Its My Life

Disurabaya si cendrawasih di lukai

oleh arpan

2 September 2019

Cenderawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Mereka ditemukan di Indonesia timur, pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur. Burung anggota keluarga ini dikenal karena bulu burung jantan pada banyak jenisnya, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya. Ukuran burung Cenderawasih mulai dari Cenderawasih raja pada 50 gram dan 15 cm hingga Cenderawasih paruh-sabit Hitam pada 110 cm dan Cenderawasih manukod jambul-bergulung pada 430 gram.

pada pagi hari di tanggal 10 november 74 tahun silam , dikota yang kini dikenal sebagai awal mula kerusuhan rasial di Papua , ada seorang pemuda berusia 25 tahun dengan lantangnya memilih untuk melawan daripada menyerah dengan penjaajah bukan dengan senjata dia melawan namun dengan pidato berapi – api dari radio yang baru didirikannya belum genap sebulan.

Karena pidatonyalah , bendera putih tidak berkibar cepat diatas langit kota Surabaya dan bangsa Eropa yang datang untuk menjajah kembali harus menunda euforia kemenangannya .

Merdeka atau mati itu lah yang di teriakkan ,persatuan setiap kelompok untuk pertahanan adalah hal lain yang dianjurkannya

Sontak pertempuran pun pecah dan tentara Inggris yang kala itu diboncengi oleh Nica Belanda yang sama – sama memiliki senjata modern butuh waktu 3 Minggu lebih 3 hari menaklukan Surabaya meskipun akhirnya surabaya takluk namun inggris dan Belanda harus merayakannya dengan kepala nunduk .

Ya Surabaya sudah membuktikan dirinya dengan sebaik – baiknya perlawannya dan kalah dengan sehormat – hormatnya.

Pasca perstiwa itu kota Surabaya menjadi icon ideologis semangat kepahlawanan di seluruh Indonesia dan peristiwa itu kita peringati setiap tahun setelahnya sebagai hari pahlawan dan pemuda 25 tahun tersebut kita kenal sebagai bung tomo

Namun 74 tahun kemudian di kota yang dahulu di pertahankan mati – matian oleh si bung lewat gelora pidato persatuannya justru harus menjadi kota tempat awal mula persatuan kebhinekaan itu dirusak.

Di tengah gegap gempita perayaan 74 tahun republik kesatuan ini , sekelompok orang dengan nasionalisme sempit yang melupakan Trias humanika dimana harusnya sadar akan keseimbangan antara manusia , kemanusiaan ,dan keadilan dengan seenaknya menyamakan orang Papua dengan monyet, hanya karena persoalan bendera.

Terlepas dari siapa yang salah , ungkapan rasis sudah terlanjur masuk ke hati masyarakat Papua yang selama ini termarjinalisasi dan jelas kata maaf idak cukup untuk mengobati sakit hati kolektif yang dialami saudara kita dipapua .

Kasus rasisme yang terjadi di kota pahlawan tersebut pada akhirnya sukses membuka kotak Pandora aspirasi masyarakat Papua untuk merebut kedaulatannya ,kemerdekaannya , dan mempertanyakan kesetaraannya di negara kesatuan ini .

Terlepas dari ada tidaknya oknum yang menggerakkan aksi ini , kita sebagai masyarakat indonesia dari ras non Melanesia tentunya harus bersimpati melampaui formalitas dan mulai mempertanyakan apa dan kenapa hal ini bisa terjadi , di kota yang seharusnya menjadi simbol ideologis kepahlawan ?

Tentunya sangat ironis , cendrawasih dilukai di tanah para pahlawaan dari dalam liang kubur mungkin mereka yang berjuang sampai mati mempertahankan kota Surabaya juga bersedih ada saudara sebangsa yang dihinakan oleh bangsanya sendiri , diatas kota yang dibangun di atas pengobatan jiwa dan raga manusia dari berbagai golongan .

Lingkaran kolonialisme seakan belum habis di bumi Nusantara yang katanya kesatuan bahkan di kota yang katanya disebut kota pahlawan ,tidak hanya di tempat tersebut bahkan di belahan lain di indonesia sampai hari ini kita masih gagap dalam mempraktikkan hidup dalam perbedaan yang selaras ,harmonis , adil , dan saling melindungi .

Dikotomi inferior dan superior memang tidak secara nyata kita ciptakan dalam bentuk aturan sebagaimana Belanda dahulu menyamakan pribumi dengan anjing namun secara tersirat itu terus tumbuh dalam pikiran pikiran kita dan dari sanalah pembenaran terhadap rasisme selalu terjadi.

Cendrawasih yang terluka akankah sembuh untuk terbang terpisah dengan Garuda atau tetap bersama Garuda , adalah tugas kita sebagai generasi penerus bangsa untuk memastikannya .

-mansurni abadi-

arpan