Its NOT Me

Fiksi atau Fakta, Gak semua yang lo baca dan dengar itu benar

oleh DerielHD

13 April 2018

Mungkin sudah suratan takdir untuk masyarakat negeri ini, dimana masyarakat selalu dijadikan alat atau dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk meraih mimpi pribadi mereka. Tidak sedikit berita-berita bohong atau hoax yang berseliweran di dunia maya, yang diproduksi oleh oknum-oknum tertentu, dibiayai oleh oknum tertentu, dan tentunya dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu. Saya harap kita semua tidak lupa dengan pilkada DKI kemarin, bagaimana berita bohong menjadi ‘pahlawan’ yang ikut andil dalam memberikan kemenangan kepada pemimpin yang sekarang. Mayat menjadi ‘jualan’, ayat-ayat suci Tuhan dicampur adukkan dengan politik, kebenaran dan fakta diputar balikkan.

Sangat disayangkan memang, ketika semuanya harus terungkap dengan ditangkapnya oknu-oknum yang menyediakan jasa pembuatan dan penyebaran hoax. Saracen, MCA, dan masih banyak lagi komunitas lainnya yang menghidupi diri mereka dari hasil membuat berita bohong. Ratusan ribu akun media sosial dibuat, blog-blog atau website gak jelas bermunculan, menyebarkan berita-beriita palsu, menyerang pemimpin petahana, dan menebarkan kegelisahan di hati masyarakat yang masih polos dan mudah terpengaruh.

baca juga : Kitab suci, bukan novel fiksi

Sobat, nggak semua yang kita baca dan dengar itu adalah kebenaran atau fakta. Apalagi di masa kini yang perkembangan dunia teknologi berkembang dengan begitu cepat. Akses informasi terbuka dengan sangat lebar. Dengan teknologi dan internet yang mudah diakses, siapa saja bisa mendapatkan informasi apa saja, tidak perduli apakah itu hal yang benar ataukah kebohongan. Dengan teknologi, semua yang benar bisa menjadi bohong, demikian juga sebaliknya. Bayangkan saja, seberapa banyak dari kita yang menggunakan media sosial yang kemudian menerima sebuah informasi dan langsung membagikannya tanpa membaca dengan detil informasi tersebut, dan tanpa mencari tahu kebenaran dari informasi itu? Kita hanya membaca judulnya yang provokatif, pikiran kita terprovokasi, kemudian jempol kita dengan cepatnya membagikan informasi itu dengan asumsi bahwa informasi itu berguna bagi orang lain. Padahal, bisa saja informasi tersebut malah menimbulkan hal negatif yang tidak kita sadari.

Contoh, ada seorang teman di media sosial yang senang sekali membagikan informasi yang menurut dirinya menarik. Kalau tidak salah informasi yang terakhir disebarkan adalah mengenai hutang negara Indonesia yang sudah mencapai Rp. 4000T, dengan disertai kata-kata yang memberi kesan bahwa pemimpin yang saat ini adalah pemimpin yang banyak hutangnya. Entah berita itu dia ambil darimana, entah dia mengerti soal hutang negara atau juga mengenai perekonomian negara atau tidak, dan saya yakin bahwa dia tidak membaca keseluruhan informasi tersebut, jempolnya dengan santai membagikan itu.

baca juga : Kamu golongan islam mana?

Sobat, informasi itu penting bagi kehidupan kita. Dari sejak jaman dahulu kala, semua manusia saling bertukar informasi dengan tujuan untuk saling mengenal dan saling memberikan edukasi yang bermanfaat bagi sesama. Akan tetapi, sekali lagi saya mau katakana bahwa tidak semua informasi itu adalah sebuah kebenaran. Informasi itu baik, tetapi belum tentu berguna. Kita harus benar-benar bijaksana dalam menerima dan membagikan setiap hal yang kita terima. Ingat, bahwa semua orang yang dengan atau tanpa sengaja terbukti menyebarkan berita bohong atau hoax, akan ditindak sesuai hukum dan undang-undang yang berlaku. Teliti dahulu setiap informasi yang kita terima, bacalah, dan cobalah untuk memahami dengan mencari tahu kebenarannya, kemudian jika kita menemukan bahwa informasi itu berguna bagi orang lain, barulah kita bisa membagikannya. Ingat, sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat yang baik bagi sesamanya.

*diambil dari berbagai sumber

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis