iTs’ Me- Ratna Sari Dewi menceritakan fase kehidupannya pasca masa jabatan sang suami sebagai presiden berakhir. Karena perkembangan politik nasional di Indonesia pada tahun 1967, Dewi merasa harus menyingkir ke luar negeri. Belakangan publik mengetahui, perempuan yang lahir di Tokyo pada 6 Februari 1940 ini hidup sebagai seorang pebisnis, seniman dan penulis di Paris, Perancis.

Di Paris, Dewi yang menikah dengan Soekarno pada tahun 1962 ini memulai semua dari awal. Terutama berbekal keuletan dan kerja keras, dia harus memenuhi kebutuhan hidup dan juga membesarkan anak semata wayangnya seorang diri.

“Sungguh, untuk membangun diri, saya bekerja tiga kali lebih keras dari orang lain, dan istirahat lebih sedikit dari orang lain,” kata Dewi menampik anggapan sebagian orang yang menuduhnya hidup serba mudah lantaran berstatus sebagai istri tokoh besar.

“Untuk jatuh sakit saja, saya tidak memiliki waktu,” tegas pemilik nama asli Naoko Nemoto itu.

Cerita Dewi Soekarno itu sekali lagi menyadarkan saya, bahwa selalu ada upaya lebih keras di balik hasil yang lebih baik. Tetapi biasanya orang hanya melihat pada sisi yang tampak. Kita akan mudah iri hati begitu mengerti orang lain berhasil. Sementara bagaimana cara yang sudah mereka tempuh untuk memperoleh keberhasilan, tidaklah begitu menarik.

Kisah ketekunan belajar dan kegigihan bekerja juga saya temukan dalam kebiasaan masyarakat China. Saya menyaksikan sendiri, masyarakat China memiliki durasi belajar dan bekerja lebih panjang dalam setiap harinya.

Menurut pengakuan Sun (24), ketika duduk di bangku sekolah menengah dia harus berangkat ke sekolah pukul 07.00, dan baru pulang ke rumah pada pukul 22.00 malam. Sementara menurut cerita Wang (34), kewajiban sebagai dosen mengharuskan dia baru tidur menjelang pukul 01.00 dini hari, dan sudah bangun pada pukul 05.00 pagi.

Gairah belajar mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi juga begitu terasa. Kegiatan penelitian di laboratorium dan perpustakaan berlangsung sejak pukul 07.00 pagi hingga jam 22.00 malam. Selama itu, ruangan dipenuhi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas-tugasnya.

Bagi mayoritas orang di China, belajar dan bekerja keras sudah menjadi semacam kebutuhan. Bermula dari cara hidup yang demikian pula menjadikan ekonomi di Negara China saat ini maju pesat.

Menurut analisis para ahli, faktor keberhasilan pembangunan ekonomi China antara lain: perencanaan pembangunan jangka panjang yang berkesinambungan, adanya birokrasi yang kuat dan efektif, dan pembangunan dimulai dengan penguasaan ilmu pengetahuan (teknologi) yang dibutuhkan masyarakat (Kompas.com, 14/12/2010).

Selain itu, China juga memiliki sumber daya manusia yang unggul. Dalam pengamatan saya, hingga saat ini masyarakat China hidup dalam batas lingkar budaya dan nilai-nilai dasar bangsa mereka sendiri. Umumnya, orang China sangat rajin dan bekerja dengan disiplin tingkat tinggi.

Satu lagi, negara benar-benar menyaring pengaruh yang datang dari pihak luar, yang memungkinkan bagi masuknya budaya asing yang dikuatirkan bisa merusak cara berfikir masyarakat dan sendi-sendi budaya. Pengaruh itu diduga akan membayakan tatanan (nilai-nilai) yang sudah ada dan sedang dipertahankan oleh pemerintah.

Menurut saya, sebutan sebagai negeri Tirai Bambu bagi China sangat cocok untuk menggambarkan ketakutan yang saya jelaskan di atas. Pemerintah begitu serius menghalangi serangan budaya asing yang berusaha masuk ke China. Pertahanan itu begitu rapat, serapat tirai bambu.

Ketika masyarakat di banyak negara beramai-ramai menginternasionalisasi diri dengan cara hidup dalam budaya dan pengetahuan orang lain, bangsa China justru terdidik untuk semakin bangga menjadi dirinya sendiri.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)