iT’s me – Sejak anak pertama saya lahir, saya sering bertugas di luar daerah. Saya pergi beberapa hari, terkadang hingga lebih dari seminggu. Berangkat ke tempat kerja sebelum anak bangun dari tidur, pulang kerja pada malam harinya ketika si kecil sudah tertidur pulas. Saya pernah berfikir, kenapa musti menjalani proses yang seperti itu.

Dalam artikel ini saya ingin berbagi pengalaman, ketika saya memilih mengajak serta isteri dan anak-anak untuk belajar di luar negeri. Saya juga akan sedikit menceritakan kehidupan keluarga orang-orang yang saya kagumi, terutama keberhasilannya dalam memposisikan diri sebagai orang tua dan guru bagi anak-anaknya.

Saya memulai dari kisah ketika menempuh studi magister di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat itu, pada pergantian tahun 2006-2007, hanya berselang dua mingga setelah hari pertama aktif kuliah saya melangsungkan akad nikah. Dengan status sebagai mahasiswa pascasarjana, saya memutuskan untuk mengajak serta isteri untuk menetap di ibu kota.

Kepada saya ada yang menasehatkan supaya isteri tetap tinggal di daerah, sementara saya fokus kuliah. Namun ada lebih banyak lagi teman yang menguatkan, agar saya mengajak serta isteri dan bersama-sama belajar (dalam arti yang lebih luas).

Begitu pun ketika saya hendak menempuh studi doktoral di Heilongjiang University China, pada Agustus 2016, saya dihadapkan pada dua pilihan. Mengajak serta isteri dan anak-anak untuk hijrah-studi, atau kuliah sementara keluarga tetap berada di Indonesia.

Sebagai kepala rumah tangga, saya ingin senantiasa berada di tengah keluarga. Saya kemudian mempelajari kemungkinan dan strategi untuk mengajak serta keluarga untuk studi di negeri orang. Tidak lupa, saya meminta saran dan belajar dari pengalaman orang-orang yang saya andalkan.

Selama proses itu, ada satu statement dari seorang teman yang memantapkan saya agar mengajak serta isteri dan anak-anak studi di luar negeri. “Jangan hanya ayahnya, ibu dan anak-anaknya juga perlu merasakan belajar di luar negeri…,” kata teman tadi menyemangati.

Sudah pasti, ada juga orang yang melihat tema pembicaraan di atas dengan pesimisme. Tetapi, tidak usahlah saya tulis ditail di sini. Lebih baik saya melanjutkan dengan berkisah mengapa saya memilih mengajak keluarga, dan langkah-langkah yang saya tempuh.

Mengenai faktor yang mendorong saya untuk mengajak serta keluarga selama belajar di luar negeri, sebenarnya lebih kepada keinginan untuk bersama keluarga dan hadir dalam proses pendidikan si buah hati. Saya menandai, orang-orang yang berhasil menjadi ‘besar’ mereka tidak hanya berkontribusi di dalam pergaulan sosial, tetapi juga hadir di tengah keluarga sebagai seorang ayah dan guru sekaligus bagi putera-puterinya.

Hal ini saya ungkapkan dalam tulisan ini sebagai bentuk lain dari doa kebaikan yang saya lantunkan. Iya, saya ingin meneladani orang-orang besar yang saya idolakan, untuk selanjutnya berbagi pengalaman kepada pembaca yang budiman.

Ijinkan saya menyebut dua tokoh yang relevan dengan pembicaraan di atas. Saya tidak bermaksud menafikan keberadaan tokoh lain yang memiliki kapasitas sama, ketika tidak saya singgung di sini.

Pertama, KH. Zubair Dahlan dari Sarang, Rembang, Jawa Tengah (w. 1960-an). Tokoh ini merupakan ayah dari KH. Maimoen Zubair, figure sentral di Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang. Dalam penelusuran saya, KH. Zubair kelak berhasil melahirkan kiai-kiai yang berpengaruh di masyarakat pada masa berikutnya.

KH. Sahal Mahfudh Kajen, Pati, Jawa Tengah dan KH. Dimyati Rois Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah adalah dua diantara kiai-kiai yang pernah berguru kepada KH. Zubair. Saya memperoleh informasi mengenai riwayat pendidikan pesantren KH. Sahal di Sarang dari berbagai sumber, terutama ketika terlibat dalam penulisan buku fikih sosial, beberapa tahun yang lalu. Sementara keterangan mengenai hubungan guru-murid antara KH. Zubair dan KH. Dimyati saya mendengar langsung, ketika pada awal 2017 saya berkunjung ke kediaman KH. Dimyati di Kaliwungu.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)