IT’s Me- Tidak ada yang tahu esok akan jadi apa, akan seperti apa nasib kedepan juga masih menjadi pertanyaan. Saya bukan pegawai Negeri Sipil yang kata orang memiliki jaminan masa tua secara finansial, entah masih seperti katanya atau justru sama saja dengan saya. Kadang saya ragu dengan skill sendiri, saya tidak tahu apakah skill saya sekarang mampu memenuhi kebutuhan kedepan. Dan saya tidak tahu sampai kapan keberuntungan hari ini akan bertahan, dengan pekerjaan saat ini saya sagat bersyukur, tidak semua orang bisa seberuntung saya. Pekerjaan yang tidak hanya berbicara soal hal-hal dunia tetapi juga soal moral, hubungan sesama manusia dan Tuhan, baik untuk diri saya dan sekitar saya. Dari pekerjaan ini juga saya bisa merasa lebih baik di banding sebelumnya, baik secara prilaku dan finansial, sangat jarang pekerjaan yang memperhatikan kepribadian karyawannya.

Kenapa saya bilang beruntung, karena tidak sedikit teman-teman yang “irih” dengan pekerjaan saya. Saya hanya duduk di depan laptop, bisa kerja di mana saja yang saya inginkan asal ada jaringan internet. Sedang mereka harus menguras tenaga dan pikiran, bahkan ekstra. Dan mereka yang yang sudah jelas-jelas pegawai Negeri Sipil kadang ingin punya pekerjaan seperti saya, entah apa yang mereka pikirkan. Tetapi beginilah saya sekarang, memang jalan hidup sudah di atur oleh Tuhan Yang Maha Esa, saya hanya perlu terus bersyukur dan menjalaninya dengan penuh tanggungj jawab. Meskipun begitu, rasa khawatir masih saja menghantui tentang apa yang harus saya lakukan jika pekerjaan yang saya tekuni suatu hari terhenti, apakah saya bisa bertahan, entahlah.

Saya yakin, kalian yang membaca tulisan ini pernah merasakan sama. Ketakutan pasti ada, begitulah kehidupan. Kadang saat keadaan berubah derastis kita pun ikut berubah, entah itu secara mental dan gaya hidup. Saat masih sukses di plan A, tidak pernah berpikir akan plan B, sehingga ketika plan A berhenti secara tiba-tiba, kemudahan dan kesuksesan hilang barulah panik, seperti yang saya rasakan, meskipun belum terjadi. Tetapi situasi ini adalah warning buat saya atau bahkan buat kalian, jika merasa sementara mengalami situasi yang sama. Maka persiapkan sesuatu yang bisa menunjang plan B, sehinga kedepan jika keberuntungan mulai hilang semua bisa teratasi.

Tidak ada yang kekal di dunia ini, maka kita di anjurkan untuk mempersiapkan hari akhir, begitupun dengan pekerjaan di dunia ini. Saya sadar bahwa tidak selamanya saya kan berada di zona mudah, kesulitan pasti sudah menanti. Maka sebelum kesulitan itu datang, sebaiknya saya persiapkan sesuatu yang bisa menopang kehidupan kedepan tetap berlanjut, apalagi jika sudah berumah tangga, harus benar-benar di perhatikan. Saya tidak ingin lengah, setidaknya dengan peka akan situasi sendiri bisa membuat kesulitan selanjutnya berkurang, daripada tidak berkurang sedikit pun. Kehidupan ini bisa berjalan karena adanya topangan dari upah yang di dapatkan dari perkejaan masing-masing. Saya tetap yakin jiwa perantau saya tidak akan benar-benar melemahkan saya, apalagi sampai ketakutan membuat saya tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, bagaimana dengan kalian yang masih bergantung kepada orangtua dan tinggal di bawah ketiak orangtua, tidakkah kalian khawatir? Sampai kapan bisa yakin akan Tuhan tetapi tidak melakukan apapun, atau menunggu sampai keyakinan itu di telan kenyataan!