saya jelaskan di atas. Pemerintah begitu serius menghalangi serangan budaya asing yang berusaha masuk ke China. Pertahanan itu begitu rapat, serapat tirai bambu.

Ketika masyarakat di banyak negara beramai-ramai menginternasionalisasi diri dengan cara hidup dalam budaya dan pengetahuan orang lain, bangsa China justru terdidik untuk semakin bangga menjadi dirinya sendiri.

Bagaimana dengan kita?

Bangsa Indonesia tentu memiliki tata nilai tersendiri sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara, terlebih untuk menjadi bangsa unggul. Namun demikian, masyarakatnya harus mau berbuat sesuatu dan menciptakan peluang agar kuat menghadapi setiap tantangan.

Sehebat apa pun warisan tata nilai yang dimiliki bangsa Indonesia, bila tidak disertai dengan kemauan masyarakatnya untuk kerja keras, maka itu ibarat senjata berkarat yang tersimpan di dalam museum.

Jelas, saya merasa prihatin bila mengetahui perilaku para petinggi di pemerintahan, dan juga gaya hidup generasi muda Indonesia saat ini. Para pejabat tinggi kita gemar bertengkar dengan sesama saudaranya. Jangankan memikirkan kerja-kerja raksasa, mengaspal jalan setapak saja dilakukan dengan curang (membohongi rakyat).

Sementara itu sebagian dari kaum mudanya menjelma menjadi generasi manja. Terlahir di tengah masyarakat yang kurang percaya dengan keadilan, kebenaran, kejujuran dan pentingnya berusaha, menjadikan generasi muda kita hanya menyukai yang serba instan. Mereka tidak mengenal ini, tidak mengerti itu, dan tidak begitu suka melakukan pekerjaan yang memerlukan tenaga atau fikiran.

Bangsa Indonesia memiliki kisah panjang dan berkelok. Sejarah itu harus dibaca oleh para calon pemimpin di masa depan, bila ke depan kita ingin hidup dengan lebih baik lagi. Tanpa mengenal siapa sebenarnya bangsa ini, maka rentan terjebak pada persoalan yang sama.

Padahal bila kita mau menengok ke kanan-kiri sebentar saja, maka di sana kita akan dengan mudah menemukan sekelompok anak muda yang sedang menempa diri, bersiap menjadi kompetitor kelas dunia.

China, misalnya, dengan dasar filosofi perang ala Sun Zi telah mempelajari strategi tingkat tinggi dalam mengenali (kekuatan-kelemahan) diri, mengetahui lawan, dan bahkan sampai berfikir bagaimana bisa menaklukkan lawan tanpa melalui pertempuran.

Di era modern sekarang ini, seni perang Sun Zi diaplikasikan dalam pendidikan karakter perorangan, persaingan bisnis, hingga politik diplomasi lintas negara.

Saat ini negara yang pada tahun 1927 hingga 1950 dilanda perang saudara itu telah menuntaskan proyek-proyek raksasa, yang orang lain bahkan belum memikirkannya.

China telah meluncurkan jalur kereta cepat yang menembus batas wilayah, negara bahkan benua. Proyek raksasa itu membentang panjang, dari Stasiun Kereta Api Barat Yiwu di Provinsi Zhejiang, China Timur, menuju Barking, London, Inggris. Jalur kereta itu melewati jarak lebih dari 7.400 mil (lebih dari 11.840 km) dengan waktu tempuh 18 hari. Tidak tanggung-tanggung, rute ini melewati Kazakhstan, Rusia, Belarus, Polandia, Jerman, Belgia, Perancis, hingga London, ibu kota Inggris (Kompas.com, 03/01/2017).

Mengetahui perkembangan seperti itu, saya merasa miris (sedih; prihatin). Bagaimana dengan perilaku orang-orang di negeriku. Mengapa masyarakatku masih berjalan di tempat. Dunia pendidikannya hanya bongkar pasang kurikulum. Para politisinya (maaf) ‘membusuk’. Sementara para agamawan dan pemikirnya merosot, mereka memperdebatkan persoalan yang mestinya sudah selesai.

Mengenai pengelolaan pendidikan, misalnya. Boleh saja kita mengidolakan sistem yang dipakai oleh satu negara. Tetapi ingat, setiap negara memiliki kultur dan mimpinya sendiri. Kembalilah kepada akar persoalan dan kebutuhan bangsa ini. Setelah itu, sepakati bersama satu sistem pengelolaan pendidikan yang akan kita gunakan secara berkelanjutan untuk membangun bangsa ini.

Bila kita masih suka bongkar-pasang program, yang terjadi adalah hilangnya out-put pembangunan yang kita laksanakan. Rivalitas dalam berpolitik jangan sampai mengalahkan akal sehat, sehingga membabat habis kebaikan pihak lain.

Sudah sangat mendesak, mari bersatu untuk bangsa Indonesia. Berhentilah merobek persatuan bangsa hanya karena ambisi kekuasaan. Lawan-lawan kita terlalu kuat, terlebih lagi untuk menerkam bangsa yang tercerai-berai.

Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.