Its My Life

Dibalik Pendidikan Pulau Dudepo

oleh arpan

27 October 2018

“pendidikan harus berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri… sistem pendidikan harus menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat manusia…“ Paulo Freire

“Pendidikan adalah senjata paling mematikan karena dengan itu anda dapat mengubah dunia…” Nelson Mandela

Telah datang waktu berkumpulnya para martir untuk mendedikasikan hidupnya pada pendidikan. Bulan ini cuaca tak bersahabat. Ombak seakan marah mendobrak batu dipinggir pantai. Angin kencang menambah terror lautan. Pemberani tetap akan pergi, pantang pulang sebelum berjuang. Inilah tantangan mengajar dipulau. Mengarungi lautan dan ancaman dalamnya biru lautan. Namun bagi pejuang, badai hanyalah hiburan. Pertemuan akan dilaksanakan. Sebab, rindu dengan anak-anak adalah hutang yang harus dibayar. Romantisnya anak-anak itu, hampir tiba perahu dibibir pantai pulau dudepo mereka membentuk barisan penyambutan. Bagi setiap guru yang baru datang, tak ada alasan untuk tidak jatuh cinta. Puluhan anak-anak akan menggandeng setiap tangan guru yang turun dari perahu. bahkan sampai rebutan, berlomba mendapatkan tangan guru. Mungkin yang mereka pahami, ditangan guru terdapat sumber pencerahan untuk masa depan.

Mengajar adalah kegiatan utama, di sekolah, teras rumah, masjid hingga bukit. Di sekolah mereka membantu para guru sekolah untuk memberi pendidikan. Di teras rumah ada pelajaran tambahan dengan sentuhan sedikit permainan. Di masjid, tentu sebagai tempat ibadah dan pendidikan religius. Sedang di bukit ada pelajaran untuk anak-anak lebih menghargai alam buatan Tuhan. Tentu, anak-anak Dudepo lebih mengetahui alam dibanding kita yang sebagian anak perkotaan yang hidup dengan modernitas.

Diwaktu malam selepas mengajar ada hal yang membuat semua guru relawan hidup tenang. Berbaring diatas bukit hijau memandangi langit yang ditaburi gugusan bintang. Pemandangan yang jarang ketika di kota. Tak hanya bintang malam, lautan juga terlalu indah untuk dilewatkan. Melihat perahu nelayan mencari kehidupan ditengah lautan. Cahaya perahu yang berkedip nampak jauh di lautan sana adalah warna masyarakat dudepo yang sebagian besar bergantung pada lautan.

Pendidikan adalah solusi untuk kesejahteran masyarakat. Akan baik suatu peradaban apabila masyarakatnya mendapatkan pendidikan yang baik. Akan tetapi ada banyak hambatan dalam proses pendidikan di pelosok. Kurangnya fasilitas yang mendukung pembelajaran. Fasilitas yang mampu mengembangkan potensi kecerdasan murid. Selain fasilitas sekolah, akses untuk pergi kesekolah juga menjadi hambatan. Khusus untuk anak-anak yang menjenjang pendidikan di sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk pergi kesekolah mereka harus berjalan kaki selama satu satu setengah jam bahkan sampai dua jam. Terkadang mereka terlambat karena jalan yang dilaluinya penuh dengan lumpur dan juga harus melewati beberapa bukit. Kekurangan ini yang menjadi tantangan bagi kita. Meski tidak seutuhnya mengimplementasikan pendidikan kota di pulau kita dapat mengembangkan pendidikan bersifat cultural.

Permasalahan pendidikan di pulau dudepo tidak hanya pada fasilitas yang tidak mendukung melainkan juga pada masyarakat atau orang tua dari murid. Awalnya sebagian masyarakat masih bersifat pragmatis yang menganggap pendidikan bukan faktor utama dalam kehidupan. Sebagian orang tua masih berorientasi pada kehidupan mencari uang. Anak-anak yang harusnya sekolah lebih baik bekerja membantu orang tua mencari uang. Seperti itu sebagian pandangan orang tua disana. Setelah Nusawarna datang, perlahan-lahan mampu mengikis pandangan pragmatis dari orang tua itu. mereka mulai sadar bahwa pendidikan sangat penting hingga bersekolah dan belajar menjadi prioritas untuk anak mereka.

Antusias masyarakat sangat membantu kami dalam mengajar disana. Dibangunlah untuk kami sebuah kelas yang berukuran kecil di atas tanah mereka sendiri. Kelas ini yang nantinya mmenjadi ruang mimpi. Begitulah kami menyebutnya. Sebab, kelas inilah yang menjadi tempat inspiratif untuk anak-anak dalam menggapai cita-itanya. Dikelas ini juga tempat kami berkreasi memberi pelajaran.

Kini dengan adanya anak muda yang menjadi relawan pengajar di pulau dudepo masalah pendidikan sedikit teratasi. Sedikit demi sedikit masyarakat merasakan keadilan. Meski tanggung jawab besar dalam pendidikan di pelosok adalah pemerintah akan tetapi anak muda ini menjadi salah satu solusi untuk pemerintah itu sendiri. Menjadi guru dipelosok juga membuat kita sadar. Pengetahuan bukan hanya membimbing menjadi manusia cerdas tapi juga menjadi cahaya. Dan kitalah yang membawa cahaya itu, cahaya yang dapat mengatasi permasalah rakyat kita. Inilah alasannya anak muda harus berani mengambil langkah sebagai pejuang. Anak muda yang peduli akan pendidikan, peduli terhadap kaum yang termarjinalkan. Tanpa peranan anak muda akan sulit membawa cahaya.

Lambaian tanganku iringi laju perahu. Baling-baling perahu berbentur arusnya ombak. Angin laut menerbangkan buih yang melayang tertabrak badan perahu. Diantara mangrove sebagian pasukan kecil menampakkan punggung dan menutup telinga menolak suara perpisahan kami. Mereka menyembunyikan mata yang basah dan membiaskan haru. Sedih ditinggal oleh guru-guru yang mengukir kenangan selama seminggu di pulau dudepo. Bagi setiap anak di pulau dudepo, kehadiran guru adalah obsesi kesuksesan dimasa depannya. Bagi mereka guru adalah orang-orang yang tercerahkan dan membawa cahaya pada kegelapan pengetahuan di pulau. Jelang malam, senja bertemu di pelabuhan. Perahu yang kami tumpangi bersandar di dermaga Anggrek. Jangkar perahu dilempar ke laut dan perlahan guru-guru turun dari perahu yang ditumpangi. Senja yang indah berubah haru perpisahan. Perlahan warna jingga mulai memudar karena gelap malam akan datang. Perahu tumpangan kami mengangkat jangkar dan memutar balik. Tampak beberapa pasukan hebat kecil berdiri diperahu sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Kurasa itu senyum palsu, jelas matanya berseri. Dalam hati pasti berkata akan rindu harap guru lekas bertemu. -Surya-

arpan